<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732</id><updated>2011-07-28T21:48:44.897-07:00</updated><title type='text'>LIMPAPEH RUMAH GADANG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7323209225748347769</id><published>2010-06-21T16:59:00.000-07:00</published><updated>2010-06-21T17:13:14.277-07:00</updated><title type='text'>PINTARNYA NATO DOANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai hari ini 22 Juni 10, tidak ada yang istimewa, masih diwaranai oleh tiga mata sorotan media, piala dunia, kekayaan Gayus dan skandal berzinaan artis Luna Maya, Ariel dan Cutari. Tapi aneh, yang paling mendominasi dari tiga itu diberitakan adalah piala dunia, orang Indonesia mendadak jadi teu dari perjalanan “agama bola ini “ (meminjam istilah dosen saya). Malahan betul-betul s0k teu, dimedia-media mereka membuat analisis dan prediksi. Mendadak menjadi sok pintar bola, pada hal dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, mencari 11 penedang bola aja tidak mampu, tapi komentatarnya dan analisisnya sangat jitu. Wajar orang Indonesia ini “pintar omong” atau nato alias&lt;span style="font-style: italic;"&gt; no action talk only&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau baca-baca api sejarah yang ditulis oleh Ahmad Mansyur Suryanegara, ternyata ke nato an orang Indonesia, sangat dipelihara oleh kompeni. Bahkan sampai saat ini terpelihar, hanya pintar heboh, pintar oceh. Bahkan kata Suryanegara, saking terpeliharanya kepintaran oceh itu, orang Indonesia tidak sadar sejarahnya sendiri dibengkokkan dan dimanipulasi. Bayangkan saja, masalah hari pendidikan misalnya, mengapa tanggal 2 diperingati konon kabarnya diambil dari hari kelahiran Ki Hadjar Dewantoro, hanya sebagai pembuat perkumpulan kebatinan yang bernama Seloso Kliwon, sedangkan KH Ahmada Dahlan sudah lebih terkenal dengan pergerakannya sebagai pelopor pendidikan, dan tersebar diberbagai daerah. Mestinya hari kelahiran Ahmad Dahlan yang menjadi hari pendidikan 18 November. Kita hanya semua mampu mengamiini, sekarang  hanya pintar buat sensasi dan tak pintar action. Inilah cara kompeni yang masih mendominasi sehingga  orang Indonesia secara mentalitas masih Inlander.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Nadak percaya, kita masih nato! Simak aja dunia hari-hari di sini!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7323209225748347769?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7323209225748347769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7323209225748347769&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7323209225748347769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7323209225748347769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2010/06/pintarnya-nato-doang.html' title='PINTARNYA NATO DOANG'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7673760246820830605</id><published>2010-06-19T18:59:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T19:03:12.445-07:00</updated><title type='text'>UJI NYALI</title><content type='html'>Heboh, hingar bingar, hiruk pikuk bagikan pantai dihempas ombak, begutulah Indonesia saat ini. Media menjadi ombak yang memacah kesunyian pantai. Apa saja terbetik dihempaskan apa saja tecium diriakan, pokoknya menjadi berita. Kali ini memang hangat dan sangat uji nyali untuk mengapresiasinya. Apa itu kalau bukan Video panasnya Lunay Maya-Ariel-Cutari. Seleberiti yang tersebar dengan luas keganasan adegan “kasur”nya. Sial, kalau itu benar, berarti perzinaan sudah “mak nyus” dilakukan di negeri ini. Wajar juga data aborsi di Indonesia mencengangkan, dimana 2,6 juta orang di negeri ini melakukan aborsi pertahunnya. Sebuah tindakan paradok di negeri yang beragama. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7673760246820830605?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7673760246820830605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7673760246820830605&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7673760246820830605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7673760246820830605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2010/06/uji-nyali.html' title='UJI NYALI'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1790881680997198309</id><published>2010-06-18T16:48:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T16:50:10.550-07:00</updated><title type='text'>TERHANUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibarat perang Indonesia sekarang sedang terhanus oleh pedang samurai sang “Gayus”. Seorang anak muda yang bergolongan tiga “a” memiliki kekayaan melebihi presidennya. Tabungan, deposito, saham dan kekayaan atas namanya terserbar dimana-mana. Mendadak kaya memintal aset negara melalui pembajakan di pajak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dicoba dikakulasikan, sampai 19 Juni 2010 tabungan “Gayus” sudah terungkap mencapai 100 miliar rupiah, jumlah aduhai buat seorang golongan tiga. Malahn polisi masih mencium ada indikasi lagi tabungan “Gayus” di simpan di bank. Aduhai “Gayus”. Laga-lagi kita tercenung oleh keraiban uang negara ke dalam lembah-lembah kerakusan. Sementera di di dunia nyata, masyarakat Indonesia menjerit “kantong kosong” menjerit “perut kosong” menjerit tak berdaya, tapi sang “Gayus” dan Masternya berpesta pora dengan kekayaan curiannya. Mereka bisa piknik keluar negeri tiap sebentar, naik mobil mewah kemana-mana, punya rumah disetiap daerah bahkan negara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Realitas yang tersengsara, mereka hidup di kolong jembatan, di tepi bantaran kereta api, di tepi sungai yang kotor, di pinggir onggokan sampah, berkuras mencari reski tanpa mengenal jati diri, hanya “disegari” oleh janji-janji menjelang pemilu di gelar dengan menghangatnya perkataan “wong cilik” yang tak pernah di melek-an hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1790881680997198309?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1790881680997198309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1790881680997198309&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1790881680997198309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1790881680997198309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2010/06/terhanus.html' title='TERHANUS'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3755873131844246640</id><published>2010-06-18T04:03:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T04:05:18.686-07:00</updated><title type='text'>HARI-HARI YANG REMUK</title><content type='html'>Tak tahu, menyebut apa lagi tentang Indonesia yang sedang berubah ini. Ibarat seekor burung sayapnya kini sedang patah dan terkulai lemas oleh kedahsyatan sentrum-sentrum yang sengatan liar yang tak kunjung selesai. Century  yang sempat memanas dengan kasus raibnya uang negara 6,7 triliyun rupiah kini tenggelam dalam hingar bingar kasus yang lain. Penyelesaiannya yang sempat populis di tangan para wakil rakyat ternyata berakhir dalam ambigu seribu satu kepentingan. Sri Mulyani sebagai menteri keuangan akhirnya memilih jalan bijaksana meninggalkan kasus ini bergulir dalam bola-bola panas. Say good bye...Sri tenang kini setelah menjadi petinggi di Bank Dunia.&lt;br /&gt;Kasus Aduhai lagi, menganga dengan begitu lebar. Untung Susno sang petinggi Kepolisian buka mulut tentang “kejahatan” di ranah pajak yang pada akhirnya kita semua tercengang melihat begitu ganasnya seorang “Gayus” menidih bangsanya melalui penyelewengan pajak yang selama ini kita banggakan untuk keasehateraan negara. Bayangkanlah, andaikan saja pajak yang diberikan oleh rakayat secara jujur dan diterima dengan benar serta digunakan dengan benar, ada keyakinan Indonesia tidak semelarat ini, tapi sayang negara ini lemah sistem dan digerogoti oleh orang-orang pintar tapi dungu moral. Sehingga negara sudah digapling-gapling oleh kepintaran itu dengan cara KKN, malahan KKN tidak lagi perorang sudah berjemaah dan diikuti dengan penguta-atikan sistem secara pintar. Di sini kita merasakan sekolah berjasa medidik orang pintar tapi idiot moral!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3755873131844246640?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3755873131844246640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3755873131844246640&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3755873131844246640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3755873131844246640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2010/06/hari-hari-yang-remuk.html' title='HARI-HARI YANG REMUK'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3244992833863026889</id><published>2009-03-24T20:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T20:44:15.496-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan Ke Negeri Pendekar Sastra</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScmhyVGaM5I/AAAAAAAAAR0/sY7Psppyob4/s1600-h/IMG_0511.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316958721117139858" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScmhyVGaM5I/AAAAAAAAAR0/sY7Psppyob4/s320/IMG_0511.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dua bulan terakhir ini, saya asyik melakukan perjalanan ke negeri pendekar-pendekar sastra. Ada dua negeri yang saya tempuh, Pulau Penyengat Kepulauan Riau dan Minangkabau Sumatera Barat. Pulau Penyengat merupakan negeri tempatnya Raja Ali Haji Bertahta dan bersemayam. Raja Ali Haji, tentu bukan orang yang asing di dunia sastra. Dia adalah Bapak sastrawan Melayu yang terkenal dengan Gurindam 12. Bahkan, Raja Ali Haji pula yang menerbitkan kamus bahasa Melayu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan di Minangkabau Sumatera Barat, sebuah daerah yang tidak asing lagi sebagai daerah 'pabrik" sastrawan tempo dulu, sebut saja Misalnya Hamka, Marah Rusli, dan seterusnya. Di Minangkabau ini pula saya menemukan Rumah Puisi yang dibangun oleh penyair Indonesia Taufiq Ismail (sayang saya tak berkesempatan memfotonya). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3244992833863026889?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3244992833863026889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3244992833863026889&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3244992833863026889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3244992833863026889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2009/03/perjalanan-ke-negeri-pendekara.html' title='Perjalanan Ke Negeri Pendekar Sastra'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScmhyVGaM5I/AAAAAAAAAR0/sY7Psppyob4/s72-c/IMG_0511.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2193495713500265760</id><published>2009-03-22T07:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T07:22:34.652-07:00</updated><title type='text'>WARNA KEMINANGKABAUAN DALAM PUISI...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScZJiQ72W4I/AAAAAAAAARs/tEP0PHIDvuI/s1600-h/IMG_1154.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316017263167822722" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 252px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScZJiQ72W4I/AAAAAAAAARs/tEP0PHIDvuI/s320/IMG_1154.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tanggal 14 Februari 2009, saya menyampaikan makalah tentang sastra di Fakulti Bahasa Moden dan komunikasi Universiti Putra Malaysia dalam rangka "Dharmawijaya Dalam Kenangan". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya menyigi tentang "Warna Keminangkabuan Dalam Puisi Dharmawijaya". Saya menumukan minimal tiga identitas sastra Minangkabau ini. Silakan baca lebih detaik makalah lengkap saya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pengenalan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan sosial-budaya mempunyai pengaruh yang cukup kuat membentuk watak sesorang. Hal ini sudah menjadi pusat perhatian dari kajian psikogi dan sosiologi-antropologi semenjak awal kedua ilmu itu ditubuhkan. Ada kesepakatan dan kesepahaman dari kedua ilmu tersebut, yang menyatakan lingkungan sosial-budaya merupakan pembentuk tindakan dan watak dari seseorang. Kajian psikologi tentang ini dapat dilihat dalam kajian Freud dan dalam sosiologi-antropologi dapat dilihat dalam kajian para sosilogi-antropologi Mikro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan dunia sastera. Ada keterkaitan sosial-budaya dengan hasil karya yang dibuat oleh seorang aktivis sastera. Ertinya, ada pembentukan watak dan style karya yang dipengaruhi oleh kedinamikan sosial-budaya yang membentuk aktivis sastera tersebut. Oleh sebab itu tidak menghairankan semangat kedaerahan akan mewarnai hasil karya aktivis sastera, kerana daerah adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari sosial-budaya itu sendiri. Keadaan ini berlaku juga di Malaysia. Aktivis-aktivis sastera juga membawa semangat kedaerahannya. Di antaranya terlihat dari aktivis sastera yang mempunyai hubungan dengan Minangkabau, mereka sering membawa semengat keminangkabauan dalam karya-karyanya. Hal ini pernah dilacak oleh Ahmad Kamal Abdullah ketika menyigi karya sastera Firdaus Abdullah. ”...bagi sesesiapa yang mengikuti perkembangan dalam tiap-tiap cabang kegiatan Firdaus Abdullah, ia terlihat tetap membawa semangat daerahnya atau keminangkabauannya. Tidak hanya Firdaus Abdullah saja, bahkan penyair seperti seperti Latiff Mohiddin, A. Wahab Ali, Dharmawijaya, Sutan Shahrir Lembang, A. Gafar Ibrahim dan Siti Zainon Ismail tidak menanggalkan akar kedaerahaannya di Minangkabau” (Ahmad Kamal Abdullah, 1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat tersebut tidak hanya berlaku di kalangan aktivis sastera yang tua, tetapi bahkan juga terlihat di kalangan aktivis sastera muda. Hal ini dapat dilacak atau ditelusuri dari perkumpulan sastera Negeri Sembilan dan beberapa anak muda penggiat sastera. Kedaerahaan mereka masih lengket dan masih terlihat mewarnai identitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minamal ada tiga simbol keminangkabauan dalam karya sastera daripada aktivis sastera, iaitu kritik sosial, pendekatan alam dan Tuhan. Ketiga-tiga hal ini, merupakan dasar falsafah dari etnik Minangkabau yang terangkum dalam adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, alam takambang jadi guru. Falsafah ini disosialisasikan mulai dari level institusi keluarga. Impaknya menjadikan adat, agama dan berguru kepada alam menjadi bahagian yang tidak terpisahkan bagi mereka yang berketurunan Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Minangkabau Sumatera Barat, tiga kekuatan itu sangat terlihat dengan kuat dalam karya sastera Hamka, AA. Navis, Marah Rusli dan sasterawan Minangkabau yang lainnya. Di kalangan penyair, kekuatan itu dapat dilihat dari kepenyairan Taufik Ismail, Rusli Marzuki Saria dan seterusnya. Dikalangan sesterawan dan penyair muda mungkin dapat diwakili oleh Gus TF Sakai, Iyut Fitra, Yusrizal KW dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tidak dapat dinafikan pula menjamurnya lahir aktivis sastera dari daerah Minangkabau, baik di Minangkabau Malaysia mahupun di Minangkabau Sumatera Barat Indonesia, seolah-olah ada pendorong dari daerah ini untuk menghasilkan sasterawan. Bahkan tidak berlebihan, Minangkabau merupakan pabrik atau kilang sasterawan dan penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis dan sosial budaya, tradisi Minangkabau memang sangat mendukung lahirnya sasterawan dan penyair. Hal ini dimungkinkan kerana tradisi sastra lisan yang berkembang pesat di Minangkabau. Mulai dari tambo&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; (perihal keminangkabuan) sampai pada tradisi maota&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; (berbual) di Minangkabau merupakan tradisi lisan yang sudah mengakar di dalam masyarakatnya. Tradisi seni tersebut yang ikut mendukung kelahiran sasterawan di dalam suku bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi bahasa lisan berkembang menjadi kesenian dan dikuatkan oleh pepatah nan kuriak adalah kundi, nan merah adalah saga, nan baik adalah budi dan nan indah adalah bahasa. Hal membangun kebiasaan bersastera dan memperkuat kepenyairan di Minangkabau. Ertinya tradisi memberikan media atau sarana yang signifikan untuk mengembangkan jiwa dan nilai-nilai seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membaca Keminangkabauan Puisi Dharmawijaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dr. Kamaruzzaman Abdul Kadir atau lebih popular dengan nama Dharmawijaya, merupakan salah satu penyair Malaysia yang tersohor dan terkenal. Pernah mendapatkan pelbagai penghargaan dan hadiah, dari karya-karyanya yang berkualiti dan indah. Di antara penghargaan yang diperoleh Dharmawijaya adalah Hadiah Karya Sastera pada 1971 dan 1976 dalam bidang puisi; Hadiah Sastera Malaysia bagi tahun 1982/83 (puisi), SEA Write Award di Bangkok, Thailand pada tahun 1993, anugerah penyair GAPENA pada tahun 1999 dan anugerah pujangga, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) pada tahun 2002 dan Anugerah Sastera Negeri Sembilan 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dharmawijaya dilahirkan Kampung Talang, Tanjung Ipoh, Kuala Pilah. Berdasarkan daerah kelahiran ini ada dasar semangat keminangkabauan yang dapat dilacak dari Dharmawijaya. Bahkan kekuatan identiti karya-karya Dharmawijaya dapat dijadikan landasan kuat untuk menunjukkan semangat ke-minangkabu-an yang wujud. Karya-karya Dharmawijaya di antaranya adalah; Puisi Melayu Moden 1933-1957 (1982) yang turut memenangi Hadiah Sastera Malaysia 1982/83 dalam bahagian buku kajian sastera moden terbaik; Tanggapan dan Kaedah Pengajaran Puisi (1987); Berkenalan Puisi (1987), Pemahaman dan Penghayatan Puisi (1992) serta Dunia Puisi Dalam Penelitian dan Pengajaran (1992) dan edisi yang sama dikemaskini pada 1998. Tiga buah kumpulan pusi persendiriannya iaitu Warna Maya (1974), Derita Buana (1992) dan Jejak Kembara (1999). Di samping itu Dharmawijaya penyusun antologi puisi Di Penjuru Matamu (1975) dan Bunga Gerimis (1986) yang pernah menjadi buku teks Kesusateraan Melayu di sekolah-sekolah menengah; Lagu Kehidupan (1983), Bintang Mengerdip (1984), Puisi Sepanjang Zaman (1989) dan Gurindam Alam (1994) yang menjadi rujukan umum dan di institusi-institusi pengajian tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kajian Naffi terhadap tiga kumpulan puisi Dharmawijaya, Warna Maya (1974), Derita Buana (1992) dan Jejak Kembara (1999) menginformasikan bahawa ada tiga hal makna penting yang menjadi kekuatan dalam karya Dharmawijaya, iaitu: Kritik sosial, dekat pada alam pendekatan kepada Tuhan (Berita Harian, 30 Mei 2008). Ketiga-tiga hal ini, merupakan kekuatan yang tidak terpisahkan dari watak dari penyair Minangkabau pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keminangkabauan&lt;br /&gt;puisu&lt;br /&gt;Dharmawijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik sosial&lt;br /&gt;Pendekatan&lt;br /&gt;Tunan&lt;br /&gt;Simbolisme&lt;br /&gt;alam&lt;br /&gt;Rajah: Pemaknaan Keminangkabuan dalam Karya Dharmawijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Kritik Sosial Perlawanan Terhadap Hegemoni&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Satu hal yang paling popular dimiliki oleh sastrawan atau penyair Minangkabau di Indonesia adalah, karyanya yang sering bercorak kritik sosial dan sangat dekat dengan perjuangan kemanusiaan dan anti terhadap hegemoni. Bahkan sastrawan AA Navis seorang sastrawan Indonesia yang berdarah Minang dipopularkan dengan sebutan tukang cumeeh (pengkritik). Kemudian dikalangan penyair, Taufik Ismail karya-karyanya sering bermuara pada kritik sosial tersebut. Artinya, di kalangan sasterawan dan penyair berdarah Minang sering mengangkat kepedualian, kemanusiaan dan kesejahteraan. Kritik sosial ini, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dunia sosial, politik dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang terlihat dari Dharmawijaya. Karya-karyanya padat dengan kritik sosial dan membangun semangat baru. Naffi mengungkapkan “Puisi Dharmawijaya seiring dengan perkembangan sosial hidup masyarakat sehingga saya mendapati beliau tidak lari daripada mengungkapkan permasalahan masyarakatnya khususnya petani yang berhadapan dengan fenomena alam dan diperkatakan secara jujur” (Berita Harian, 30 Mei 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya adalah, mengapa kritik sosial ini melekat dan disemangati oleh sasterawan atau penyair Minangkabau, tentu sangat kuat hubungan kaitnya dengan sistem budaya masyarakat Minangkabau itu sendiri. Suku bangsa Minangkabau merupakan suku bangsa yang mempunyai tradisi demokrasi. Tradisi demokrasi Minangkabau ini telah mengalahkan praktik feodalisme dan kolonialisme di Minangkabau. Praktek feodalisme terlihat dari hilangnya kerajaan raja di Minangkabau, sehingga sampai saat ini di Minangkabau tidak pernah raja di daulat lagi. Kehilangan sistem kerajaan ini, kerena dipengaruhi oleh kuatnya amalan demokrasi di dalam masyarakat nagari&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Demokrasi telah mengalahkan hegemoni kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping adanya tradisi demokrasi, kritik sosial yang kental bagi orang Minangkabau diperkuat dengan keyakinan terhadap agama. Suku bangsa Minangkabau sangat terkenal dengan suku bangsa yang taat beragama. Bagi keluarga Minangkabau, agama sudah disosialisasikan dari semenjak kecil. Agama menjadi dasar moral dan nilai-nilai sosial yang diyakini oleh orang Minangkabau. Agama mempunyai dasar yang kuat dalam membangun keadilan dan kemanusiaan. Kekuatan ini yang mempengaruhi watak kritis bagi orang Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik sosial merupakan perlawanan terhadap hegemoni, kesemenaan terhadap dunia manusia. Kritik sosial ini merupakan salah satu, bentuk perjuangan yang dilakukan oleh sasterawan atau penyair. Pembebesan dunia sosial dari hegemoni politik, kekuasaan dan kolonialisme yang diperkenalkan oleh Gramsci ini sudah menjadi ciri khas dari penyair-penyair atau sasterarawan Minangkabau terdahulunya. Hal ini terlihat pula dalam karya-karya Taufik Ismail dan penyair-penyair generasi baru yang sudah ”bosan” hidup dalam hegemoni kekuasaan orde baru di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif penulis atas dasar itu pula Dharmawijaya membangun kekuatan kritik sosial dalam karya-karyanya. Kritik sosial dalam karya Dharmawijaya sering bermuara pada penyadaran diri, bahkan pemberi motivasi untuk berubah. Kelebihan ini yang banyak terbentang dalam karya-karya Dharmawijaya, seperti yang dilihat oleh Naffi Mat ” Dharmawijaya mengungkapkan permasalahan masyarakatnya secara jujur”. Hal ini dilakukannya, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap dunia sosialnya. Lihat misalnya, puisi Dharmawijaya dalam warna maya yang bercerita tentang kegelisahannya dalam melihat dunia sosial anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;derita itu&lt;br /&gt;sangkar madu&lt;br /&gt;anak-anak manusia&lt;br /&gt;bercitawaja. bahagia itu&lt;br /&gt;angin debu&lt;br /&gt;anak-anak manusia&lt;br /&gt;penagih kurnia.&lt;br /&gt;berita-bahagia adalah warna maya&lt;br /&gt;pantai dan lautnya&lt;br /&gt;dada kembara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pendekatan Pada Tuhan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Satu hal yang tidak dapat dinafikan dari penyair Minang adalah, kekentalan karya-karyanya dengan pemaknaan kesajatian hidup dan pendekatan diri pada Tuhan. Hal ini sebagai salah satu fitrah bagi penyair yang berdarah Minangkabau yang selalu hidup dalam budaya religius. Dalam Islam hal seperti ini dikenal sebagai salah satu bentuk dakwah bil lissan. Dalam perspektif antropologi budaya, seperti Geertz (1983) menyebutkan bahawa nilai-nilai agama yang menjadi world view akan sukar dipisahkan dari jati diri sesorang, ia akan membentuk watak dan mempunyai pengaruh dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, agama akan hidup dalam karya. Pendapat yang sama pernah pula dikemukakan oleh Kluchon (Koentraningrat, 2000) bahawa nilai-nilai yang sudah terinternalisasi akan berpengaruh terhadap karya-karya kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bagi masyarakat Minangkabau merupakan sesuatu hal yang esensia dan selalu ditegaskan dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Oleh sebab itu, masalah agama merupakan masalah yang paling fundamental. Walaupun saat sekarang sudah berlaku perubahan secara pragmatis, namun hakikat dan esensi keagamaan itu masih mempunyai sisa kekuatan, setidaknya agama masih dikuatkan dalam institusi rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran agama ini tentu juga melekat pada Dharmawijaya Oleh sebab itu tidak menghairankan karya-karya Dharmawijaya dipenuhi oleh nuansa-nuansa keIlahi-an, simak dalam puisinya berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Cinta&lt;br /&gt;setiap kali ku kunjungi&lt;br /&gt;rumah cinta ini&lt;br /&gt;kurasakan pintu takwa&lt;br /&gt;semakin membukakan&lt;br /&gt;sinar makna&lt;br /&gt;kandil wahyu&lt;br /&gt;titian keagungan-Mu...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Rumah Cinta Dharmawijaya pada hakikatnya membawa pada pendekatan diri kepada Tuhan. Dalam ranah rumah cinta ini pula dapat ditangkap bahawa Dharmawijaya sendiri merupakan seorang yang berusaha untuk memuarakan hidupnya dengan hukum Tuhan. Berikut ini pula, melalui Pintaku Padamu Dharmawijaya melakukan dakwah bil lisan untuk keinsyafan kerana hayat akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintaku Padamu&lt;br /&gt;kalau esok kasih kita kan hancur jua&lt;br /&gt;usah ditaburi bumi ini dengan airmata&lt;br /&gt;dunia bukan semata milik orang bercinta&lt;br /&gt;hidup jua bukan semata untuk berlagu kecewa&lt;br /&gt;dibawah sinar mentari pagi demikian jernihnya&lt;br /&gt;hayunkan langkah gagahmu sepenuh khidmat&lt;br /&gt;usapi kesetiaan hati seluruh umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau esok jua hidup dijenguk kematian&lt;br /&gt;usah ditangisi sepinya tanah kelahiran&lt;br /&gt;nyanikan lagu peridu ke wajah tuhan&lt;br /&gt;tanda hatimu setia dlm usia pengorbanan&lt;br /&gt;tau-taulah dibintang satu&lt;br /&gt;dihari hidup kita mengejar bahagia dalam sengsara&lt;br /&gt;dihari mati kita mengira pahala dan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Pendekatan Alam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Naffi Mat, mengkaji karya Dharmawijaya dengan pendekatan Teori Psikoanalisis dan Estetika Sastera. Puisi Dharmawijaya dikatakan turut memaparkan rasa tanggungjawabnya untuk memberi rangsangan kepada masyarakat untuk memperjuangkan nasib hidup melalui pemaparan lambang (Berita Harian 30 Mei 2008). Dorongan untuk memeparkan simbol alam ini, merupakan satu hal yang paling biasa dipakai oleh penyair-penyair berketurunan Minangkabau. Menurut AA Navis, hal ini didorong oleh semangat hidup yang diajarkan dalam masyarakat Minangkbau alam takambang jadi guru (alam terbentang menjadi guru).&lt;br /&gt;Manusi belajar pada karenah (tanda-tanda) yang ada dalam alam semesta ini. Alam melambangkan atau memberikan banyak simbol yang harus dimaknai oleh manusia. Pemaknaan simbol alam itu, akan menjadi indah diolah oleh para penyair-penyair dalam karyanya. Simbol alam ini banyak diangkat oleh Dharmawijaya dalam karyanya. Bahkan dalam warna maya hampir membawa simbol alam tersebut.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Sebagaimana pada umumnya, citra rasa kedaerahan bagi penyair merupakan salah satu pembentuk watak dari penyair tersebut, sehingga ia mempengaruhi terhadap karya-karyanya. Sebagaimana halnya juga dapat dilihat dari karya-karya Dharmawijaya. Sebagai seorang yang terlahir dari ”Bumi Minang” ia tidak luput dari semangat kedaerahnnya ini. Bahkan kalau ditelusuri ada tiga hal penting semangat keminangkabauan yang melekat dalam karya-karya Dharmawijaya, iaitunya adanya pembawaan terhadap kritik sosial, pendekatan diri pada Tuhan dan membangun simbol-simbol alam dalam karyanya sehingga memudahkan untuk memahami fenomena yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;AA.Navis. 1988. Alam Takambang Jadi Guru. Jakarta. Aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Kamal Abdullah (Kemala). 1987. Kertas Kerja. ” Firdaus Abdullah: Potret Penyair Melayu Antara Tradisi dan Moden. Pekan Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Harian, 30 Mei 2008. Karya A Samad Ismail, Dharmawijaya dan JM Aziz diteliti bagi mencari makna tersirat. Kuala Lumpur. Berita Harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greetz, C. 1983. Local Knowledge: Further Essays in Interpretative Anthripologi. New York. Basic Books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan mentalitas dan pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Tambo merupakan perihal yang menceritakan keminangkabauan, mulai dari sejarah sampai masalah adat dan budaya. Isi tambo berupa cerita-cerita Minangkabau yang bercampur aduk dengan dongeng.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Maota merupakan bahasa Minang dengan erti berbicara antara sesame, pembicaraan tersebut mempunyai seni dan gaya bahasa tersendiri, bahkan dapat berbentuk pantun dan sajak. Tradisi ini akhirnya menjadi tradisi di lapau-lapau atau kedai-kedai kopi. Dimana lelaki sebelum bekerja duduk di kedai kopi maota bersama-sama. Boleh pula diertikan berbincang-bincang dengan beragama tajuk. Tradisi ini, akhirnya menjadi media komunikasi dalam masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Maota tidak sahaja dilakukan oleh kaum lelaki, tetapi juga bagi kaum perempuan. Tempat maota bagi perempuan tidak di lapau tetapi berada di pencuran atau di pemandian umum.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7785121932488213732#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Nagari merupakan kawasan yang mempunyai autonomi dan pemerintahan tersendiri. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, pemerintah nagari dijadikan sebagai pemerintah peringkat yang paling rendah. Di nagari ini masyarakat secara sosial hidup dalam tradisi demokrasi. Disebutkan elok nagari kerana mufakat (mesyuarat). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2193495713500265760?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2193495713500265760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2193495713500265760&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2193495713500265760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2193495713500265760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2009/03/warna-keminangkabauan-dalam-puisi.html' title='WARNA KEMINANGKABAUAN DALAM PUISI...'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScZJiQ72W4I/AAAAAAAAARs/tEP0PHIDvuI/s72-c/IMG_1154.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2987854910852219460</id><published>2009-03-21T06:23:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T04:09:21.072-07:00</updated><title type='text'>MENCARI BENING MATA AIR</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScTr9Dty7lI/AAAAAAAAARk/X7Zw0ixqPvE/s1600-h/IMG_0946.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315632894405963346" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScTr9Dty7lI/AAAAAAAAARk/X7Zw0ixqPvE/s320/IMG_0946.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Semalaman mataku enggan terpejam, mengingat keagungan pesan A. Mustofa Bisri ” Mencari Bening Mata Air”. Cak Mus panggilan akrab kiyai yang suka berpuisi dan berdakwah sejuk ini, telah memberikan kenangan indah padaku, kenangan indahnya hidup, indahnya persahabatan, indahnya dunia dengan segala keukwahan, tanpa curiga, tanpa tuding tanpa saling sakit menyakiti.&lt;br /&gt;Cak Mus, telah membuatku tunduk dan terkulai melalui pelajaran kata-katanya yang bernaluri dan berbahasa jernih, hingga jiwa semakin menemukan peradaban dan bening. Cak Mus, aku rasakan berada di halaqahku ketika puisinya hadiri dalam sidang jiwa, aku petikan puisi Cak Mus yang mengharu biru hingga bening mata air itu terasa dalam lubuk hati dikau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda Jarak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Tanpa jarak&lt;br /&gt;Maka entah rapat entah berentara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa akasara&lt;br /&gt;Maka entah diam entah bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ketika&lt;br /&gt;Maka entah sebentar entah lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa masa&lt;br /&gt;Maka entah kakal entah fana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa janji&lt;br /&gt;Maka entah berpisah entah bersua&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2987854910852219460?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2987854910852219460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2987854910852219460&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2987854910852219460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2987854910852219460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2009/03/mencari-bening-mata-air.html' title='MENCARI BENING MATA AIR'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/ScTr9Dty7lI/AAAAAAAAARk/X7Zw0ixqPvE/s72-c/IMG_0946.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-974291580224053482</id><published>2008-12-26T02:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T02:16:45.844-08:00</updated><title type='text'>DAMPAK TURUNNYA TARIF TELEKOMUNIKASI TERHADAP KECERDASAN ANAK BANGSA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/SVSu1rwtAaI/AAAAAAAAARE/YPmYj8QLZRk/s1600-h/IMG_0473.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284040500115734946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 147px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/SVSu1rwtAaI/AAAAAAAAARE/YPmYj8QLZRk/s200/IMG_0473.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi masyarakat Indonesia sampai pada hari ini masih banyak berada dalam kancah keprihatinan, sehingga bangsa yang dihuni sekitar 220 juta jiwa ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara berkembang di kawasan rantau Asia Pasifik ini. Hal ini dapat diukur dengan beberapa parameter, mulai dari kualitas hidup sampai pada tingkat jumlah usahawan di negara ini.&lt;br /&gt;Kualitas hidup masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, seperti menurut laporan United Nation Development Programe (UNDP) human development index (HDI) masyarakat Indonesia pada tahun 2007 berada pada urutan ke-107 dari 177 negara di dunia. Di ASEAN kualitas hidup masyarakat menempati urutan ke-7 dengan skor 0,728. Peringkat teratas Singapura dengan skor 0,922, disusul Brunei Darussalam 0,894, Malaysia 0,811, Thailand 0,781, Filipina 0,771, dan Vietnam 0,733. Kamboja 0,598 dan Myanmar 0,583 berada di bawah HDI Indonesia.&lt;br /&gt;Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia, dapat dilihat dari jumlah kemiskinan. Jumlah orang miskin di Indonesia versi pemerintah sebanyak 17% atau sekitar 29,05 juta jiwa, namun jika dipakai indikator kemiskinan yang dibuat Bank Dunia, maka jumlah orang miskin di Indonesia berlipat-lipat atau sekitar 46% dari penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;Potret sosial ini merupakan gambaran dari keterbelekangan bangsa ini dalam berbagai aspek. Terutama sekali aspek pendidikan. Pendidikan sebagai mesin pencetak masyarakat pintar belum mampu berbuat banyak dalam merubah kondisi keterbelakangan masyarakat. Rendahnya kualitas pendidikan negara ini menjadi salah satu faktor ketidak berdayaan pendidikan untuk mencerahkan masyarakat. Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan yang masih rendah ini pula yang menyebabkan banyaknya pengangguran muncul di kalangan kelas terdidik. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2008 pengangguran dari kelas terdidik di Indonesia berjumlah 4.516.100 orang dari total jumlah pengangguran 9.427.600 orang. Kualitas pendidikan yang rendah mempengaruhi kecilnya semangat wirausaha di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga jumlah pengusaha sangat sedikit sekali di negara ini. Menurut Ciputra saat Indonesia baru mempunyai pengusaha 0,18% dari jumlah penduduk. Sedangkan untuk mencapai sebuah negara maju harus mempunyai 2% pengusaha dari jumlah penduduk. Sedangkan untuk dapat mengatasi kemiskinan di Indonesia sekarang diperlukan 4 juta pengusaha baru.&lt;br /&gt;Pendidikan yang belum mampu mencerdaskan bangsa ini salah satunya di pengaruhi oleh rendahnya fasilitas pendidikan. Mulai dari jumlah bahan bacaan sampai pada pendidikan guru merupakan bermasalah dalam dunia pendidikan kita. Dilihat dari bahan bacaan, negara kita baru hanya mampu menerbitkan buku 10.000 judul pertahunnya, sedangkan surat kabar hanya mampu melayni masyarakat dengan rasio 1:45, sedangkan di Philipina 1:30 dan di Srilangka 1:38 (Media Indonesia, 27 Mei 2007).&lt;br /&gt;Di sisi lain, kebodohon yang belum terkuak secara fantastis oleh dunia pendidikan, ternyata diikuti oleh kualitas guru yang belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari data kelayakan guru dalam mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas guru-guru Indonesia yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta hanya baru 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73 %, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Pendidikan guru menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan. Dari 2,7 juta orang guru di Indonesia hanya sepertiga atau 35% saja yang berpendidikan S1 (Republika 2008). Sedangkan di Sekolah Dasar guru berpendidikan S1 baru sekitara 10% sedangkan menurut undang-undang no 14 tahun 2005 guru Sekolah Dasar Harus S1. Hasil penelitian Hattie (2000) menemukan bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan guru, sebanyak 63% pendidikan guru menyumbangkan pada kualitas pendidikan jika dibandingkan dengan variabel lainnya di sekolah.&lt;br /&gt;Di samping kualitas pendidikan yang masih rendah, ternyata fasilitas pencerdas anak bangsa yang lainnya masih belum menyentuh masyarakat luas. Misalnya saja, fasilitas internet dan alat telekomunikasi sangat terbatas diakses. Sedangkan fasilitas ini sebagai salah satu sarana yang mewujudkan revolusi mental. Hal ini dapat dilihat dari catatan perjalanan sejarah revolusi industri dalam masyarakat Barat. Di mana semenjak abad ke-18 dengan berkembang pesatnya industri telekomunikasi telah merubah peradaban yang terbelakang menjadi maju dan modern. Alvin Toffler akhirnya menjastifikasi abad modern dan pintar adalah abad yang dikuasai oleh telekomunikasi. Oleh sebab itu, telekomunikasi harus menjadi bahagian terpenting dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam kontek ini penduduk dunia telah meyakini, bahwa kemajuan sangat tergantung pada penguasaan teknologi informasi, sehingga terjadi revolusi telekomunikasi di dunia. Melek informasi mulai diperkenalkan. Negara Malaysia dan Singapura saat sekarang mencanangkan melek internet. Bukan lagi melek huruf. Melek internet di dukung dengan perangkat teknologi informasi yang canggih dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakatnya. Termasuk tarif telekomunikasi disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga sarana-sarana telekomunikasi diakses secara merata oleh masyarakat. Jika dilihat laporan Bank Dunia tahun 2007 perbandingan akses dan pemakaian teknelogi telekomunikasi terdapat perbandingan yang sangat mencolok antara Indonesia dan Malaysia. Pemakaian internet misalnya dari per 1000 orang di Indonesia hanya memakai 72 orang, sedangkan di Malaysia sudah mencapai 434 orang. Begitu pula dengan pemakaian telepon, dari per 1000 orang di Indonesia baru yang memakai telepon hanya 270 orang sedangkan di Malaysia 943 orang.&lt;br /&gt;Dampak dari pemakaian sarana telekominikasi yang begitu merata tersebut, telah terbukti mendorong tingkat kecerdasan dan kualitas hidup negara tetangga yang pernah mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia ini, sehingga tidak hayal negara ini mempunyai kualitas pendidikan dan kualitas hidup lebih tinggi daripada Indonesia sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif Telekomunikasi Yang Mencerdaskan&lt;br /&gt;Berangkat dari fenomena dan realita bangsa Indonesia yang makin terpuruk seperti yang telah dipaparkan di atas, maka saat sekarang yang diperlukan oleh bangsa ini adalah mesin-mesin pencerdas anak bangsa. Salah satu mesin pencerdas tersebut tertumpu pada pemerataan pemanfaatan sarana telekomunikasi. Salah satunya upaya yang harus dilakukan adalah mewujudkan tarif telekomunikasi yang terjangkau oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Misalnya saja, tingginya tarif telekomunikasi selama ini menyebabkan rendahnya tingkat akses internet di kalangan masyarakat Indonesia dan pada umumnya diakses oleh keluarga yang mempunyai ekonomi mapan. Begitu pula dengan institusi pendidikan, internet hanya tersedia di sekolah-sekolah atau kampus yang berbiaya mahal. Sementara sekolah-sekolah kere (miskin) tidak mengenal internet, karena tingginya tarif telekomunikasi yang diperlukan untuk mengaksesnya, sehingga yang terjadi adalah jurang kualitas pendidikan antar kaya dan miskin semakin tinggi. Oleh sebab itu turunnya tarif telekomunikasi berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di negara ini.&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga, traif telekomunikasi yang terjangkau telah membuat sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Indonesia menjadi sadar intenet sebagai sarana pendidikan. Traif telekomunikasi yang murah setidaknya telah melahirkan inovasi dalam bidang pendidikan. Hal ini dilihat dari media pengajaran yang berkembang, dari bentuk tradisional menjadi modern yang sangat membantu terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Biaya telekomunikasi yang terjangkau oleh semua kalangan juga akan membantu menyelesaikan permasalahan keterbatasan jumlah bahan bacaan yang terjadi di negara ini.&lt;br /&gt;Internet secara langsung dapat mengatasi kesulitan buku akibat biaya yang mahal dan perputakaan sekolah yang sangat terbatas. Keterbatasan ini pula yang menyebabkan rendahnya minat baca dikalangan anak didik dan berdampak negatif terhadap kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, internet yang terkases oleh semua kalangan menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Oleh sebab itu turunnya tarif telekomunikasi berpengaruh cukup besar terhadap untuk melepaskan kungkungan keterisolasian masyarakat dari ilmu pengetahuan dan kemajuan.&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal lagi, bahwa turunnya tarif telekomunikasi bagi bangsa Indonesia sebagai salah satu langkah untuk membangun bangsa yang cerdas sekaligus sebagai upaya untuk mengeluarkan kondisi bangsa yang terpuruk akibat belum berperanan banyaknya dunia pendidikan dalam mengubah sumber daya manusia yang berkualitas. Akhirnya dengan tarif telekomunikasi yang terjangkau oleh semua kalangan ini, melahirkan bangsa Indonesia yang mempunyai peradaban dan memiliki kualitas hidup yang setara dengan negara-negara maju lainnya, sehingga bangsa ini keluar dari kemelut keterbelakangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-974291580224053482?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/974291580224053482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=974291580224053482&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/974291580224053482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/974291580224053482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/12/dampak-turunnya-tarif-telekomunikasi.html' title='DAMPAK TURUNNYA TARIF TELEKOMUNIKASI TERHADAP KECERDASAN ANAK BANGSA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OmKn7-nELLk/SVSu1rwtAaI/AAAAAAAAARE/YPmYj8QLZRk/s72-c/IMG_0473.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5639398621771946865</id><published>2008-11-14T01:08:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T01:10:19.623-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SEBUAH CATATAN KEBIJAKAN DIKNAS SUMBAR&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;YANG TIDAK PROFESIONAL DAN CURANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kesungguhan Pemda Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Gubernur H. Gumawan Fauzi mendongkrak kualitas pendidikan Sumbar mungkin dapat dirasakan secara signifikan oleh beberapa dosen perguruan tinggi yang mendapatkan beasiswa dari Pemda untuk melanjutkan program Doktor di beberbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun dalam negeri. Beasiswa Pemda yang dikelola pembahagiannya oleh Dinas Pendidikan Sumatera Barat ini menggiurkan dan jumlahnya cukup representatif untuk studi.&lt;br /&gt;            Beasiswa ini diluncurkan pada tahun 2006 dan berlanjut sampai sekarang. Pada tahun 2007 dan 2008 ini jumlah beasiswa untuk para calon doktor ini masing-masing mendapatkan 34 juta rupiah untuk satu tahun.&lt;br /&gt;            Tentu hal ini, sebagai langkah maju dan kesigapan dari pemda Sumbar untuk mewujudkan daerah ini ”ramai” oleh para Doktor, malah proyek ini selenting terdengan sebagai proyek 1000 Doktor, sebagai usaha untuk mewujudkan Sumbar locus industri otak  yang cerdas, terbilang, cemerlang dan gemilang.&lt;br /&gt;            Upaya ini, juga dapat dipahami sebagai satu kemutlakkan untuk mewujudkan kemajuan daerah. Giddens menyebutkan, kemajuan satu bangsa atau daerah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang terdidik. Oleh sebab itu semakin banyak manusia yang mempunyai berpendidikan berkualitas di satu negara atau daerah maka semakin maju daerah tersebut. Hal ini sejalan dengan genderang pendidikan yang dikemukakan Ivan Illich, bahwa pendidikan merupakan ”alat” pembebasan  keterbelengguan dari segala-galanya.&lt;br /&gt;            Di samping itu, dampak yang paling signifikan adalah akan terbangunnya kualitas pendidikan di perguruan tinggi, karena tinggi atau rendahnya pendidikan pendidik akan berpengaruh terhadap mutu pembelajaran, sebagaimana terbukti dalam hasil penelitian Hattie  bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan pendidik, sebanyak 63% pendidikan pendidik menyumbangkan pada kualitas pendidikan jika dibandingkan dengan variabel lainnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai pendidikan yang berkualitas pendidikan pendidik harus menjadi salah satu komponen yang mesti diperhatikan.&lt;br /&gt;            Dengan demikian program beasiswa untuk program doktor ini, perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak berhenti dalam satu kepemimpinan, karena secara teoritik dan logis program ini menjadi aset berpotensi untuk membangun kualitas pendidikan dan kemajuan daerah. Oleh sebab itu, siapa saja yang memimpin Sumatera Barat harus melanjutkan program beasiswa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan “Keganjilan”&lt;br /&gt;            Sebagai sebuah kebijakan, maka program beasiswa ini harus dikelola dengan jelas dan tidak mengecewakan sehingga tujuannya tepat sasaran.          Di samping itu, harus dikelola dengan perolehan data yang akurat, sesuai dengan peraturan yang digariskan tentang siapa-siapa yang berhak menerima beasiswa tersebut.&lt;br /&gt;            Saya menemukan satu “ketidak adilan” dan “keganjilan” dalam penerimaan beasiswa ini. Pada tahun 2006 saya merupakan salah seorang penerima beasiswa program doktor tersebut. Kemudian tahun 2007 sampai 2008 diputus tanpa pemberitahuan, setelah dijejaki dan bahkan sempat berkomunikasi dengan pengelola pihak Diknas, mengatakan saya sudah melebihi semester yang ditentukan. Jawaban ini sama dengan jawaban surat saya dari Pemda Sumbar yang ditanda tangani oleh setwilda Drs. H. Sultani Wirman. Jika itu sebuah kebijakan yang final saya terima dan saya dapat memakluminya. Tetapi kenyataanya, ada diantara penerima sama dan bahkan ada semesternya di atas saya mereka tetap menerima juga. Malahan yang sudah di wisuda juga menerima. Ini sebuah pencitraan kebijaikan yang tidak jelas. Inilah yang dinamakan kebijakan potong kompas error. Kebijakan seperti ini, mestinya tidak terjadi dalam era reformasi dan transparan seperti sekarang ini. Kebijakannya hendaklah konsisten dan bijak. Ini sebuah citra kebijakan yang busuk di era reformasi dan sangat “mengangkangi” arti reformasi.&lt;br /&gt;            Kebijakan-kebijakan yang seperti ini menurut Dwight H. Perkins  bisa disebut sebagai kebijakan bunga api yang dapat melemahkan pengelolaan institusi dengan tata kelola hukum. Dampaknya, merapuhkan sebuah institusi. Hal ini yang disinggung oleh Myrdal, sebagai salah satu penyebab keterlambatan kebangkitan kesejahteraan di Asia. Keterbelakangan Asia bukan hanya disebabakan semata-mata oleh kekurangan modal, tetapi ditentukan pula oleh karakteristik orang Asia yang rendah disiplin kerja, suka hal-hal irasional, main dibelakang, menjawab persoalan tanpa data dan analisis, masih membudayakan jawaban Asal Bapak Senang (ABS).&lt;br /&gt;            Dari kasus yang saya temukan ini, ada satu keseimpulan bahwa, sebuah institusi masih sangat cendrung memperlakukan masyarakatnya dengan kebijakan-kebijakan yang semu dan sukar dimengerti. Hal serupa ini dapat membangkitkan tingginya ketidak percayaan publik terhadap lembaga yang mengaturnya, sekaligus membenarkan rendahnya efektivitas pemerintahan. Bank Dunia mencatat pada tahun 2005 efektifitas pemerintah di negara ini berada di bawah Vietnam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5639398621771946865?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5639398621771946865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5639398621771946865&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5639398621771946865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5639398621771946865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/11/sebuah-catatan-kebijakan-diknas-sumbar.html' title=''/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-8240189728852788283</id><published>2008-05-03T08:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-03T09:01:33.129-07:00</updated><title type='text'>MADRASAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEMBEDAH AKAR MASALAH MADRASAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 15 April 2008&lt;br /&gt;Oleh : Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskrimininasi Terhadap Madrasah sebanarnya bukanlah sebuah isu yang baru, tetapi isu lama yang tidak pernah teselesaikan sehingga madrasah berlarut-larut dalam masalahnya sendiri. Permasalahan ini sebagai akibat daripada adanya hegemoni kekuasaan, pertama terlihat melalui aturan main kurikulum madrasah yang “banci” dan kedua melalui pembiayaan madrasah yang bertendensi dikhotomi jika dibandingkan dengan sekolah umum. Keadaan yang demikian menjadikan madrasah tumbuh dan berkembang ibarat pepatah hidup segan mati tak mau. Dalam kondisi seperti ini, betulkah hegemoni kekuasaan dan dikhotomi kebijakan sebagai penyebab “runtuhnya” kualitas madrasah? Menjawab permasalahan ini perlu dilakukan pendekatan ruang-waktu, sehingga ditemukan varian-varian lain yang ikut dominan penyebab terperlesetnya mutu madrasah.&lt;br /&gt;Di Indonesia sebelum madrasah populer telah berkembang institusi pendidikan Islam lokal yang independen. Di Minangkabau misalnya, telah muncul institusi pendidikan Islam surau, di pulau Jawa lebih populer pondok pesantren. Institusi pendidikan Islam lokal tersebut, telah berhasil memembangun sumber daya umat Islam pada zamannya. Tetapi ketika datangnya kolonialisme memperkenalkan sistem pendidikan modren, institusi lokal mulai buyar dan mulai dipandang sebagai institusi pendidikan kelas dua oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua permasalahan yang membuyarkan, pertama pendidikan Islam lokal yang independen itu lebih bersifat tekstual, sementara alam kehidupan berkembang dengan begitu cepat, perkembangan itu selalu menuntut kearah penguasaan materialisme. Konsep penguasaan “materialisme” inilah yang  kurang dalam institusi pendidikan Islam ketika itu. Fenomena yang demikian oleh kolonialisme dijelaskan dengan Islam ortodok, Umat Islam yang tidak mau memberikan ruang hidupnya kepada dimensi kompetisi dunia. Disinilah awal kekalahan teori pendidikan umat Islam dalam penguasaan dunia, sehingga dalam rentang waktu yang begitu mensejarah di negara ini tidak lahir teori-teori lokal yang berasaskan Islam tentang penguasaan material ini.&lt;br /&gt;Akhirnya berpengaruh terhadap keberadaan sekolah agama. Sekolah agama diorientasikan sekolah “akhirat”, image semacam itu berkembang luas dalam masyarakat Indonesia yang mengalami perubahan besar. Kedua, pengelolaan madrasah yang stagnan dan tidak mampu meracik sistem reinventing, sehingga madrasah lambat mengikuti perubahan masyarakat yang begitu cepat dan kompleks. Baru sekitar awal abad 19 setelah kembalinya para pelajar Indonesia menuntut ilmu di beberapa negara Timur Tengah termasuk di Mesir, institusi pendidikan Islam mulai diperbaharui dengan cara mengadopsi sistem pendidikan Timur Tengah tersebut, sehingga madrasah menjadi populer. Madrasah berkembang di berbagai kawasan di Indonesia, di Sumatera Barat waktu itu ikon madrasah dipegang oleh Sumatera Thawalib, Diniyah Putra dan Putri.&lt;br /&gt;Namun setelah Indonesia merdeka,  institusi-institusi pendidikan Islam ini memasuki dunia politik, pasang surut kualitas madrasah semakin tampak. Jati diri madrasah terombang ambing kedalam dua kepentingan yang tidak berkesudahan, antara kepentingan politik dan umat. Tarik menarik dua kepentingan ini, nampaknya ikut memberikan peluang tidak bergimingnya madrasah sebagai agent transformasi sosial umat Islam di Indonesia, sementara sekolah-sekolah umum yang modern semakin menampakkan jati dirinya seperti yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai penyelamat dunia material. Imege terhadap madrasah mulai berkurang, masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum ketimbang ke madrasah.&lt;br /&gt;Keadaan kualitas madrasah yang tidak stabil itu akahirnya masuk dalam cakrawala nasional, sehingga madrasah menjadi objek dalam sistem pendidikan nasional. Oleh sebab itulah, terjadi perubahan-perubahan kurikulum dalam madrasah. Madrasah mulai menghadapi kurikulum keberimbangan, antara pendidikan umum dan pendidikan agama, kemudian dipercepatlah menjadi 70% pendidikan umum dan 30% pendidikan agama, dengan tujuan untuk memicu lari mutu madrasah dan skaligus untuk menghilangkan stigma masyarakat yang memandang madrasah sebagai kelas pendidikan nomor dua. Dibalik pergerakan perubahan itu, apa sesungguhnya yang terjadi. Mutu madrasah tetap saja berjalan ditempat. Malah madrasah kehilangan jati dirinya sebagai institusi yang fokus dengan pendidikan Islam. Untuk mengkonter kondisi tersebut maka lahirlah madrasah khusus, terutama pada tingkat aliyah, yang fokus dengan pendidikan agama Islam. Namun, madrasah-madrasah yang setengah umum dan setengah agama tetap berada dalam muara kebingungan dan jati dirinya yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membebaskan Madrasah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menilik daripada perjalanan jatuh bangunnya madrasah dalam pentas pendidikan di Indonesia, sebuah kesimpulan yang perlu di bebaskan adalah kultur madrasah yang soft culture, yaitu adanya sebuah budaya kelemahkarsaan dalam membangun jati dirinya, sehingga madrasah terombang ambing dalam kecepatan perubahan yang terjadi.  Sesungguhnya Departemen Agama yang pada umumnya sebagai pemilik madrasah sudah harus mempunyai ruang wacana yang konstruktif ke arah mana madrasah ini digiring sehingga madrasah mampu tampil dengan jati dirinya yang sesungguhnya, tidak bermain dalam “ikut-ikutan”, seperti yang terlihat selama ini.  Permasalahan mutu, harus dilihat secara holistik, tidak hanya dilihat dari segi minimnya dana pendidikan yang dikucurkan pemerintah tetapi juga harus dilihat dari peta “dalam” yang berlaku dalam madrasah. Penglihatan peta dalam ini, yang paling urgen tentang bagaimana madrasah berkontestasi selama ini perlu dicerna oleh Depertemen Agama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-8240189728852788283?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/8240189728852788283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=8240189728852788283&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8240189728852788283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8240189728852788283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/05/madrasah.html' title='MADRASAH'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2757239288648832796</id><published>2008-05-03T08:51:00.000-07:00</published><updated>2008-05-03T08:58:17.169-07:00</updated><title type='text'>HARDIKNAS 2008</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEMECAHKAN MASALAH DUNIA PENDIDIKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 03 Mei 2008&lt;br /&gt;Oleh : Silfia Hanani,&lt;br /&gt;Dunia pendidikan di negara ini masih berada dalam potret yang buram dan masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan dari 55 negara yang diseurvei, Indonesia berada pada urutan 53.&lt;br /&gt;Di samping itu, kualitas pendidikan tinggi Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Jika dilihat dari survei Times Higher Education Supplement (THES) 2006, perguruan tinggi Indonesia baru bisa menjebol deretan 250 yang diwakili oleh Universitas Indonesia, kualitas ini berada di bawah prestasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang menempati urutan 185. Kumudian pada tahun 2007 menurut survei THES perguruan tinggi di Indonesia masih belum dapat meyangi pergurun tinggi seperti di Singapur, Thailand dan seterusnya.&lt;br /&gt;Implikasi kualitas pendidikan rendah ini terhadap sumber daya manusia sangat jelas sekali. Kemampuan sumber daya manusia Indonesia jauh tertinggal, hal ini dapat dilihat dari hasil riset Ciputra yang menyatakan bahawa Indonesia hanya baru mempunyai 0,18% pengusaha dari jumlah penduduk  sedangkan syarat untuk menjadi negara maju minimal 2% dari jumlah penduduk harus ada pengusaha. Saat sekarang singapur sudah mempunyai 7% dan Amerika Serikat 5% dari jumlah penduduk.&lt;br /&gt;Dampak yang lain dari rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) Indonesia. Menurut laporan United Nation Development Programe/UNDP HDI pada tahun 2007 dari 177 negara yang dipulikasikan HDI Indonesia berada pada urutan ke-107. Indonesia memperoleh indeks 0,728.  Di kawasan ASEAN Indonesia menempati urutan ke-7 dari sembilan negara ASEAN yang dipublikasikan. Peringkat teratas di ASEAN adalah Singapura dengan HDI 0,922, disusul Brunei Darussalam 0,894, Malaysia 0,811, Thailand 0,781, Filipina 0,771, dan Vietnam 0,733. Sedangkan Kamboja 0,598  dan Myanmar 0,583 berada di bawah HDI Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemecahan Masalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akar permasalahan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tidak lagi berada pada satu faktor, tetapi digerogoti oleh berbagai faktor yang sudah komplikasi, sehingga membenahi dunia pendidikan di Indonesia perlu keseriusan yang tinggi dan strategi yang jenius. Kalau perlu mengikuti tawaran Ivan Illich dengan melakukan institutional revolution. Dalam konteks ini untuk memperbaiki dunia pendidikan minimal ada tiga modal yang harus menyentuh dunia pendidikan, yaitu modal sosial, kapital dan fisikal. Terpuruknya kualitas pendidikan di Indonesia tidak dapat disangkal sebagai akibat dari minamnya ketiga modal itu.&lt;br /&gt;Pada era reformasi anggaran pendidikan telah ditetapkan 20 % daripada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal ini pun masih rendah jika dibandingkan dengan negara jiran Malaysia yang telah merealisasikan anggaran pendidikan 25% dari APBN negaranya. Wajar percepatan peningkatan kualitas pendidikan di negara tetangga ini lebih cepat jika dibandingkan dengan Indonesia. Pada sekitar tahun 1970 negara tetangga ini banyak mengimpor guru dari Indonesia.&lt;br /&gt;Malahan dalam anggaran tahun 2008, terjadi pengurangan anggaran pendidikan yang mengejutkan. Semula menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008, mentapkan anggaran pendidikan  sebesar Rp 49,7 triliun. Namun berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-1/Mk.02/2008 pada 2 Januari 2008, anggaran pendidikan Indonesia mengalami pengurangan anggaran sebanyak 15, sehingga pada APBN 2008 pembiayaan pendidikan tinggal Rp 42,3 triliun. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan anggaran pendidikan tahun 2007 yang berjumlah Rp 44,1 triliun.&lt;br /&gt;Dampak yang signifikan dari rendahnya anggaran pendidikan ini adalah minimnya sarana yang mendukung kualitas pendidikan. Maka dengan penyusutan anggaran ini percepatan peningkatan kualitas pendidikan akan ikut terhalangi. Sarana-sarana penunjang pendidikan akan dapat diprediksikan berjalan di tempat. Salah satunya akan terlihat dari pengelolaan perpustakaan sekolah yang semakin memprihatinkan. Di Indonesia pernah dilaporkan dari 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Demikian pula dengan SLTP. Dari sekitar 70 ribu unit SLTP, cuma 36% yang memenuhi standar. Untuk SMU, cuma 54 % yang punya perpustakaan berkualitas standar. Kemudian untuk perguruan tinggi, dari sekitar 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia, cuma 60 % yang memenuhi standar.   &lt;br /&gt;Kondisi perpustakaan yang demikian, tidak dapat dihandalkan untu meningkatkan melek membaca siswa. Sementara di negara-negara maju dan beberapa negara tentangga sudah beralih pada melek informasi dan teknologi. Rendahnya melek memba tersebut sebagai salah satu hambatan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Hasil temuan riset International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) dalam tahun 1998-2001 ternyata dari 35 negara yang disurvei melek baca siswa Indonesia berada pada urutan yang terakhir. Pada tanggal 28 November 2007, IAEEA kembali mempublikasi hasil risetnya tentang minat baca anak di 41 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya menunjukan bahwa minat baca di Indonesia masuk ke dalam kelompok negara belahan bumi bagian selatan bersama Selandia Baru dan Afrika Selatan.&lt;br /&gt;Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, semenjak tahun 1998 kebiasaan membaca anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling rendah (skor 51,7). Skor ini di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1), dan Singapura (74,0). Sedangkan BPS tahun 2006 mempublikasikan, membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) dan membaca koran (23,5%). Rendahnya minat baca dikalangan siswa, secara langsung atau tidak langsung berpengaruhi terhadap kualitas sumber daya manusia, karena membaca secara signifikan dapat melahirkan kecakapan, cenderung memiliki intelegensi, penguasaan bahasa, dan keterampilan berkomunikasi (Cullinan &amp;amp; Bagert 1996). Oleh sebab itu, dinegara-negara maju pengembangan minat baca masyarakat sangat diperhatikan dan difasilitasi.&lt;br /&gt;Disamping rendahnya anggaran pendidikan, ternyata profesionalitas guru di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas guru-guru Indonesia yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73 %, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Rendahnya profesionalitas guru ini salah satu dipengaruhi oleh pendidikan guru yang belum memadai. Dari 2,7 juta orang guru di Indonesia hanya sepertiganya atau 35% saja  yang berpendidikan S1. Sedangkan di Sekolah Dasar guru berpendidikan S1 baru sekitara 10% sedangkan menurut undang-undang no 14 tahun 2005 guru Sekolah Dasar harus S1.&lt;br /&gt;Profesionalitas guru yang rendah ini menjadi sorotan dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri pendidikan negara E-9 yang berlangsung di Bali pada bulan Maret yang lalu. Menurut analisis Chief Section for Teacher Education Division UNESCO, Caroline Pontefract, pada tahun 2015 tenaga guru yang akan dibutuhkan oleh negara-negara E-9 (Cina, India, Indonesia, Brasil, Mesir, Bangladesh, Pakistan, Meksiko, dan Nigeria) mencapai 18 juta orang. Guru-guru ini harus mempunyai pendidikan formal minimal S1.&lt;br /&gt;KTT ini telah meyakinkan kepada negara-negara yang berpenduduk terbesar di dunia, untuk mempercepat meningkat profesionalitas guru dengan meningkatkan pendidikan guru, karena bagaimana pun juga pendidikan guru sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Hattie (2000) 63% mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan guru dan selebihnya baru oleh variabel-variabel lainnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai pendidikan yang berkualitas pendidikan guru harus diperhatikan. Inilah diantara permasalahan dunia pendidikan di Indonesia. Permasalahan ini bagaimana pun juga mesti capat di atasi, sehingga kualitas pendidikan yang tengah mati suri ini dapat bangkit dengan cepat   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggagas Pendidikan Untuk Semua&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di balik potret kualitas pendidikan yang masih rendah ini, ternyata pemerintah juga belum mampu menciptakan pendidikan untuk semua. Biaya pendidikan yang semakin mahal ternyata telah memperpanjang deretan anak-anak tidak sekolah. Menurut hasil penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) jumlah anak putus sekolah di Indonesia mencapai  4,18 juta. Kemudian 8000 anak di bawah umur yang bekerja ternyata mengalami putus sekolah. Hal ini berarti pendidikan masih belum menyentuh ranah masyarakat miskin. Sekolah-sekolah tanpa biaya yang dilansir hanya baru menjadi komoditik politik waktu kampanye menjelang pemilu.&lt;br /&gt;Pada tahun 2008, meningkatnya biaya hidup sementara pendapatan masyarakat masih tetap maka diprediksikan jumlah anak putus sekolah akan mengalami peningkatan dan mereka tidak bisa menyelesaikan kegiatan pendidikan sembilan tahun. Jika hal ini dibiarkan maka dimasa yang akan datang akan muncul generasi-generasi yang mempunyai sumber daya manusia yang rendah. Hal ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia menghadapi persaingan global yang semakin menuntut kualitas sumber daya manusia.&lt;br /&gt;Dampak yang paling signifikan dari anak-anak putus sekolah adalah rewannya  mereka dieksplotasi dan diperdagangkan. Keadaan ini bisa dilihat dari jumlah pekerja anak yang selalu meningkat di Indonesia. ILO memaparkan bahwa sebanyak 19% anak yang dibawah usia 15 tahun yang tidak bersekolah telah memasuki berbagai dunua kerja. Tidak mengherankan diantaranya tereksplotasi dan termasuk diperdagangkan. Menurut Aris Merdeka Sirait Sekretaris Jenderal Komnas Anak, sekitar 200 sampai 300 anak perempuan berusia di bawah 18 tahun di Indonesia telah diperjual belikan untuk memenuhi kebutuhan industri seks.  &lt;br /&gt;Sebuah resiko yang sangat fenomelogis, jika pendidikan di Indonesia tidak dapat menyentuh semua kalangan. Untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia pemerintah harus menyakian pendidikan yang mampu diakses oleh semua kalangan, sehingga anak-anak bangsa ini tidak mengalami putus sekolah. Terimakasih. Selamat Hardiknas. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2757239288648832796?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2757239288648832796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2757239288648832796&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2757239288648832796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2757239288648832796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/05/hardiknas-2008.html' title='HARDIKNAS 2008'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3515024422619388941</id><published>2008-04-15T12:03:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T12:25:54.700-07:00</updated><title type='text'>Modernisasi "Xihua" Westernisasi "Xiandaihua"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Xihua Vs Xiandaihua&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semalam langit hitam pekat, sekali-sekali gelegar menyentak, berdebatan hangat saya terus berjalan dengan Talcott Parsons, si pemilik atoritas fungsionalis. ”Modenisasi” satu kata yang dihadiahkan Parsons yang tidak bisa saya lupakan. Kata itu selalu bermain dalam benak saya dan bahkan mengilhamai satu mimpi, mimpi ”modernisasi”.&lt;br /&gt;Di alam mimpi itu saya bertemu dengan siganteng xihua dari China, xihua? Ya xihua. Xihua menjabat hangat tangan saya dan membekas sampai sekarang. Malahan ”dunia ketiga” gila dengan ke gantengan xihua. Semuanya terpesona dengan xihua, ingin menjadi xihua. Malahan di negara saya, kedatangan xihua disambut dengan riuh tepuk tangan ”horeeee!!!! Xihua datang!”. Gemes!!! Begitu gerutu pemerintah negara saya terhadap xihua.&lt;br /&gt;Xihua! Xihua punya tabiat sama dengan ”modernisasi” yang dieperkanalkan oleh Parsons di Amerika Utara pada tahun 1950-an. Heee...xihua modernisasi ”ala” negara tirai bambu yang kini telah berubah menjadi ”negara naga ngamuk”, sebagai salah satu negara yang menjadi pionir di rantau Asia.&lt;br /&gt;Pada tahun 1930-an, xihua mempunyai rival Xiandaihua. Kata orang China xiandaihua ”other” kita perusak identitas. Jangan ”gaul” dengan xiandaihua. Xiandaihua hanya tersipu, dalam hatinya tersimpan dendam kesemat. Akhirnya ocehan xiandaihua keluar juga,”awas kalian sebenatar lagi saya akan menjadi pusat peradaban dunia, saya akan rubah dunia dengan peradaban saya”.&lt;br /&gt;Wah!! Kata-kata Xiandaihua betul-betul terbukti. Peradaban dunia memang dikuasainya. Kemajuan selalu berkiblat padanya. Xiandaihua-xiandaihua!!! Ternyata ente westernisasi. Ya!....saya westernisasi ucap xiandaihua dengan pongah.&lt;br /&gt;Mampus kalian, kata xiandaihua sang westernisasi itu, sambil ngacak pinggang dihadapan rival-rivalnya. Entah mengapa pula Eyang McClelland, berkotbah!!! Hei negara-negara terbelakang, jika kalian mau maju monggo ambil contoh dan tauladani usaha-usaha negara maju, negara maju itu dulunya juga macam kalian tapi kini dia berubah karena ada usaha, nah! Usaha mereka itu yang perlu kalian contoh.&lt;br /&gt;Ternyata dasar negara berkembang, mau jalan pintas dan tidak hati-hati mendengarkan kotbah Eyang McClelland, mereka hanya ambil kutip, adopsi habis-habisan, akhirnya mereka lebih barat daripada barat. Chinggg!!! Dasar negara ketiga!.&lt;br /&gt;Tentang hal ini, si Karl Marx sang nabi sosialis nitip pesan dalam kultum senjanya, kira-kira pesannya ” negara ketiga ingat! Kamu itu merupakan bidadari cantik yang sedang tidur. Nah kecatikanmu, ntar lagi akan disentuh dan direbut bahkan diracuni oleh sang pangeran.” Siapa sang pengeran itu, ya itulah negara maju.&lt;br /&gt;Ya wis!!! Terserah ente, mo yang mana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Perihal cerita ini, didasari oleh beberapa sumber, khusus mengenai Xihua Vs Xiandaihua saya kutip dari Lo Rongqu, ed. Xihua yu Xiandaihua (Beijing University Press. 1985). Ide ini penulisan ini muncul usai membincangkan “memasyarakatkan gunjing” dari peraduan karabai. 15/4/08 still Malaysia&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3515024422619388941?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3515024422619388941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3515024422619388941&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3515024422619388941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3515024422619388941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/modernisasi-xihua-westernisasi.html' title='Modernisasi &quot;Xihua&quot; Westernisasi &quot;Xiandaihua&quot;'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2276235416839868118</id><published>2008-04-12T10:37:00.001-07:00</published><updated>2008-04-13T19:47:15.456-07:00</updated><title type='text'>SOSIALIS vs KAPITALIS???</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TEH TARIK SOSIALIS VS TOMYAM KAPITALIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis, berjumpa van peursen dalam “stategie van de cultuur” satu istilah menambah perbedaharaan ”kata” paspor budaya. Citra budaya yang kita miliki dan punyai. Hanya itu, dengan berpaspor budaya kita tidak layak menghadapi perkembangan zaman seperti ”putri malu”. Dengan berpaspor budaya pula kita tidak layak memberikan lebel primitif terhadap dunia yang kuno dan yang jauh tersuruk.&lt;br /&gt;Dalam citra budaya kita sering disuguhkan dua hal yang saling kontroversi, saling bertentangan dan salaing ingkar mengikar, tetapi sebagai orang yang memiliki paspor budaya kedua kontriversi itu dapat kita pilih menjadi mana yang paling ”pas” untuk dunia kita.&lt;br /&gt;Mungking dalam kerangka sederhana ibarat kita memilih minuman dan makan yang cocok untuk perut dan kesehatan, sehingga yang kontroversi itu bisa hidup perdampingan dengan damai. Seperti mendamaikan dua hidangan ”teh tarik sosiali dengan tomyam kapitalis”, tapi sayang tidak ada kata damai di dunia ini, sekali pun agama mengkhotbahkan damai!!! (siapa lagi yang menguraikan kedamaian)&lt;br /&gt;Sosialispun walau bermerek ”sosial” tidak pernah mengajarkan damai, malah pertempuran itu sebuah kenikmatan. Lihatlah, bagaimana pertempuran kelas-kelas untuk memperjuangkan nasibnya. Begitu juga kapitalis, bersikukuh dan tidak akan menyepakati duni damai, peperangan sebuah misi dalam segala-galanya, karena lagit dan bumi ”bisu” hanya sang waktu yang memberikan kedamaian itu melalui cara-caranya sendiri!!! Tak tau, mungkin fenomena kebengisan bumi telah mengajari ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh...Tuhan....aku bukan pengingkar&lt;br /&gt;tetapi seorang pencari paspor legal&lt;br /&gt;untuk tidak sesat dalam menerjmahkan titahMu&lt;br /&gt;di siniku dengarkan sabdaMu dikhutbahkan&lt;br /&gt;tapi semakin tidak mampu aku menerjemahkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh..Tuhan...aku terusik oleh tanyaku&lt;br /&gt;mana yang benar satu dari di antara itu&lt;br /&gt;tolong lepaskan aku dari kedugeman ini&lt;br /&gt;biar nuraniku tak terpekosa olehnya&lt;br /&gt;yang aku rindu sebuah khotbah suci&lt;br /&gt;seperti khotbah para nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh...Tuhan...layakah aku memilih&lt;br /&gt;sosialis atau kapitalis&lt;br /&gt;atau teh tarik tanpa bermerek sosialis&lt;br /&gt;atau tomyam tanpa berlebel kapitalis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;sayang, kedua-duanya aku suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(heeiiiiiiiiiiiii weaaaaaa.......goblok, rek!!!)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2276235416839868118?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2276235416839868118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2276235416839868118&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2276235416839868118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2276235416839868118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/sosialis-vs-kapitalis.html' title='SOSIALIS vs KAPITALIS???'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1664548878361281706</id><published>2008-04-11T22:11:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T22:53:40.834-07:00</updated><title type='text'>KAMPUANG NAN JAUH DI MATO MINANGKABAU MY VILLAGES</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABL3cag4bI/AAAAAAAAAMk/4ta44K5fKOM/s1600-h/Copy+of+12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188230186623099314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABL3cag4bI/AAAAAAAAAMk/4ta44K5fKOM/s400/Copy+of+12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; SURAU TEMPATKU ULANG KAJI DI PETANG HARI&lt;/strong&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABLucag4aI/AAAAAAAAAMc/1ZeqUHODBi8/s1600-h/Copy+of+sil.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188230032004276642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABLucag4aI/AAAAAAAAAMc/1ZeqUHODBi8/s400/Copy+of+sil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;NAGARIKU PARIANGAN TEMPAT MERAJUT KASIH&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABG9Mag4ZI/AAAAAAAAAMU/5NCIlfSlDHY/s1600-h/sum02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188224787849208210" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABG9Mag4ZI/AAAAAAAAAMU/5NCIlfSlDHY/s400/sum02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;RUMAH GADANG TEMPATKU MEMETIK LEMBAYUNG SENJA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABGoMag4YI/AAAAAAAAAMM/B8y_5Bk0PIk/s1600-h/sum06.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188224427071955330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABGoMag4YI/AAAAAAAAAMM/B8y_5Bk0PIk/s400/sum06.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;DANAU MANINJAU INDAH NIAN "RINDU BELAIAN BAYUMU"&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABGQcag4XI/AAAAAAAAAME/xWeQNKYG_Yc/s1600-h/West%2520Sumatera%25202%2520013.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188224019050062194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABGQcag4XI/AAAAAAAAAME/xWeQNKYG_Yc/s400/West%2520Sumatera%25202%2520013.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;GUNUNG MERAPI AKU INGAT BAHAGIA DI PUNCAKMU&lt;/strong&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABFdsag4WI/AAAAAAAAAL8/isxE5skVsOw/s1600-h/West%2520Sumatera%25202%2520009.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188223147171701090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABFdsag4WI/AAAAAAAAAL8/isxE5skVsOw/s400/West%2520Sumatera%25202%2520009.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; NGARAI SIANOK AKU INGAT SEJUKMU MENGGETAR SUMSUM&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1664548878361281706?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1664548878361281706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1664548878361281706&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1664548878361281706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1664548878361281706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/kampuan-ambo-jauh-di-mato-minangkabau.html' title='KAMPUANG NAN JAUH DI MATO MINANGKABAU MY VILLAGES'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/SABL3cag4bI/AAAAAAAAAMk/4ta44K5fKOM/s72-c/Copy+of+12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1984837889089813912</id><published>2008-04-11T21:57:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T21:59:44.921-07:00</updated><title type='text'>MASIH KEMISKINAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MENEKAN ANGKA KEMISKINAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan bangsa yang belum terselesaikan sampai hari ini dan masih menggelinding menebur pesakitan penderitaan rakyat. Kebijakan pemerintah pun terasa trial and error dalam menanggulanginya, sehingga tidak ada satu titik kepastian kapan akan surutnya deretan angka kemiskinan di bumi yang baru saja ditinggalkan oleh kematian satu penguasa rezim orde baru ini.&lt;br /&gt;            Nasib orang-orang miskin semakin tersuruk dengan kenaikan harga yang tidak rasional. Sepanjang tahun 2007 misalnya, kenaikan harga barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh rakyat kecil hampir tidak logis lagi, sehingga pada tahun ini orang-orang kecil menjerit mengikuti gejolak-gejolak kenaikan harga tersebut. Oleh sebab itu tidak mengherankan pada tahun 2007 angka kemiskinan di Indonesia ditemukan sebenyak 37, 17 juta jiwa atau 16, 56%.&lt;br /&gt;            Hal ini dipicu oleh pendapata masyarakat yang tetap sementara lonjakan harga barang-barang cukup tinggi. Pengahasilan orang miskin lebih terkuras untuk mengikuti irama kenaikan harga. Harga yang selalu naik itu adalah barang-barang yang ”akrab” dengan rakyat kecil. Belajar dari realita tahun 2005, bahwa kenaikan harga barang-barang telah menyumbangkan 70,54% terhadap total angka kemiskinan. Sedangkan pada tahun 2006 kenaikan barang-barang menyumbangkan 74,99%  terhadap total angka kemiskinan. Artinya kenaikan harga barang-barang selalu menyumbangkan terhadap angka kemiskinan.&lt;br /&gt;            Asumsi angka kemiskinan tahun 2008, nampaknya tidak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kemiskinan masih menganga-nganga diakhir pemerintahan SBY-Kalla. Target Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) yang menakar tahun 2009 menekan kemiskinan sampai pada level 8,2 % sukar akan terwujud, hanya menjadi bayang semu.&lt;br /&gt;            Oleh sebab itu sepanjang perjalanan pergantian pemerintah, sejarah kemiskinan di Indonesia masih stagnan berada dalam catatan buram. Mulai dari pemerintahan orde baru dan sampai pada pasca pemerintahan reformasi kemiskinan di negeri ini dengan ”elok” masih tersimpan dalam keranda ”bisu”. Orang-orang miskin tidak merasakan akses kebijakan pemerintah dalam menanggulangi nasibnya. Nasib mereka mengalir dalam perjuangan hidup mereka sendiri. Untung mereka masih menyisakan etos kerja untuk tetap bertahan hidup.&lt;br /&gt;            Apa sesungguhnya etos kerja orang miskin? Jawabannya bukan sepenuhnya seperti etos kerja yang dikemukakan oleh Weber sebuah etos kerja yang ”lurus” tertapi bercampur dengan dengan chauvinsitik. Di mana, perampokan, pencurian, penjarahan dan pembunuhan menjadi bahagian dari etos mereka. Etos seperti ini, menurut Scott sebagai bentuk perlawanan bagi orang miskin untuk memperjuangan hidupnya.  Dengan demikian tidak heran di belahan negara-negara miskin, angka kejahatan dan kriminalitas cukup tinggi.&lt;br /&gt;Bagi yang tidak menyisakan etos kerja sering menempuh jalan fatalisme, sehingga tidak heran orang-orang miskin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, kerena tidak sanggup menghadapi realitas yang tidak mampu dicerna oleh rasionalitas mereka.&lt;br /&gt;            Kemiskinan di Indonesia yang tidak jelas kapan the end of historynya, maka yang paling mendesak dilakukan adalah penekanan angka kemiskinan melalui perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak dalam menanggulanginya. Kemudian mendompreng mentalitas para pejabat yang tidak rasional melihat realitas. Dalam konteks ini suara Ivan Illich dalam celebration of awereness a call for institusional revolution (1969) perlu kita hidupkan kembali, untuk menggenjot mentaliti pejabat agar bersungguh-sungguh menangani masalah kemiskinan.&lt;br /&gt;            Di negeri ini kita menyaksikan banyak pejabat yang kurang care dengan realitas, termasuk tindakan yang tidak rasional dilakukan oleh legislatif, seperti di tengah-tengah rakyatnya dihimpit kemiskinan malahan mereka menuntut kenaikan insentif, gaji, tunjangan dan sebagainya. Garamsci, menyebutnya tindakan seperti itu sebagai hegemoni yang selalu meneruskan rakyat pada jurang kemiskinan dan keterpinggiran.&lt;br /&gt;            Dalam menekan angka kemiskinan yang tidak banyak diupayakan oleh pemerintah ini, kita rindukan kembali hadirnya Hatta dengan sistem ekonomi sosialis ”ala” Indonesianya. Mungkin kita merindukan berlian yang mau memberdayakan orang miskin, seperti yang dilakukan oleh Hernando De Soto terhadap masyarakat miskin di Peru. Masalahnya, kemiskinan tidak akan usai jika tidak dijamah oleh kebijakan dan pemberdayaan yang signifikan dengan permasalahan yang menyelimuti kemiskinan tersebut.&lt;br /&gt;            Buktinya, kita masih ingat dengan program Inspres Dana Tertinggal (IDT) masa orde baru, Jaringan Pengaman Sosial, dana subsidi untuk orang miskin dan sebagainya ternyata program tersebut tidak membawa perubahan apa-apa. Artinya program tersebut tidak menguak angka kemiskinan kerena tidak dijamaah penanganan yang berbasis akar rumput. Oleh sebab itu, pemerintah perlu belajar dari kegagalan tersebut, supaya hidup orang miskin di negara ini dapat berubah. &lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1984837889089813912?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1984837889089813912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1984837889089813912&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1984837889089813912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1984837889089813912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/masih-kemiskinan.html' title='MASIH KEMISKINAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3625514855698749330</id><published>2008-04-11T21:54:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T21:55:08.498-07:00</updated><title type='text'>POLITIK DAN KEMISKINAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KEMISKINAN SEBAGAI KOMODITI POLITIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Akhir-akhri ini kita dikejutkan dengan menaiknya harga kedele sebagai bahan tempe dan tahu secara tidak rasional, sehingga tidak sedikit pengusaha yang memproduksi makanan rakyat ini terpaksa gulung tikar, kerena tidak sanggup membeli kedele yang harganya yang membumbung tinggi. Bakan tidak sedikit rakyat yang hidupnya pas-pasan kebingungan untuk mencari lauk pengganti tahu dan tempe yang terjangkau harganya dengan penghasilan mereka.&lt;br /&gt;            Sebelum ini, kita juga telah dikejutkan oleh naiknya harga minyak goreng yang tidak rasional yang berdampak negatif pula terhadap rakyat kecil dan usaha-usaha rumah tangga. Di samping itu, barang-barang kebutuhan lain berangsur-angsur naik harganya dengan rasional. Tidak kalah penting, minyak tanah sebagai bahan bakar yang paling dominan dipakai oleh orang miskin di samping harganya yang mahal juga sangat sulit untuk diperoleh. Sementara kompor gas untuk orang miskin yang disubsidi pemerintah tidak mencukupi kerena jumlahnya terbatas pada wilayah tertentu.&lt;br /&gt;            Kenaikan-kenaikan harga barang yang sangat akrab dengan rakyat kecil ini, secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tingkat kesejahteraan mereka dan meningkatnya angka kemiskinan. Jika menilik data kemiskinan tahun 2006, di negara ini masih terlihat orang miskin sebanyak 39,05 juta jiwa. Dimana pada tahun 2007 jumlahnya tetap meningkat. Sedangkan memasuki tahun 2008 ini orang miskin masih belum luput dari permasalahan, mereka diperkiran akan meningkat jumlahnya mengingat melonjaknya harga barang-barang yang akrab dalam kesehariannya. Dari realita tahun 2005 dan 2006, pengaruh kenaikan harga barang-barang ini telah menyumbangkan terhadap angka kemiskinan dari 70, 54% menjadi 74,99% (BPS 2006).&lt;br /&gt;            Maka dengan kenaikan harga tempe, tahu dan minyak makan secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap angka kemiskinan. Apalagi, saat sekarang subsidi terhadap orang miskin tidak jelas keberadaannya, maka tahun 2008 diprediksikan orang miskin akan bertambah dari tahun sebelumnya. Di samping itu, dengan gulung tikarnya beberapa usaha tempe dan tahu, tentu juga menambah deretan angka pengangguran di negeri ini.&lt;br /&gt;Orang miskin komoditi politik&lt;br /&gt;            Dari realitas yang dihadapi oleh orang miskin di negeri ini dapat dikatakan potret kehidupan sosial mereka masih suram. Mereka belum banyak ditenggarai oleh program-program yang mensejahterakan. Nasib mereka baru tersentuh dalam permainan kampanye partai politik. Seluruh partai politik yang ikut dalam pemilihan umum pasti menawarkan janji-janji manis yang menyulap perubahan nasib para kelompok yang dijuluki wong cilik ini. Nasib orang miskin terjebak dalam komoditi politik dan masih terperangkap dalam harapan-harapan yang semu. Mereka belum ada yang memperjuangkan untuk keluar dari kemiskinan. Dewa penyelamat orang miskin, hanya dirinya sendiri. Belum ada gebrakan yang signifikan nampak dari berbagai kalangan. Orang miskin di Indonesia, sangat memerlukan think tank yang merubah nasibnya, seperti yang tengah terjadi di Peru, di mana orang-orang miskin di negera tersebut sedang diperdayakan dengan sungguh-sungguh oleh seorang pemikir ekonomi yang bernama Hernando de Soto. Di Indonesia, orang miskin sedang menunggu sentuhan tangan yang sungguh-sungguh tersebut dan mereka sudah bosan berada dalam janji-jani politik.&lt;br /&gt;            Nasib orang miskin yang tidak kunjung berubah, mereka selalu dibebenai oleh kenaikan harga. Bahkan tempe dan tahu yang telah menjadi ikon konsumsi orang miskin harganya pun ikut terseret menyudutkan nasib mereka. Maka semakin lengkap penderitaan orang miskin di negeri ini. Yang tersisa bagi orang miskin adalah, sebuah harapan menjadi kenyataan, bagaimana mereka untuk dapat keluar dari ”pesakitan” hidup yang tidak berpihak pada mereka itu.&lt;br /&gt;            Orang-orang miskin sudah lelah menghadapi realitas yang serba tidak memberikan ”pengertian”. Dalam menghadapi pemilu tahun 2009, akankah orang-orang miskin yang lelah ini menjadi komediti politik? Secara pasti mereka akan tetap menjadi langganan komoditi kampanye oleh partai politik. Kapan potret buram orang miskin ini akan mampu dicut ? jawabannya tidak pasti, mengingat lambannya program pemerintah yang menyentuh mereka dan tidak adanya gebarakan yang signifikan dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;            Bahkan orang miskin, sering berada dalam lompatan program pemerintah yang gagal. Lihat misalnya, semenjak era orde baru telah dicoba mengentaskan kemiskinan dengan program Inspres Desa Tertinggal (IDT) hasilnya pun gagal dan tidak signifikan hanya menjadi projek pemerintah. Kemudian, memasuki era krisis moneter pengentasan kemiskinan dilakukan dengan program Jaringan Pengaman Sosial (JPS), nasibnya pun tidak jauh berbeda dengan IDT. Orang miskin hanya menjadi komunitas konsumtif dan tidak menjadi produktif. Kemudian pada era pemerintahan sekarang ini, orang miskin dipupuk dengan subsidi setengah hati. Dan pada awal pemerintahan SBY-Kalla orang miskin mendapat pembagian raskin (beras miski) dan uang lauk. Kemudian program ini menghadapi polemik, kerena pemberiannya banyak tidak tepat sasaran. &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3625514855698749330?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3625514855698749330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3625514855698749330&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3625514855698749330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3625514855698749330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/politik-dan-kemiskinan.html' title='POLITIK DAN KEMISKINAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3501580163028717654</id><published>2008-04-11T21:52:00.001-07:00</published><updated>2008-04-11T21:52:46.802-07:00</updated><title type='text'>KUALITAS PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KUALITAS PENDIDIKAN SEMAKIN TERPINGGIRKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Membaca salah satu judul berita Kompas (28/2) Pendidikan Bukan Lagi Prioritas, pasti akademisi tercenung. Masalahnya, kebijakan pemerintah untuk mengurangi 15 persen anggaran pendidikan merupakan kebijakan yang mundur dan tidak konsisten dengan peningkatan kualitas pendidikan. Sangat tidak adil, jika kebijakan itu tetap dilakukan. Hal ini sebagai bukti nyata rendahnya kepedulian pemerintah terhadap pendidikan. Jika pemerintah mempunyai kepedulian, semestinya konsisten dan tidak mengambil langkah seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;            Pengurangan anggaran pendidikan hanya akan menimbulkan ketidak berdayaan institusi pendidikan untuk bangkit dari keterpurukan. Kualitas pendidikan di negara ini akan mengalami ketertinggalan terus. Jika dilihat dari hasil survei yang dilakukan Times Higher Education Supplement (THES) semakin terbaca ketertinggalan kualitas pendidikan di negeri ini. Pada tahun 2006 Universitas Indonesia dilaporkan hanya mampu menempati urutan urutan 250 dan jauh tertinggal dibandingkan dengan Universiti Kebangsaan Malaysia di urutan 185. Survei yang sama pada tahun 2007 dari 3000 perguruan tinggi dunia, ITB baru bisa menempati urutan 927. Sementara Singapura menjadi pionir yang sulit dikalahkan di Asia Tenggara ini .&lt;br /&gt;            Pemangkasan anggaran pendidikan, patut menjadi kegamangan bagi akademisi. Masalahnya, persoalan terbesar yang mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan adalah minimnya anggaran yang dialokasikan untuk mesin&amp;shy;-mesin pencerdas bangsa ini. Dalam hal ini pemerintah menyadari, tetapi tidak konsisten dan tidak mempunyai niat yang sungguh, sehingga anggaran pendidikan terpaksa dipangkas yang semestinya ditingkatkan. Oleh sebab itu, dunia pendidikan kita akan masih saja menghadapi masa-masa sulit untuk memperbaiki kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;            Di balik pemangkasan anggaran pendidikan ini yang akan terjadi dalah, tingginya biaya pendidikan. Masalahnya untuk menutupi kekurangan anggaran tersebut, perguruan tinggi terpaksa menggenjot biaya pendidikan sehingga pendidikan dapat disajikan dengan layak. Hal ini menjadi problema bagi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai permasalahan sekarang ini. Maka yang dikuatirkan adalah semakin panjangnya deretan generasi yang kalah dari pendidikan.&lt;br /&gt;            Kemudian komersialisasi sulit dihindari oleh institusi pendidikan, jika pemerintah akan tetap menempuh kebijikan yang tidak memihak pada pencerdasan bangsa ini. Jika tidak komersialisasi maka yang terjadi adalah mati surinya kualitas pendidikan, dimana pendidikan disajikan dengan apa adanya dan berjalan dengan setengah hati. Akhirnya instititusi pendidikan hanya menjadi mesin-mesin pencetak generasi pengangguran. Sebenarnya fenomena ini sudah terlihat dengan jelas dan sudah menjadi pengetahuan publik. Banyaknya pengangguran dikalangan lulusan perguruan tinggi adalah sebagai salah satu bukti mati surinya kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut.&lt;br /&gt;            Di samping itu juga akan terjadi kekuatiran kemandulan ilmiah yang semakin akut di perguruan tinggi, jika pemerintah tetap bersikukuh dengan kebijakan mengurangi 15 persen anggaran tersebut. Kemandulan ilmiah itu yang menyebabkan rendahnya peranan perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa, sehingga keberadaan perguruan tinggi hanya menjadi menara gading belaka dan tidak mampu memberikan ide-ide bernas dalam setiap penyelesaian permasalahan bangsa. Tidak heran, ditengah mencuatnya kemiskinan, meningkatnya harga kedele, morat-maritnya petani, terjadinya bencana yang silih berganti dan sampai pada masalah lumpur Lapindo, peranan perguruan tinggi lebih dominan sebagai wait and see.&lt;br /&gt;            Minimnya perguruan tinggi menghasilkan teori dan hasil penelitian yang dapat mencerahkan sebagai resiko daripada kemandulan ilmiah tersebut. Semstinya perguruan tinggi mempunyai budaya ilmiah yang kuat sehingga dapat memainkan peranan penting dalam kemajuan bangsa. Untuk keluar dari kemandulan ilmiah ini, salah satu langkahnya adalah melalui pembiayaan pendidikan yang memadai.&lt;br /&gt;            Jika pemerintah akan tetap bersikukuh dengan pemangkasan tersebut, maka eksistensi perguruan tinggi akan tidak jauh berbeda dengan masa lalu dan kualitas pendidikan jalan ditempat, sehingga bangsa ini masih tetap terkubur dalam potret yang buram yang tidak terpecahkan oleh pendidikan.&lt;br /&gt;            Dalam konteks ini, pemerintah perlu meyakini telaah Giddens dalam the third way bahwa kemajuan pendidkan sudah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar dalam membangun bangsa yang berkesejahteraan. Oleh sebab itu pemerintah harus  konsisten untuk memajukan pendidikan.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini seruan Ivan Illich untuk tetap menggasak pemerintah memperhatikan pendidikan rakyat perlu disuarakan, agar pemerintah tidak memandang masalah ini dengan sebelah mata. Bahkan, dengan terjadinya pengurangan anggaran dalam kaca mata Ivan Illich sama halnya memperkosa dunia pendidikan yang berdampak terhadap rendahnya martabat bangsa. Oleh sebab itu tidak ada jalan lain, pemerintah harus konsisten dengan peningkatan kualitas pendidikan membenahinya dengan kebijakan-kebijakan yang bernas. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3501580163028717654?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3501580163028717654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3501580163028717654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3501580163028717654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3501580163028717654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/kualitas-pendidikan.html' title='KUALITAS PENDIDIKAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1669670551692064363</id><published>2008-04-11T21:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T21:51:48.445-07:00</updated><title type='text'>POTRET PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KEKERASAN DI INSTITUSI PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Akhir-akhir, kekerasan di institusi pendidikan menjadi gejala yang fenomenal dan  hampir menunjukan satu trend. Tradisi chauvinistik nyaris menjadi bahagian di kalangan lembaga yang dihuni oleh kalangan terdidik. &lt;br /&gt;            Institusi pendidikan terseret dalam moralitas ”otot” yang cendrung melakukan resistensi (pembalasan) dengan kekerasan. Tradisi moralitas yang dibangun dengan sense ” nurani dan logika” terpinggirkan bahkan hanya menjadi jargon teoritik yang tidak terpraktekkan dan hanya tinggal dalam catata-catatan yang tidak terbaca, sehingga moralit dalam peradaban  intelektual termarjinal.&lt;br /&gt;            Fenomena kekerasan itu dapat lihat dari tragedi anarkis yang berlangsung akhir-akhir ini dibeberapa institusi pendidikan di negeri ini, termasuk di Sumatera Barat sendiri. Kampus dan sekolah sudah doyan dengn tradisi ”amuk” ketimbang tradisi logis yang harmonis. Penyelesaian masalah sering dilakukan dengan jalan pintas ”amuk” kekerasan dengan merusak fasilitas pendidikan.&lt;br /&gt;            Seperti yang dialami oleh ”tragedi” Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dan kemudian diikuti oleh anarkis di Universitas Nomansen. Di Sumatera Barat, kita juga pernah menyaksikan kekerasan, seperti yang terjadi di perguruan tinggi mantan IKIP. Kemudian diikuti oleh kekerasan intelektual yang mengentayangi sebuah perguruan tinggi berbasis Islam. Di Sulawesi juga mengambang kekerasan yang serupa di perguruan tinggi. Hal itu semua mencerminkan sebuah potret buruk dalam institusi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret kekalahan moralitas&lt;br /&gt;            Sesungguhnya, mencermati lebih jauh dan detil tentang fenomena kekerasan yang melanda di beberapa institusi pendidikan tersebut, ada satu indikasi dunia pendidikan kita tengah berada dalam dilema kekalahan moralitas. Anthony Giddens menilai, kekalahan moralitas ini sebagai akses dari ketidak berdayaan institusi dalam menjembatani komunitas untuk memaknai kehidupan. Kekalahan moralitas telah melahirkan dunia sosial yang sering clash atau berantam dengan nilai-nilai universal. Oleh sebab itu, dinamika sosial dalam era global ini selalu mencerminkan kontroversi atau paradok, seperti dikatakan oleh John Nasibitt, sehingga prediksi kita tentang peradaban global yang harmonis dan berdinamika sosial di atas moralitas ternyata hanya bayangan semua.&lt;br /&gt;            Kekerasan menjadi tradisi yang tidak terbendung dan tercegah oleh siapa saja. Sampai ke akar rumput kita menyaksikan kekerasan bahkan kekerasan itu telah menjadi seni berita di media massa.&lt;br /&gt;Keruntuhan moral diikuti oleh ketidak berdayaan misi-misi pendidikan dan agama dalam menjembatani kehidupan manusia, seperti yang disinyalir oleh Ivan Illich dalam Celebration of awareness a call for institutional revolution (1969). Institusi pendidikan dan agama lebih banyak terbawa ke dalam ranah kepentingan, ketimbang dijadikan sebagai pemberdayaan manusia. Lihat misalnya, institusi pendidikan lebih terseret kedalam mesin pencetak uang ketimbang mesin pendidik yang membangun kesejatian manusia. Institusi pendidikan lebih dominan menjadi ladang bisnis yang melabrak esensi pendidikan itu sendiri. Begitu pula dengan ajaran agama, lebih banyak kita seret sebagai penjastifikasi atau pembenaran-pembenaran yang melumpuhkan logika dan nurani ketimbang kita jadikan sebagai aset yang membangun masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas yang terbengkalai&lt;br /&gt;           Di balik, tragedi-tragedi kekerasan itu institusi pendidikan di negeri ini juga tengah menghadapi permasalahan kualitas. Oleh sebab itu, tragedi-tragedi kekerasan yang terjadi hanya menambah kebangkurtan kualitas yang semakin kursial. Di pentas dunia, kualitas pendidikan perguruan tinggi kita masih terpuruk jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Jika dilihat dari data tahun 2006 menurut hasil survei Times Higher Education Supplement (THES), perguruan tinggi Indonesia baru bisa menjebol deretan 250 yang diwakili oleh Universitas Indonesia, kualitas ini berada di bawah prestasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang menempati urutan 185. Kumudian pada tahun 2007 menurut survei THES dari 3000 unversitas yang ada di dunia, ITB baru berhasil berada pada urutan 927 dan sekaligus menjadi universitas top di Indonesia.&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan di negeri ini masih terbengkalai dan masih banyak yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Oleh sebab terseretnya institusi pendidikan dalam tragedi-tragedi kekerasan ini akan memparah kualitas pendidikan di negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1669670551692064363?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1669670551692064363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1669670551692064363&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1669670551692064363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1669670551692064363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/potret-pendidikan.html' title='POTRET PENDIDIKAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1193869716861931078</id><published>2008-04-09T22:38:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T22:43:24.024-07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN SATU SUDUT</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2o78ag4OI/AAAAAAAAAK8/nYTXblzGen8/s1600-h/IMG_0310.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187488093583761634" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2o78ag4OI/AAAAAAAAAK8/nYTXblzGen8/s400/IMG_0310.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1193869716861931078?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1193869716861931078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1193869716861931078&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1193869716861931078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1193869716861931078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/perempuan-satu-sudut.html' title='PEREMPUAN SATU SUDUT'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2o78ag4OI/AAAAAAAAAK8/nYTXblzGen8/s72-c/IMG_0310.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-4778659874796713955</id><published>2008-04-09T21:15:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T21:43:59.791-07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN TIGA SISI KE DUA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2a-Mag4MI/AAAAAAAAAKo/3ulMhuZ5tPI/s1600-h/IMG_0174.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187472739075678402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2a-Mag4MI/AAAAAAAAAKo/3ulMhuZ5tPI/s400/IMG_0174.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-4778659874796713955?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/4778659874796713955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=4778659874796713955&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4778659874796713955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4778659874796713955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/perempuan-tiga-sisi-ke-dua.html' title='PEREMPUAN TIGA SISI KE DUA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2a-Mag4MI/AAAAAAAAAKo/3ulMhuZ5tPI/s72-c/IMG_0174.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1611220593091793208</id><published>2008-04-09T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T21:15:01.316-07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN TIGA SISI PERTAMA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2UJcag4LI/AAAAAAAAAKg/4W1LchdR1yQ/s1600-h/IMG_0217.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187465235767812274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2UJcag4LI/AAAAAAAAAKg/4W1LchdR1yQ/s400/IMG_0217.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1611220593091793208?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1611220593091793208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1611220593091793208&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1611220593091793208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1611220593091793208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/perempuan-tiga-sisi-pertama.html' title='PEREMPUAN TIGA SISI PERTAMA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2UJcag4LI/AAAAAAAAAKg/4W1LchdR1yQ/s72-c/IMG_0217.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-6746231811833023430</id><published>2008-04-09T21:02:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T22:45:43.230-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>PEREMPUAN TIGA SISI DAN SATU SUDUT&lt;br /&gt;(semua candu “akar rumput” suka marhain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan under coverku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Peursen dalam strategie van de cultuur mengajari hakikat dari kebudayaan itu adalah ”tradisi yang berubah-ubah”, hidup adalah sebuah warna dari perubahan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa, waktu dan hidup adalah citra budaya dari setiap manusia. Tidak ada hidup yang tidak berubah dan tidak ada kehidupan yang datar, hidup adalah dinamisasi yang berpacu dan bergulir seiring dengan waktu.&lt;br /&gt;Sejarah kehidupan tidak pernah terelakkan, cuma saja kita tidak sadar perubahan itu sehingga catatan-catatan hidup kita yang berwana-warni tidak pernah kita lukis pada sehelai kampas, hanya sering dilukis dalam kenangan dan sekali-sekali kita ungkap ketika ada rasa rindu dan rasa benci atau ketika ada perlu.&lt;br /&gt;Dalam sepenggal perjalanan hidup perempuan tiga mata sisi telah memberikan banyak ”paspor budaya” (Van Peursen). Masing-masing menyuguhkan ”teh tarik” dengan cita rasa yang berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, terasa ”multikultural”, warna-warni ”keluhuran” yang menyematkan catatan-catatan yang berharga untuk direnungi, dihayati, diketawai dan bahkan untuk diolok-oloki (Ayo Mb Yu, komen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Tiga Mata Sisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tiga mata sisi&lt;br /&gt;lucumu, bengismu, candamu&lt;br /&gt;bertemu di satu gelas teh tarik&lt;br /&gt;bermerek karl marx&lt;br /&gt;dan disatu mangkok tomyam&lt;br /&gt;bermerek kapitalis&lt;br /&gt;setiap ending ceritamu hanya kata yang sama&lt;br /&gt;”saatnya kembali ke leptop”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tiga sisi&lt;br /&gt;gilamu berabstraksi&lt;br /&gt;candumu kecut ketika bentang&lt;br /&gt;yang bergaya kapitalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(untuk Mb yu, kudel dan aku (si tiga mata sisi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mb Yu Ratna ”calon dekan”Wati YS&lt;br /&gt;Mb yu, begitu aku menyapa perempuan pertama dalam tiga mata sisi ini. Senioritas dari pejuang ”sosialis” diantara kami dan penyelamat ”perut” ketika ”bokek”. Mb yu, tq setiap traktirannya. Ntar lagi, Mb yu akan mendekap segala kenikmatan itu, Mb yu lah orang yang paling bahagia di dunia ini (ikon kata dari aku yang selalu aku gadaikan ke Mb yu, ketika Mb yu berkeluh dan kesah).&lt;br /&gt;Hanya dari April 2008 ini, Mb yu tinggal menghitung hari dan mengurai makna (bukan membangun sepi mengurai nafsu) untuk sampai ke singga sana itu. Sayang ”bebek mereh” tidak lagi akan mengantarkan kegerbang kebahagian itu (habis semua aset sudah dijual). Tenang, masih ada ”bebek hitam” (biar pun dipinjam yang penting ”bebek” sudah menuaikan janji ”bebek hitam/merah mengantarkan Ph.D).&lt;br /&gt;Mb yu! Selepas bebek mengantarkan Ph.D. Giliran Ph.D mengantrakan dekan (tidak ada orang di atas dunia ini yang sebahagia mb yu). Setelah itu, sampailah tugas dekan mengantarkan hajji (bukan pak hajji!!!taubat itu perlu Mb yu).&lt;br /&gt;Mb yu! Selepas itu aku tidak tahu, tetapi yang pasti aku akan menjumpai mb yu menjadi seorang borokrasi entah sejati atau abu-abu (mana tau totalitas jadi kapitalis benaran). Masalahnya, dalam diri manusia itu selalu ada dua ”kapitalis dan Sosialis”. Ketika kita berdisikusi ”tanpa uang” kita selalu menjadi sosialis yang ngoceh kesejatian sosialis, tapi ketika kita bubar kita resmi menjadi ”kapitalis” yang harus bayar ”minuman masing-masing”.&lt;br /&gt;Mb yu! Smile for me...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudel Delvi“Pecandu Post Kolonial”Wahyuni&lt;br /&gt;Kudel orang ke dua dari perempuan tiga sisi. Umur paling kecil body paling besar. Jagoan bahasa Inggris dan berpaspor romantis. Smile for all. Pecandu kajian post kolonial dan berbuai cita-cita menjadi wali nagari, ”bos goreng pisang”, menejer ”lontong Padang” enatahlah apalagi tapi dari lubuk hatinya ingin menjadi seorang pendidik sejati, back to campus alias menjadi dosen! (kud! This just kidding). Bergairah membahas pemikiran Edwar Said dan konco-konco post kolonial lainnya.&lt;br /&gt;Kritisi, dan “cumeeh” satu tradisi yang kuat melekat kuat padanya, membaca yang tersurat dan bahkan sering menanyakan subtansial dan esensial tanpa batas (sori kud pertanyaannya sering tidak terjawab karena kita sama-sama lemah dalil). Kita sudah memilih diskusi sosialis yang menarik (jangan sampai diteologikan, masyarakat tidak siap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Silfia ”Malang di atas Malang” Hanani&lt;br /&gt;Tak banyak koment, biarlah Mb yu dan Kudel yang komen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu Sudut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emi ”Karabai” Marthala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cik, sori. Ciklah perempuan satu sudut, penyelamat dari dua sisi. Biarlah kami panggil saja cik dengan ”karabai”, biar seru. Kesenangan cik bersolo karir sudah terganggu oleh kami-kami (maklum kami (silfia) orang yang butuh suaka). Maaf, jika aset cik telah terganggu oleh kaum yang mengaku pejuang sosialis. Sebenarnya cik lah yang pejuang sosialis itu.&lt;br /&gt;Cik! Dunia cik memang indah, nikmatilah keindahan itu....dunia memang sedang ditangan cik! Selamat cik.......!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya, punya keindahan&lt;br /&gt;hidup belajar dari keindahan semua itu&lt;br /&gt;keindahan itu, menambatkan satu budaya&lt;br /&gt;kanjadi dermaga persahabatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-6746231811833023430?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/6746231811833023430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=6746231811833023430&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6746231811833023430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6746231811833023430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/perempuan-tiga-sisi-dan-satu-sudut.html' title=''/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-4574787855539306928</id><published>2008-04-09T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T00:09:01.337-07:00</updated><title type='text'>SURAUKU JANGAN SAMPAI ROBOH</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xrexxUaZI/AAAAAAAAAKY/LI1xfe-6uu4/s1600-h/eastern-highland-022%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187139047324412306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xrexxUaZI/AAAAAAAAAKY/LI1xfe-6uu4/s400/eastern-highland-022%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xrPxxUaYI/AAAAAAAAAKQ/8XewyabDVCA/s1600-h/agam-015%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187138789626374530" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xrPxxUaYI/AAAAAAAAAKQ/8XewyabDVCA/s400/agam-015%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-4574787855539306928?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/4574787855539306928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=4574787855539306928&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4574787855539306928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4574787855539306928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/surauku-jangan-sampai-roboh.html' title='SURAUKU JANGAN SAMPAI ROBOH'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xrexxUaZI/AAAAAAAAAKY/LI1xfe-6uu4/s72-c/eastern-highland-022%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-1990596789362127232</id><published>2008-04-08T23:56:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T23:58:18.122-07:00</updated><title type='text'>MEYAKINKAN PERAN AGAMA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEYAKINKAN KEMBALI PERANAN AGAMA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            World Christian Encyclopedia mencatat bahawa dari waktu ke waktu telah terjadi peningkatan jumlah masyarakat dunia yang tidak beragama. Pada tahun 1900 hanya 0,2% dari penduduk dunia yang tidak beragama, kemudian tahun 1970 meningkat menjadi 15,0%. Pada tahun 1980 berjumlah 16,4% dan meningkat menjadi 17,1% pada tahun 2000.            Data tersebut sebagai kritikan terhadap peran agama yang tidak tersampaikan dengan ”indah” di dalam kehidupan. Peranan agama, telah terseret oleh arus kepentingan yang tidak dapat menyelesaikan persoalan kehidupan dan terlalu sering dibawa ke dalam wilayah ”abu-abu”, sehingga peranan humanisme yang dibangun oleh agama mati dalam retorika kepentingan. Akhirnya missi agama sebagai pembawa trasformasi yang rahmatalil’alamin tidak terurai. Yang terpapar adalah era keamburadulan atau era juggernaut dalam istilah Giddens dan era chauvinistic kata Naisbitt.&lt;br /&gt;            Peranan agama yang tidak terurai dengan indah itu telah menyeret keragu-raguan manusia terhadap agama. Frustasi sosial yang tidak terjamaah oleh agama kenyataannya juga semakin memperlebar keragu-raguan tersebut, akhirnya yang terjadi adalah pelarian diri ke luar dari agama, sehingga the end of idiolog seperti yang dikatakan Daniel Bell pada tahun 1960 menjadi fenomena sekarang ini.&lt;br /&gt;            Pelarian ke luar dari agama bukan semata-mata kecelakaan dari individu, tetapi kesalahan umat beragama yang menyimpangkan peranan agama dari tujuan universalnya. Peranan agama yang suci, damai, berkeadailan, pro kemanusiaan dan mencerahkan terseret ke dalam arus kepentingan, sehingga agama terlihat sebagai sesuatu yang menakutkan dan menyangarkan. Akhirnya kefrustasian terhadap agama tidak dapat dihindari. Kefrustasian terhadap peran agama ini salah satu faktor yang menyebabkan orang memilih  untuk tidak beragama. Sinyalemen seperti itu telah lama digubris oleh Nietzsche yang tercermin dalam pernyataannya tuhan sudah mati. Di mana peranan agama tidak lagi berada pada kesejatiannya.&lt;br /&gt;            Meningkatnya jumlah penduduk dunia untuk tidak beragama bukan lagi sebagai akses dari liberalisasi yang menyerudup ke dalam agama, tetapi sebagai dampak daripa ketidak mampuan umat beragama membawa misi agama sebagai penjawab tantantangan zaman.&lt;br /&gt;            Di sampaing itu peranan agama lebih dominan di bawa ke ranah ukhrawi dan agak mengabaikan ranah duniawi, sehingga tidak hayal agama berjurang dengan misi ekonomi, teknologi, politik dan sebagainya. Gap ini yang melebarkan agama terlihat tidak pro terhadap kemajuan.&lt;br /&gt;Ketertinggalan peranan agama dalam mengset dunia menjadi aman, damai, sejahtera dan berperadaban sebagai salah satu penyebab bergolaknya komunitas frustasi terhadap agama. Tindakan-tindakan pembelakangan terhadap agama juga semakin terlihat dalam realitas kehidupan, sehingga agama hanya menjadi pengisi kolom KTP dan agama sebagai simbol resmi untuk memenuhi tuntutan negara. Di mana tindakan dan manifestasi hidup tidak sejalan dengan tuntutan agama. Fenomena ini jauh-jauh hari telah dikuatirkan oleh Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Missi rahmatalil’alamin&lt;br /&gt;            Di tengah-tengah fenomena peningkatan jumlah penduduk dunia yang cenderung memilih tidak beragama atau menjadikan agama sebagai formalitas maka missi agama perlu dijelaskan dengan rahmatalil’alamin, sehingga agama tidak dilihat lagi sebagai pendukung kekerasan, konflik dan sebagainya. Oleh sebab itu missi agama yang santun dan anti kekerasan perlu di kedepan dan ditonjolkan. Sudah saatnya menghentikan penyeretan agama ke ranah konflik, baik konflik internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;Konfik agama dalam catatan sejarah agama selalu berakhir dengan pertumpahan darah yang hebat. Oleh sebab itu sudah saatnya konflik agama ini tidak lagi dihembuskan. Begitu juga dengan simbol-simbol sakral agama, ia semestinya dihargai dan tidak lagi dilabrak yang akhirnya menimbulkan kebencian yang dapat menyalut konflik antar agama. Kasus pelecehan Nabi Muhammad dalam harian Jyllands-Posten misalnya tidak semestinya terjadi dalam masyarakat dunia sekarang ini. Jihad yang berkabolarasi dengan ”kekerasan” sudah semestinya pula direvisi, sehingga atribut-atribut agama tidak lagi terperosok dalam keganasan.&lt;br /&gt;Missi rahmatalillalamin agama ini telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika di Madinah, sehingga Madinah menjadi kota beradaban masa depan dan sekaligus sebagai awal terbentuknya dinamika civil society yang saat sekarang dinamika kehidupan civil society itu dibangun kembali untuk mewujudkan tatanan peradaban dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-1990596789362127232?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/1990596789362127232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=1990596789362127232&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1990596789362127232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/1990596789362127232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/meyakinkan-peran-agama.html' title='MEYAKINKAN PERAN AGAMA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-675133395488214031</id><published>2008-04-08T23:50:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T23:54:42.631-07:00</updated><title type='text'>MESJID TERMEGAH DI NEGERI KELAHIRAN BUYA HAMKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xoHxxUaWI/AAAAAAAAAJ8/OO0o6JnQQhU/s1600-h/agam-043%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187135353652537698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xoHxxUaWI/AAAAAAAAAJ8/OO0o6JnQQhU/s400/agam-043%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-675133395488214031?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/675133395488214031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=675133395488214031&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/675133395488214031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/675133395488214031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/mesjid-termegah-di-negeri-kelahiran.html' title='MESJID TERMEGAH DI NEGERI KELAHIRAN BUYA HAMKA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xoHxxUaWI/AAAAAAAAAJ8/OO0o6JnQQhU/s72-c/agam-043%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5221168306636452514</id><published>2008-04-08T23:47:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T23:50:18.375-07:00</updated><title type='text'>MEMBERDAYAKAN MASJID</title><content type='html'>&lt;a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321152&amp;amp;kat_id=16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321152&amp;amp;kat_id=16"&gt;&lt;strong&gt;Merekonstruksi Masjid demi Mencerdaskan Umat &lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321152&amp;amp;kat_id=16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah sangat merasakan kemunduran peranan masjid dalam menyelesaikan permasalahan sosial keagamaan. Masjid yang begitu banyak kita bangun hanya sebagai simbol ketimbang menjadi sarana untuk membangun umat.&lt;br /&gt;Bahkan, peranan masjid begitu jauh terasing dari masalah umat. Jika dilihat dari data statistik Departemen Agama, pada 1997-2004 ada peningkatan jumlah masjid sampai 64 persen, dari 392.044 menjadi 643.834 buah. Rumah ibadah tersebut berada di tengah-tengah 182.083.594 jiwa umat Islam Indonesia.&lt;br /&gt;Perbandingan rumah ibadah dengan jumlah umat tersebut rasanya cukup representatif. Tetapi, kenyataannya peranan rumah ibadah belum signifikan dalam mengakses permasalahan umatnya. Lemahnya peranan rumah ibadah dalam mengakses permasalahan umat memperpanjang catatan sosial keagamaan umat Islam yang buruk di negeri ini. Catatan sosial yang buruk itu dapat kita simak dari potret kemiskinan umat, budaya fatalisme, dan keterbelakangan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;Kelemahan akses rumah ibadah terhadap masalah umat dipengaruhi oleh peranan rumah ibadah yang lebih dominan direkonstruksi sebagai institusi ibadah mahdhah ketimbang ibadah ghairu mahdhah. Oleh sebab itu, keberadaan masjid sebagai sarana tempat penyelenggaraan shalat dan peranan pemberdayaan umatnya tertinggal.&lt;br /&gt;Di samping itu, masjid juga lebih banyak dijadikan ajang pergumulan retorika dakwah yang tidak membumi. Malahan, dangkal dari pesan-pesan agama yang dapat meningkatkan kemampuan umat. Dalam konteks ini, kita perlu menghayati pernyataan Daniel Bell dalam The End of Ideology (1960). Dia menyatakan pesan-pesan agama yang tidak mampu menyelesaikan persoalan umat akan menjadikan agama tersebut sebagai fosil yang disimpan dalam rumah kaca.&lt;br /&gt;Semestinya rumah ibadah yang begitu banyak kita miliki itu menjadi aset dalam membangun umat. Sayang, kita belum memotensikannya secara maksimal. Jika kita lihat dari sejarah peradaban Islam, baik ketika era Rasulullah maupun pada era keemasan Islam di Andalusia (Spanyol), peranan masjid begitu luas.&lt;br /&gt;Masjid tidak hanya dijadikan sebagai sarana penyelenggaraan shalat, tetapi juga menjadi institusi sosial yang berperan dalam membangun pendidikan, ekonomi, dan politik umat. Oleh sebab itu, keberadaan masjid pada era Rasulullah lebih tepat dikatakan sebagai institusi yang membangun peradaban umat Islam yang modern.&lt;br /&gt;Pada era kejayaan Islam di Andalusia, masjid direkonstruksi sebagai pusat pendidikan. Masjid menjadi basis bagi kaum intelektual dalam membangun kepakarannya karena masjid pada era itu dilengkapi dengan perpustakaan yang dapat diakses oleh umat. Malahan, tidak mengherankan kemajuan yang dicapai oleh Islam di Andalusia ini sangat dipengaruhi oleh peranan masjid yang berfasilitas pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;Kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan tersebut telah mengubah wajah peradaban Andalusia. Di samping itu, membaca biografi dari ilmuwan-ilmuwan Islam, ternyata banyak yang membangun kepakarannya dari masjid. Serambi-serambi masjid telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam, seperti Ibnu Rusy dan Ibnu Sina. Kedua ilmuwan ini menurut catatan biografinya banyak menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan masjid yang ada pada era mereka.&lt;br /&gt;Krisis peranan masjid perlu dicermati sehingga masjid tidak menjadi saksi bisu dalam ingar-bingar perubahan sosial umatnya. Masjid perlu dilihat kembali sebagai agen transformasi umat dengan memperluas peranan dan fungsinya yang tidak lagi sebatas serambi shaf-shaf shalat yang kosong tanpa jemaah.&lt;br /&gt;Sudah saatnya masjid direkonstruksi sebagai institusi agama yang modern yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dapat memberdayakan umat dan tidak lagi sekadar sebagai sarana penyelenggara shalat. Oleh sebab itu, pengelolaan masjid memerlukan manajemen yang profesional dan mempunyai kegiatan yang inovatif.&lt;br /&gt;Masjid sudah sangat penting dijadikan sebagai institusi agama yang profesional. Bahkan, di Malaysia masjid telah dilengkapi dengan sambungan internet tanpa kabel dan gratis diakses oleh jamaah sehingga masjid tidak lagi dikunjungi ketika waktu shalat. Tetapi, dijadikan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan tempat berkreasi.&lt;br /&gt;Antara masjid dan teknologi modern tidak terpisah, tetapi dapat berkolaborasi dalam membangun umat yang melek pengetahuan. Sekaligus hal ini akan dapat menghapus stigma keterpisahan ajaran agama dengan dunia modern.&lt;br /&gt;Mungkin di Indonesia kita perlu menginovasi masjid untuk menumbuhkan semangat baca dengan mendirikan perpustakaan masjid yang dapat diakses oleh umat. Masalahnya, sarana-sarana yang menumbuhkan minat baca sangat minim. Dengan demikian, tidak heran masyarakat kita mempunyai minat baca yang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga.&lt;br /&gt;Semangat membaca kita masih tertinggal dari negara tetangga Singapura dan Malaysia. Bahkan, mereka melek internet. Mereka melewati permasalahan tersebut dan sekarang berupaya memberdayakan masyarakat yang sadar internet.&lt;br /&gt;Masjid yang tersebar di tengah-tengah umat Islam ini sudah harus mengambil peranan sebagai sarana untuk mengatasi keterbelakangan umat dan harus dipikirkan sebagai basis gerakan membaca, seperti yang diperintahkan Alquran dalam Surat Al-Alaq. Peranan ini sangat penting direkonstruksi oleh masjid, bahkan sudah sangat mendesak.&lt;br /&gt;Perpustakaan perlu menjadi bagian penting di masjid. Masjid akan menjadi salah satu jembatan bagi umat dalam memanifestasikan hadis Rasulullah: Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat. Andaikan setengah saja masjid ada di Indonesia ini efektif, tentu membantu membangun umat. Masalahnya, rendahnya minat baca di negeri ini dipengaruhi oleh keterbatasan sarana yang tersedia dan tidak teraksesnya perpustakaan negara oleh banyak orang.&lt;br /&gt;Dengan perpustakaan masjid, permasalahan itu secara bertahap dapat dicairkan. Sudah saatnya rumah ibadah dijadikan pusat pencerdasan umat, baik pencerdasan eksetorik maupun esetorik. Usaha seperti ini juga pernah terjadi pada era Khalifah al-Makmum dengan merekonstruksi masjid yang tidak terpisah dengan perpustakaan.&lt;br /&gt; &lt;a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321152&amp;amp;kat_id=16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5221168306636452514?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5221168306636452514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5221168306636452514&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5221168306636452514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5221168306636452514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/memberdayakan-masjid.html' title='MEMBERDAYAKAN MASJID'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7838976303785416547</id><published>2008-04-01T21:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T22:10:12.411-07:00</updated><title type='text'>LAGI-LAGI LANGIT DI NEGARA MISKIN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MVGxxUaSI/AAAAAAAAAJU/cOJiLHOWC0E/s1600-h/IMG_0296.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184510802217167138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MVGxxUaSI/AAAAAAAAAJU/cOJiLHOWC0E/s400/IMG_0296.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MVHRxUaTI/AAAAAAAAAJc/xjbo6Vmy7DQ/s1600-h/IMG_0295.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184510810807101746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MVHRxUaTI/AAAAAAAAAJc/xjbo6Vmy7DQ/s400/IMG_0295.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7838976303785416547?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7838976303785416547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7838976303785416547&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7838976303785416547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7838976303785416547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/lagi-lagi-langit-di-negara-miskin.html' title='LAGI-LAGI LANGIT DI NEGARA MISKIN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MVGxxUaSI/AAAAAAAAAJU/cOJiLHOWC0E/s72-c/IMG_0296.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-8922176560556980524</id><published>2008-04-01T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:54:26.519-07:00</updated><title type='text'>CATATAN PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENGAKHIRI HEGEMONI KEKUASAAN DI RANAH PENDIDIKAN:&lt;br /&gt;INTROPEKSI PENDIDIKAN SEJARAH BANGSA PASCA REFORMASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pasaca reformasi multi kesadaran muncul kepermukaan. Keasadaran akan rekontruksi elemen-elemen sosial nampaknya mengapung bagaikan cendawan tumbuh di musim hujan. Salah satu, elemen sosial yang mengalami penyadaran diri itu adalah elemen pendidikan nasional bangsa ini yang selama ini terkapar tidak berdaya dalam kubah kekuasaan yang feodalisme, sehingga pendidikan hampir gagal melakukan tugasnya sebagai pencerdasan anak bangsa. Kemudian bangsa yang sudah lebih setengah abad merdeka ini belum juga keluar daripada polemik kebodohan, ketertinggalan dan keterbelakangan. Wajar bangsa ini tidak dapat dengan segera mengatasi multi krisis yang melanda dan sampai sekarang terkatung-katung dalam lembah ketidak menentuan.&lt;br /&gt;            Kualiti pendidikan yang compang camping, juga menjadi sebuah bukti nyata bahwa sistem pendidikan di ranah yang berpenduduk lebih kurang 220 juta jiwa ini masih rendah dan belum menjadi perhatian yang serius daripada pemerintahan. Pertukaran-pertukaran kurikulum yang berlaku dari waktu kewaktu, nampaknya juga tidak menjadi solusi yang akurat untuk mengangkat kualitas tersebut, sehingga tidaklah heran sampai saat ini, rating kualitas pendidikan di negera kita ketinggalan daripada negara-negara tetangga.&lt;br /&gt;            Inilah, persoalan mendasar yang pelu dijawab. Untuk menjawabnya, nampaknya berbagai pedekatan-pendekatan yang mesti dilakukan. Mulai daripada pendekatan kebijakan pemerintah sampai pada peran serta masyarakat terhadap pendidikan. Daripada pendekatan itu, setidaknya kita dapat menjawab bahawa selama ini arah kompas pendidikan telah terkooptasi kedalam ranah kekuasaan. Pendidikan dibelokkan kedalam kepentingan-kepentingan kekuasaan, sehingga sistem pendidikan dibuat tidak berdaya untuk mendewasakan, mencerdasakan anak bangsa, hanya berjalan dalam kehendak kekuasaan. Tujuannya jelas untuk memperkokoh status quo daripada kekuasaan itu sendiri. Oleh sebab itulah, pendidikan juga dibawa dalam kubah kekuasaan, sehingga duni pendidikan “mengabdi” untuk kepentingan kekuasaan tersebut.&lt;br /&gt;            Ketika pendidikan berada dalam kubah kekuasaan itu, tidak heran “pembelokan-pembelokan” nilai terjadi dalam pendidikan, sehingga pendidikan mengalami kehilangan jati dirinya, sebagai komponen yang berdedikasi tinggi terhadap keilmiahan. Salah satu kondisi ini terlihat dalam pengajaran pendidikan sejarah nasional Indonesia.&lt;br /&gt;            Fakta sejarah diajarkan tidak lagi berbingkai kejujuran ilmiah, tetapi disesusiakan dengan konteks kepentingan kekuasaan, sehingga tidak hayal bangsa yang mempunyai sejarah panjang ini kehilangan jejak sejarahnya yang sejati. Pembelokkan fakta-fakta sejarah yang terjadi dalam pendidikan nasional sudah menjadi pengetahuan umum. Oleh sebab itu sekarang perlu dibongkar dan dijernihkan kembali, sehingga generasi mendatang tidak berada dalam khayalan sejarah bangsa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegemoni Kekuasaan Dalam Pendidikan Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Selama 32 tahun pemerintahan orde baru berkuasa, pendidikan sejarah hampir secara total berada dalam versi kekuasaan, sehingga banyak fakta-fakta sejarah yang dijadikan pijakan sudah berada dalam hegemoni kekuasaan. Di ajarkan sesuai dengan pesanan penguasa. Pemutar balikan, sejarah berlaku dengan sangat berani dan selalu memenangkan kekuasaan. Inilah sebuah kelicikan yang berlaku dalam pendidikan sejarah bangsa kita. Pemutar balikan fakta sejarah ini sebagai mesin status quo yang halus. Akhirnya sejarah terpola dalam kepentingan kekuasaan.&lt;br /&gt;            Dalam konteks yang demikian Garamsci menyebutkan hegemoni kekuasaan telah berjalan dalam perangkat lunak. Dan tersebar melalui ide-ide, sehingga pembenaran-pembenaran terhadap yang salah pun akan terjadi. Atau lebih sadisnya, kekuasaan telah mengkebiri pendidikan untuk mengakui sebuah sejarah yang salah. Disinilah muncul kolonialisme sejarah yang diaktori oleh kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pendidikan sejarah tidak lagi diajarkan dalam dinamika independen, tetapi berada dalam keranda-keranda kepentingan. Hal ini, diperkuat dengan kurikulum-kurikulum pendidikan sejarah yang sumpek dan bias penyelewengan yang diartikulasikan oleh kepentingan kekuasaan tersebut.&lt;br /&gt;            Penyelewengan sejarah, secara sadar atau tidak telah ikut andil dalam memperlemah nasionalisme generasi bangsa. Jati diri dan reputasi bangsa terkoya-koyak dalam bingkai pembusukan-pembusukan sejarah. Generasi kehilangan jejak “kesucian” perjuangan bangsa. &lt;br /&gt;            Hegemoni-hegemoni kekuasaan dalam pendidikan, tidak saja akan merusak satu sistem pendidikan tetapi, lebih sadis adalah merusak image dan mentalitas anak bangsa. Oleh sebab itulah diengah “perang” global ini bangsa yang sudah mempunyai umur lebih setengah abad ini belum juga mandiri dan masih terkatung-katung dalam buih ketidak menentuan.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;The End Of History Hegemoni&lt;br /&gt;            Pasaca reformasi sekarang ini, tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain kita berbenah diri untu memperbaiki sistem-sistem yang rusak. Kerusakan sistem inilah yang sebenarnya menghantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang chaos.&lt;br /&gt;            Dimana selama ini, sistem pengajaran pendidikan sejarah kebangsaan yang disimpangkan dalam kekuasaan, perlu dikaji ulang untuk mendpatkan fakta dan data sejarah yang benar yang terjadi dalam aras kebangasaan ini, sehingga generasi mendatang mempunyai visi yang jelas dalam memahami bangsanya senidiri.&lt;br /&gt;            Praktisi pendidikan dan sejarawan harus jujur kembali mempublikasikan dan mengajarkan sejarah, tidak terkooptasi dalam bingkai-bingkai paradigma sejarah kebangsaan yang “abu-abu”. Kepentingan pendidikan perlu disadari sebagai kepentingan “kebenaran” bukan untuk kepentingan status quo kekuasaan. Oleh sebab itu, ditengah derap perubahan ini, sejarawan dan pendidik mesti merekapitulasi kembali tugasnya, sehingga kenaifan-kenaifan dalam bingkai pendidikan sejarah seperti silam tidak terjadi lagi.&lt;br /&gt;            Kurikulum-kurikulum pendidikan sejarah kebangsaan mesti dirancang bebas dari kooptasi kepentingan kekuasaan. Dimana selama ini, semuanya diarahkan dalam bingkai kepentingan kekuasaan itu, sehingga kurikulum pendidikan sejarah tidak obahnya sebuah ranah permainan kekuasaan, sehingga pendidik dan sejarawan telah tampil dengan reputasi sebagai “pembohong”.&lt;br /&gt;            Ada beberapa langkah yang mesti dilakukan seakarang ini, untuk membebaskan pengajaran pendidikan sejarah kebangsaan dari “kebohongan”. Pertama, meninjau kembali kurikulum pendidikan sejarah, mulai daripada peringkat awal. Kedua, meluruskan kembali sejarah bangsa, sesuai dengan fakta dan data sejarah. Ketiga membebaskan pembelajaran sejarah daripada kooptasi kekuasaan bukan atas kepentingan-kepentingan, sejarah ditempatkan pada posisi ilmiah sesuai dengan fakta dan data sejarah bangsa dan keempat adalah tidak menganaktirikan pendidikan sejarah dalam lintasan ilmiah, bagaimanapun juga sejarah bangsa adalah cerminan daripada nasionalisme bangsa ini. Oleh sebab itu ia harus dipaparkan dan diartikulasikan, bukan dipandang sebagai barang “murah”.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Lika-liku pelajaran pendidikan sejarah bangsa dalam kekuasaan, pada satu sisi memang telah memenangkan kekuasaan, tetapi pada satu sisi kebohongan yang dibangun oleh kekuasaan akhirnya membunuh daripada kekuasaan itu sendiriri. Begitulah setidaknya yang mencerminkan situasi pada khir ini. Dimana situasi yang penuh dengn tragedi-tragedi yang tidak berkorelasi dengan semangat patriotik dan mantaliti nasionalisme yang luhur, karena selama hampir 32 tahun anak bangsa disuguhkan oleh heroik sejarah perjuangan yang “hambar” dan tidak oksidantalisme.&lt;br /&gt;            Topeng-topeng kekuasaan yang bermain telah membuat sistem tralienasi dari pada kepentingan bangsa. Pendidikan sejarah dibawa dalam bingkai alienasi ini, sehingga pendidikan sejarah bukan memberikan artikelasi dan makna yang holistik terhadap mentaliti anak didik. Pendidikan sejarah berada dalam bingkai bayang-bayang daif dari kebenaran, hanya ditampilkan sesuai dengan kepentingan-kepentingan tersebut, sehingga pendidikan sejarah diterima oleh anak didik sebagai sebuah pelajaran yang “ugal-ugalan”. Kemudian tidak hayal, muncul image terhadap pendidikan sejarah sebagai yang tidak berarti. Akhirnya pendidikan sejarah bangsa ini menjadi orientalisme di ditengah masyarakat bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;            Keterasingan-keterasingan sejarah bangsa daripada masyarakat bangsanya, membuat sebuah bangsa kehilangan identitasnya. Kehilangan identitas ini, secara sadar atau tidak melahirkan tindakan paradox yang tidak mengakar daripada nilai-nilai luhur bangsa. Mungkin suasana anarkhis sekarang adalah membuktikan analisis itu. Chauvinistik, anarkhisme dan konflik persudaraan menjadi gambaran yang anti sejarah.&lt;br /&gt;            Pendidikan sejarah yang terkooptasi kekuasaan selama ini telah membuat, pemahaman sejarah terputus, sehingga tidak terjadi dialektika sejarah kekinian dengan sejarah masa tertentu. Menurut Hegel seperti yang dikutip oleh Leirissa dalam pengantar The End of History best seller Fakuyama menyebutkan berdasarkan dialektika itulah pemahaman sejarah atau filsafat sejarah sangat penting erti dan maknanya, karena dialektika sejarah akan selalau bermuara pada pembentukan sejarah yang lebih baik. Dengan artikata, dialektika memungkinkan hal-hal yang tidak rasional pada masa-masa tertentu dikoreksi atau dilenyapkan ketika menuju tahapan yang lebih baik. &lt;br /&gt;            Maknanya sekarang adalah, perlu kembali pencarian sejarah bangsa oksidentalisme  yang lurus. Disinilah peranan pendidikan sejarah yang tidak terkooptasi oleh kekuasaan. Pembebasan-pembesan perlu adanya dilakukan, sehingga sejarah bangsa yang diterima oleh anak bangsa benar adanya, sehingga dari kebenaran itu, lahirkan kedepan sebuah situasi sejarah yang lebih baik. Karena menurut Hegel sejarah merupakan proses tahapan, sehingga sejarah harus diartikan sebagai perjuangan yang terus menerus untuk mewujudkan kebebasan dan tahapan yang lebih baik. Di sinilah makna sejarah kehadapan kata Cris Lorenz sebagai quasie causal. Oleh sebab itu, eksistensi sejarah sangat menentukan terhadap civil society yang digembar-gemborkan saat sekarang ini.&lt;br /&gt;            Sementara di negara kita, sejarah yang jujur itu telah terkontaminasi dengan sangat keruh dalam adukan kepentingan kekuasaan sehingga dialektika-dialektika tidak dapat tempat kemana arahnya untuk ditujukan. Maka disinilah peranan pendidikan sejarah yang luhur kembali diaktualisasikan. Pengartikulasian sejarah yang jujur itu, sangat tergantung pada kecermatan dunia pendidikan memberikan kebenaran sejarah.&lt;br /&gt;            Pendidikan bukan menjadi agent manipulatif dan alat kekuasaan yang membenarkan kebohongan sejarah. Tetapi harus menjadi ranah yang mengantarkan kebenaran-kebenaran sejarah kepada generasi. Masalahnya bagaimana pun juga sejarah adalah sebuah pengetahuan yang bisa memberikan proses dialektika dengan konteks masa yang akan dating, karena sejarah menjadi landasan pijakan yang selalu memproses menuju satu tataran penyempurnaan.&lt;br /&gt;            Makanya, sejarah bangsa sangat mengikat pada corak, karakteristik dan warna nasionalisme. Nasionalisme adalah bentukan daripada sejarah yang berjalan dalam sebuah bangsa, sebagaimana dijelaskan oleh Hegel dalam dialektika sejarah sebagai peranannya kehadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Langkah yang paling mendesak dilakukan sekarang ini, untuk membangun dialektika sejarah sehingga bersinergi untuk membangu  generasi bangsa kehadapan adalah, melakukan tinjuan ulang terhadap pendidikan sejarah di bumi nusantara ini. Membebaskan sejarah darapada manipulatif-manipulatif fakta dan data. Sejarah harus dijelaskan dalam bingkai-bingkai ilmiah, bukan dijelaskan sesuai dengan bingkai ranah kehendak penguasa.&lt;br /&gt;            Pencerahan pendidikan sejarah bangsa, dimulai kembali dengan pembetulan-pembetulan konteks sejarah bangsa. Sejarah bangsa harus dihadirkan dengan sejernih-jernihnya atau disebut juga dengan upaya reinventing penulisan dan penyajian pendidikan sejarah bangsa. Dimana pendidikan sejarah bukan lagi sebagai alat “pembodohan” tetapi pencerdasan anak bangsa, sehingga dedikasi nasionalisme anak bangsa dapat dipertahankan dalam membawa perubahan bangsa kehadapan.&lt;br /&gt;            Menurut Giddens, pendustaan-pendustaan yang dilakukan dalam ranah interaksi sosial, seperti interkasi pendidikan dengan anak didik sama saja membawa dunia sosial dalam situasi yang tidak berarah. Ontologi pendidikan sejarah tercabik dalam kesadaran yang palsu.&lt;br /&gt;            Menurut Mannheim kesadaran palsu menghalangi pemahaman komprehensif tentang kenyataan. Mungkin dosa inilah yang ditui oleh penyajian pendidikan sejarah bangsa yang selama 32 tahun kebelakangan, dimana sejarah bangsa dihantarkan dengan manipulatif yang membangun keasadaran palsu generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;            Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana membuat pendidikan sejarah tidak terputar balik kembali. Setidaknya ada tiga area yang perlu dijamah untuk mengembalikan pendidikan sejarah bangsa. Di sinilah perlunya pendidikan sejarah dalam sisetem pendidikan nasional mengintropeksi diri, sehingga ketimpangan-ketimpangan dalam pendidikan sejarah bangsa tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;            Pembaharuan dalam sistem pendidikan sejarah, jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena kondisi kronis yang dialami oleh penulisan sejarah bangsa ini sudah amburadul dan chaos. Majinalisasi kebenaran sejarah telah begitu mengental dalam visi kekuasaan masa lalu, sehingga kerja keras untuk meluruskannya perlu diagendakan dengan segera.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-8922176560556980524?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/8922176560556980524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=8922176560556980524&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8922176560556980524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8922176560556980524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/catatan-pendidikan.html' title='CATATAN PENDIDIKAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5436718525093126054</id><published>2008-04-01T21:47:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:51:11.456-07:00</updated><title type='text'>SEKILAS OTONOMI DAERAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;REINVENTING GOVERNMENT ; PEMERINTAHAN DI ERA&lt;br /&gt;OTONOMI DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh: Silfia Hanani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              Reinventing Government merupakan sebuah buku spektakuler yang lahir dari pemikiran Divid Osborne dan Ted Gaebler di awal abad 21. Buku ini memaparkan tentang pemberdayan pemerintahan dengan gaya pasar, dimana birokrasi tidak terpaut dengan kebirokrasiannya saja, tetapi harus mencari jalan untuk membangun birokrasi yang lincah dan energik. Oleh sebab itu melalui buku ini Osborne dan Gaebler, menawarkan mewirausahakan birokrasi.&lt;br /&gt;            Ada sepuluh yang prinsipil dalam dalam membangun birokrasi pemerintah yang mengarah pada wajah birokrasi berteraskan wirausaha tersebut; (1) customer-diriven government(pemerintahan yang berorinetasi pelanggan), (2)mission-driven government(pemerintahan yang berorinetasi pada misi yang dibuatnya), (3) anticipatory government(pemerintah yang tanggap),(4) result-oriented government(pemerintah berorientasi hasil),(5) competitive government(pemerintah yang kompetitif),(6)Enterprising government(pemerintah yang berjiwa usaha), (7) Decentrilized government(pemerintahan yang desentralistik), (8) community-owned government(pemerintahan milik msyarakat), (9) catalystic government(pemerintahan katalis) dan (10) market-oriented government(pemerintahan berorientasi pasar)&lt;br /&gt;            Gagasan pemikiran yang dirangkai dalam Reinventing Government ini banyak diadopsi oleh Clinton dan sangat berpengaruh dalam tatanan dan sistem pemerintahannya. Kemudian menular dalam pemerintahan negara-negara pro demokrasi, sehingga pemikiran Osborne dan Geabler menjadi reaktualisasi birokrasi global yang antusias dicerna oleh banyak pemerintahan.&lt;br /&gt;            Konon otonomi daerah yang dilakukan dalam aras sistem pemerintahan Indonesia ikut terpengaruh pula dengan birokrasi tawaran Osborne dan Geabler ini. Kemudian dengan gaya setengah hati dicoba pula oleh pemerintahan orde baru, sehingga lahirlak delapan prinsip pelayanan prima pemerintahan yang diaktualisasikan melalui Kepmen PAN No 81 tahun 1993. Delapan pelayanan prima birokrasi tersebut adalah(1)kesederhanaan,(2)kejelasan dan kepastian,(3) keamanan,(4) keterbukaan,(5) efesien,(6)ekonomis,(7) keadilan yang merata dan(8) ketepatan waktu. Namun delapan prinsip pelayanan prima yang digagas oleh pemerintahan orde baru ini tidak juga menyelesaiakan masalah birokrasi pemerintahan Indonesia. Birokrasi orde baru terlalu birokrat dan selalu menempatkan kekuasaan di atas kepentingan segala-galanya. Akhirnya kesuburan-kesuburan kolusi, korupsi dan nepotisme(KKN) telah meruntuhkan sendi-sendiri pemerintahan mempunyai akuntibiliti publik. Keruntuhan akutibiliti dalam birokrasi orde baru ini akhirnya menimbulkan krisis multidimensi.&lt;br /&gt;            Maka pada tahun 1997 tiada pilihan lagi, kecuali “menggerbek” kekroposan sistem birokrasi pemerintahan orba tersebut, dengan menjatuhkan kedigdayaan Soeharto melalui gerakan massa yang sangat agresif. Gerakan massa ini telah membawa alaf baru dalam sistem pemerintahan Indonesia, yaitu dari sistem pemerintahan sentralisme ke desentralisme.&lt;br /&gt;            Melelehnya bungkahan salju borokrasi kekuasaan dalam teras pemerintahan Indonesia telah membuka perbincangan tentang sistem pemerintahan lokal. Ketika inilah sistem pemerintahan desentralisme melahirkan otonomi daerah, yang dirancang melalui dua kekuatan undang-undang, yaitu undang-undang no 29 tahun 1999 dan undang-undang no 25 tahun 1999. Kemudian terjadi evaluasi dan revisi, sehingga bergulir lagi undang-undang no 32 tahun 2004 yang mencerahkan daripada dua undang-undang sebelumnya itu.&lt;br /&gt;            Membidik daripada animo dan perubahan tersebut, muncul pertanyaan, sejauhmana pemerintahan daerah sekarang ini melakukan pemberdayaan birokrasinya, sehingga eksistensi pemerintahan daerah betul-betul menjadi pemerintahan yang ideal dalam masyarakat daerah tersebut. Apakah gerakan Reinventing Government yang dikerjakan oleh pemerintahan daerah untuk menjawab otonomi daerah ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti selalu, hadir dalam penelitian-penelitian lapangan yang dikempabangkan oleh akademisi. Kemudian, tidak sedikit jawaban penelitian yang dihasilkan, antaranya pemerintahan daerah sekarang ini baru disikapi dalam taraf eforia kebangkitan lokal, kemudian otonomi daerah berjalan dalam pemerintahan daerah yang gagap dan sebagainya.&lt;br /&gt;            Pemerintahan yang gagap ini merajalela membawa birokrasi lokal “lebih kejam”. Dimana rakyat semakin tertekan dengan berbagai aturan “gerakan penguangan”. Pemerintah melakukan pengwirausahaan melalui jalan pintas, membebani setiap urusan publik dengan keuangan. Misalnya, biaya pembuatan KTP saja sudah berlapis-lapis, mulai dari pemerintahan terendah sampai pemerintahan kecamatan ada pos keuangan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat. Ada kesan pemerintah daerah memobilisasi setiap urusan publik menjadi mesin pencetak uang untuk menghasilkan pendapatan sebanyak-banyaknya. Hal ini yang menyebabkan masyarakat mengeluh dan mencerca tonomi daerah sebagai penambah beban pesakitan.&lt;br /&gt;            Fenomena seperti itu terjadi kerenan otonomi daerah belum diiringi dengan optimalisasi birokrasi pemerintahan yang cerdas. Pemerintah daerah masih terpengaruh dengan “style” lama. Pemerintahan era otonomi daerah masih kehilangan akal dan lamban. Belum bekerja dengan kesigapan, kecakapan, kejeniusan, dan keenerjikan.&lt;br /&gt;            Kemudian, pemerintahan di daerah masih mengalami keterbatasan sumber daya manusia yang berkualiti, akibat rekrutmen pegawai negeri sipil(PNS) yang berjalan selama ini dalam kungkungan kongkalingkong, sehingga sangat dirasakan kelambanan gerak gerik pemerintahan membawa daerah ke ranah daerah berkesejahteraan. Oleh sebab itu, kegagapan strategi pemerintahan dalam membangun daerah cukup dominan berlaku. Pemerintah daerah, nampaknya sering mengalami depresi, malahan mengalami kebingungan untuk menyikapi otonomi daerah ini. &lt;br /&gt;            Maka dalam waktu sepuluh tahun ini, otonomi daerah masih dominan berada dalam teraf konsep, sedangkan implikasi-implikasinya masih dalam suasana “pergalauan-pergalauan” yang belum memecahkan persoalan masyarakat. Maka untuk mempercepat impak otonomi daerah terhadap kesejahteraan masyarakat, gebrakan pencerdasan pemerintah dan birokrasi mesti diambil dengan langkah cepat oleh top leader di daerah tersebut. Oleh sebab itu, Gubernur, Bupati dan Camat diperlukan seorang top leader yang mempunyaik kapabel yang bagus, bekerja keras, energik, cepat bertindak dan tidak kehilangan akal dalam menjalan pemerintahannya. Kepala daerah, tidak cukup lagi sebagai headship tetapi menjadi leadership. Pemerintahan daerah tidak hanya sebagai “kepala” tetapi sebagai pemimpin yang pandai mengendalikan, menyusun strategi dan sebagainya. Selama ini kepala daerah lebih terpaku dalam konteks “kepala”, sehingga ia lebih terperangkap dalam simbolisme yang bermain dalam arena serimoni, tanda tangan dan kerja-kerja dibalik meja. Sekian, terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5436718525093126054?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5436718525093126054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5436718525093126054&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5436718525093126054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5436718525093126054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/sekilas-otonomi-daerah.html' title='SEKILAS OTONOMI DAERAH'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5439941855606572328</id><published>2008-04-01T21:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:47:07.958-07:00</updated><title type='text'>MY BOOKS</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPrhxUaPI/AAAAAAAAAI8/AL5RV3fJBc4/s1600-h/buku+filsafat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184504836507592946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPrhxUaPI/AAAAAAAAAI8/AL5RV3fJBc4/s400/buku+filsafat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPsBxUaQI/AAAAAAAAAJE/WgVfcosM60I/s1600-h/buku+surau.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184504845097527554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPsBxUaQI/AAAAAAAAAJE/WgVfcosM60I/s400/buku+surau.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPsBxUaRI/AAAAAAAAAJM/kwOQGGqM4yI/s1600-h/bukuku.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184504845097527570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPsBxUaRI/AAAAAAAAAJM/kwOQGGqM4yI/s400/bukuku.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5439941855606572328?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5439941855606572328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5439941855606572328&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5439941855606572328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5439941855606572328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/04/my-books.html' title='MY BOOKS'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_MPrhxUaPI/AAAAAAAAAI8/AL5RV3fJBc4/s72-c/buku+filsafat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3477738947900074260</id><published>2008-03-31T05:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-12T10:49:29.791-07:00</updated><title type='text'>BERTANDANG KE SINGAPUR</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_DechxUaOI/AAAAAAAAAI0/bRJzWjymsMI/s1600-h/DSCN1844.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183887752786372834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_DechxUaOI/AAAAAAAAAI0/bRJzWjymsMI/s400/DSCN1844.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3477738947900074260?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3477738947900074260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3477738947900074260&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3477738947900074260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3477738947900074260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/wel-come-to-singapura.html' title='BERTANDANG KE SINGAPUR'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_DechxUaOI/AAAAAAAAAI0/bRJzWjymsMI/s72-c/DSCN1844.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7329656829954981195</id><published>2008-03-31T05:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T05:43:31.176-07:00</updated><title type='text'>JALAN-JALAN SINGAPURA</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;SEKILAS DUNIA SINGAPURA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh; Silfia Hanani&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;            Singapura merupakan negara yang dihuni oleh multi etnik, setidaknya ada empat etnik yang melebur berinteraksi dalam membangun kekuatan ekonomi Singapura, yaitu etnik China, Melayu, India dan Lainnya. Menurut laporan pusat statistika Singapura, etnik China merupakan etnik yang dominan di Singapura jumlahnya sebanyak 77% daripada penduduk, kemudian Melayu jumlahnya 14%, menyusul Idian sekitar 7,6% dan selebihnya 1,4% adalah etnik lain. Jumlah penduduknya sampai sekarang 4.600.000,- jiwa orang, sama dengan penduduk satu kabupaten di Indonesia.&lt;br /&gt;            Sebagai negara yang multi etnik, Singapura juga diwarnai dengan kepelbagaian agama yang dianut oleh masyarakatnya. Jangan heran pula di negara “Parisnya” Asia Tenggara ini ditemui manusia tanpa agama. Di laporkan bahawa 51% masyarakat Singapur memeluk agama Budha/Taoisme, kemudian 14,9% beragama Islam, 14,6 penganut agama Kristen, 4% beragama Hindu, 0,6% penganut agama Sich, Konfocius dan sebagainya, dan sebanyak 14,8 memilih tidak beragama.&lt;br /&gt;            Potret kehidupan di Singapura, memang mencerminkan suatu style kehidupan manusia modern. Manusia bebas berekpresi dan berkreasi. Malahan di negara ini hidup fre sex, homo sex dengan bebas. Memang pemerintahan tidak tidak tertarik untuk mengurus tetek bengek individual tersebut, karena negara yang terletak di hujung Semenanjung Malaysia ini lebih berkosentrasi pada kekuatan ekonomi. Inilah yang membedakan negara “kecil” ini dengan tetangganya Indonesia dan Malaysia, yang masih memegang teguh nilai-nilai moral kehidupan. Berkaitan dengan itu, masa datang Singapura diprediksikan akan menjadi “Parisnya” Asia Tenggara. &lt;br /&gt;Satu hal yang pelu disaluti dari negara ini, adalah kutural achievement manusia yang tinggi. Pekerja-pekerja keras yang tidak mengenal waktu itulah sosok manusia dalam kota Singapura. Oleh sebab itu, jam-jam kerja, suasana kota bagiakan kota mati. Hiruk pikuk keramaian kota tidak terdengar. Jalan-jalan dan tempat-tempat umum sepi dari aktivitas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati Kota&lt;br /&gt;Kota singapura yang kecil, dan penataan kota yang indah dan bagus. Memang tidak salah Singapura menjadi salah satu negara tujuan pelancongan daripada masyarakat dunia, termasuk bagi masyarakat oleh masyarakat negara jirannya, seperti dari Indonesia, Malaysia, dan lainnya.&lt;br /&gt;Infrastruktur kota yang begitu rapi. Kebersihan kota yang sangat terjaga. Menampakkan Singapura sebagai sebuah kota yang ramah untuk dikunjungi. Inilah kesan pertama dalam kota Singapura. Kesan elegan dan bersih serta tata kota yang indah. Kesan ini pula membuat perbedaan Singapura dengan kota-kota yang ada di negara tetangganya.&lt;br /&gt;Jika anda seorang yang berjiwa traveling, untuk mengelilingi kota Singapura tidak perlu dengan memakai alat transportasi. Lebih enak dan nyaman dengan berjalan kaki. Apalagi dengan luas Kota yang begitu kecil, hanya tidak cukup seluas satu kecamatan di Indonesia setengah hari pun sudah sudah siap kita kelilingi. Panas pun tidak akan menyengat dengan terik, karena perjalanan kita selalu menelusuri gedung-gedung bertingkat yang menghambat terik cahaya matahari.&lt;br /&gt;Apalagi bagi yang suka shopping, sebaiknya dalam kota jangan memakai jasa trasportasi, kelilingi sahaja kota Singapura dengan berjalan kaki, hal ini akan lebih memuaskan diri untuk memilih tempat shoping. Selain adanya tempat-tempat shoping yang modern dengan style metropolis, seperti mall dan supermarket, di Singapura juga dkenal tempat-tempat shoping tradisional, seperti di kampung Cina, Bugis, India dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kenikmatan kota Singapura, memang terletak pada tempat-tempat shoping atau tempat-tembat belanja. Wajar saja, singapura dijuluki sebagai kota surganya belanja. Yang jelas jika belanja di sini tidak ada yang murah. Oleh sebab itu Singapura paling tepat adalah surga belanja bagi orang-orang berduit.&lt;br /&gt;  Ada beberapa tempat shoping yang menggiurkan, pertama seputar kawasan Stamford, ada Plaza Paninsula, Reffles dan sebagainya. Kemudian tidak jauh dari kawasan ini cukup dengan berjalan kaki ke araj utara memakin watu 30 menit, akan berjumpa pula Singapore Shoppin Centre dan bersebelahan lokasinya dengan tempat shopping terkenal pula yaitu, kawasan Orchard. Memang kota Singapura penuh dengan tempat-tempat shopping, betul-betul sebagai sorga belanja bagi yang beruang.&lt;br /&gt;Ingat, jika ingin memakai jasa transportasi, harus siapkan ongkos dengan uang pas. Atau harus beli card. Jika tidak punya uang pas jangan coba-coba menaiki bus, sopir dengan ramah mempersilahan anda untuk turun. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7329656829954981195?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7329656829954981195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7329656829954981195&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7329656829954981195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7329656829954981195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/jalan-jalan-singapura.html' title='JALAN-JALAN SINGAPURA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7775475120224225989</id><published>2008-03-31T05:33:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T05:38:03.400-07:00</updated><title type='text'>LAnGIT DI NEGARA MISKIN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_Da_BxUaNI/AAAAAAAAAIs/LDYdgHEk6Yc/s1600-h/IMG_0879.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183883947445348562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_Da_BxUaNI/AAAAAAAAAIs/LDYdgHEk6Yc/s400/IMG_0879.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7775475120224225989?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7775475120224225989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7775475120224225989&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7775475120224225989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7775475120224225989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/langit-di-negara-miskin.html' title='LAnGIT DI NEGARA MISKIN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_Da_BxUaNI/AAAAAAAAAIs/LDYdgHEk6Yc/s72-c/IMG_0879.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-6488431364866926810</id><published>2008-03-31T05:28:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T05:31:43.243-07:00</updated><title type='text'>KEMISKINAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“HANTU” PEMISKINANDI DUNIA KE TIGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Dalam alaf global modern dan maju ini, rasanya tidak pantas lagi kita berbicara kemiskinan. Masalahnya kemiskinan itu sebagai tradisi orang-orang terbelakang dan orang-orang pra sejarah, bukan tradisi dalam peradaban orang-orang modern. Tetapi pada kenyataannya, kemiskinan masih menjadi potret lingkaran setan kehidupan dalam abad ini dan malahan di negara-negara yang sedang berkembang kemiskinan masih berlangsung tanpa diketahui akan berhentinya.&lt;br /&gt;            Pasokan-pasokan dana dari negara-negara maju pun mengalir untuk pembangunan di negara-negara berkembang dengan alih-alih untuk mengentaskan keterbelakangan dari negara-negara miskin tersebut. Namun tidak pernah pemberian dana tersebut berakhir dalam sebuah program pembangunan yang mensejahterakan dunia ke tiga. Kemiskinan tetap saja bercokol membeku membentuk gunung es.&lt;br /&gt;            Apa pasal persoalannya, apakah sebagai akibat dunia ke tiga tidak punya “kepintaran” atau “kenjeniusan”, sehingga pengaliran dana ke dunia ke tiga tidah memberikan suatu muara yang bernama kesejahteraan bagi dunia ketiga itu sendiri. Akhirnya pun kemiskinan, tidak menjadi the end of history di negara-negara penerima dana pinjaman tersebut.&lt;br /&gt;            Sehubungan dengan konteks ini, John Perkins sebagai seorang kepercayaan dari “donator” untuk negara-negara berkembang telah mengungkai polemik dan permasalahan ini, dengan kesimpulan akhirnya selagi dunia ke tiga masih menerima dana pinjaman negara-negara maju atau negara donor, tidak akan ada muara kesejahteraan. Keuntungan dan kekayaan akan tetap berada dikubu sang donator. &lt;br /&gt;Lebih jelas dikatakan oleh Perkins ketika negara donor mendorong infrastruktur, tanpa sadar negara berkembang terjerumus kedalam kubah kolonialisme baru sebagai bagian dari liberalisme. Bantuan negara pemberin utang tidak berupa aliran dana tunai, melainkan bentuk fisik yang sangat membebani negara berkembang. Praktik ini merupakan modus standar negara maju menguasai sebuah negara berkembang. Begitulah Perkins menulis dalam buku  Confessions of an Economic Hit Man.&lt;br /&gt;            Tulisannya ini, merupakan hasil dari perjalanan panjang memasuki area kerja sebagai konsultan ekonomi daripada institusi-institusi pemberi modal. Perkins, yang begitu akrab dengan dunia ke tiga telah membeberkan kenaifan-kenaifan yang berlaku dalam aliran bantuan yang diterima oleh negara berkembang itu.  Oleh sebab itu setiap bantuan yang dialirkan ke dunia berkembang tidak pernah berakhir sebagai pengentas kemiskinan, malahan menjadi runyam akibatnya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, Marx telah duluan membuka “kartu” ini. Tetapi tidak menjadi populer, akibat kuatnya gerakan spektakuler kelombok liberalisme. Bagi Marx, tidak ada bantuan terhadap negara berkembang yang sejati, selalu dibaliknya ada eksplorasi kekayaan dan keuntungannya mengalir pada negara pemberi bantuan. Penghisapan kekayaan sudah terencana dengan halus dan sistematis dari bantuan itu.&lt;br /&gt; Anulisr-anulir teori pembangunan mulai dari teori modernis sampai teori sistem dunia, selalu memberikan temuan dan analisis yang serupa. Kesimpulannya, selagi dunia ketiga masih bergantung pada negara maju, maka selama itu negara-negara berkembang berada dibawah bayang-bayang kemsiskinan dan penghisapan-pengisapan kekayaan.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kondisi seperti ini, tidak ada jalan lain bagi negara-negara berkembang selain melakukan peng-cut-an terhadap kebergantungan bantuan dari negara-negara maju. Negara-negara berkembang mesti membuat kebijakan yang “cerdas” untuk kepentingan bangsanya.&lt;br /&gt;Apalagi, saat sekarang ini dengan menggelindingnya globalisasi yang menawarkan sistem neoliberalisme, maka negara-negara berkembang semakin mengalami peminggiran-peminggiran ekonomi akibat “produksi” negara-negara maju yang melintasi ruang tanpa batas dan tidak mengenal waktu. Maka pertahanan-pertahan negara berkembang perlu ada, salah satu pertahan yang akan dibangun oleh negara-negara berkembang menurut Giddens adalah, mewujudkan sistem pemerintahan tanpa musuh. Yaitu membangun sistem pemerintahan yang disokong oleh masyarakatnya dan mampu berdialektika dengan dunia luar.&lt;br /&gt;Apalagi sekarang ini dunia menjadi “landasan pacu” ekonomi dunia-dunia kuat. Hanya memikirkan bagaimana untuk memenangi pertandingan ekonomi. Oleh sebab itu, kata ekonom J.K Galbraith dalam bukunya Culture Contentment orang-orang kaya dalam dunia kompetitif sekarang tidak menjadi tertarik terhadap orang miskin. Artinya adalah, negara-negara maju tidak akan mempertimbangkan lagi kemiskinan dan keterbelakangan dalam setiap proyeknya di negara yang diberi dana pembangunan. Realisasi proyek negara-negara maju lebih diwarnai alasan keuntungan ekonomi.&lt;br /&gt;Ketika IMF menjadi pemasok dana ke Indonesia, jawaban yang jelas bagi kita untuk membenarkan tesis JK Galbraith, Perkins dan Marx. Memang bantuan modal asing tersebut menjadi pesakitan yang mengacaubalaukan sistem ekonomi di Indonesia.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu pemiskinan di negara-negara di dunia ke tiga tidak selalu diakibatkan oleh tradisionalnya sistem di negara ketiga tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh masuknya sistem asing mengintervensi negara dunia ke tiga. Intervensi yang lebih dominan bermain dalam ranah modal, merupakan suatu gerakan kolonialisme baru dalam dunia kontemporer sekarang ini. Inilah yang harus dicermati dan dihati-hatikan oleh negara-negara penerima donor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-6488431364866926810?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/6488431364866926810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=6488431364866926810&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6488431364866926810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6488431364866926810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/kemiskinan.html' title='KEMISKINAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-506411381527951684</id><published>2008-03-31T05:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T05:25:38.916-07:00</updated><title type='text'>DINAMIKA SOSIAL</title><content type='html'>&lt;strong&gt;FENOMENA FRUSTASI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sudah hampir 9 tahun gerakan reformasi melintas di bumi persada Indonesia. Perubahan-perubahan telah begitu banyak terjadi, namun selalu menghadapi perangkap dilema yang kursial, sehingga krisis dan fenomena pesakitan sosial tidak kunjung tercampakkan di negara yang berpenduduk lebih kuran 220 juta jiwa ini.&lt;br /&gt;Potret buram dan kusam masih akrab melekat dalam realita masyarakatnya. Kemudian kesengsaraan-kesengsaraan yang bertubi-tubi pun ditimpakan oleh pemerintah ditengah dunia yang suram itu. Lihat saja, fenomena yang terjadi dibalik kebijakan pemerintah menaikkan BBM (bahan bakar minyak), dimana ekonomi masyarakat semakin terdesak kepinggiran jurang kemiskinan. Subsidi yang dijanjikan pun tidak kunjung memulihkan kesejahteraan masyarakat, malahan hanya sebagai open ended untuk menenangkan gunjingan masyarakat atas kenaikan harga tersebut.&lt;br /&gt;Dilema kemiskinan ini, telah merenggut kewarasan masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Kefurutasian telah dilampiaskan dalam bentuk yang beragam, malahan belakangan ini marak kita simak tentang trends suicide bunuh diri atas dasar ketidak mampuan menghadapi realita kehidupan. Anak-anak SD pun telah ikut memilih mengakhiri kehidupan dengan cara suicide tersebut dengan gantung diri. Inilah sebuah fenomena yang malang melintas ditengah-tengah kehirupikukan tatanan ekonomi menara gading.&lt;br /&gt;Kekuatan teori neoliberalisme yang dipupuk oleh pemerintahan, tidak banyak membawa perubahan yang signifikan terhadap pegentasan kemiskinan. Sistem ekonomi neo liberal masih saja memberikan keuntungan sepihak. Oleh sebab itu, dalam pandangan ekonom, seperti John Perkins neoliberalisme dalam dunia ketiga bukan jalan keluar untuk reinventing atau pemulihan, tetapi sebagai perangkap pemiskinan.&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, maka kekuatan ekonomi neo libealisme yang ditata oleh tim ekonom SBY sulit diharapkan sebagai the end of history kemiskinan. Potret kemiskinan masih menganga dalam lingkaran setan kekuatan ekonomi yang tidak memihak perubahan nasib rakyat. Endless kemiskinan entah kapan akan berakhir, apalagi sekarang ini dengan tidak adanya kita dengar “proyek” rancangan pengentasan kemiskinan yang cergas dan cerdas, baik ditingkat pemerintahan nasional maupun lokal. Maka diprediksikan kualiti hidup bangsa Indonsia akan semakin jauh tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harapan Yang Kandas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Memang reformasi telah kita sepakaiti adanya, tidak dapat kita tolak lagi. Penyesalan yang tersisas sekarang adalah, mengapa pengisian reformasi ini selalu membawa kekecewaan-kekecewaan sosial yang begitu mendalam. Optimisme reformasi kini berada dalam teras pendulum yang gamang, sehingga semunya berjalan dalam sistem trial and error.&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan yang berubah dan berjalan dari revisi ke revisi pun belum mengagihkan dampak yang signifikan terhadap kemakmuran dan kesejateraan masyarakat. Buktinya, negara kita masih saja tercatat sebagai negara yang terpuruk, jika dilihat dari berbagai perhitungan-perhitunga yang dilakukan, misalnya saja laporan yang dikeluarkan oleh Transparency International, negara kita masih merupakan negara no 7 terkorup daripada 120 negara, kemudian jika dilihat hasil laporan Development Report  yang dikeluarkan UNDP menempatkan Indonesia di posisi 110 dari 173 negara di dunia (hingga Indonesia berada di bawah Philipina, Cina, dan bahkan Vietnam). Kemudian dilihat pula peringkat indeks kinerja Foreign Direct Investment (FDI) dalam World Investment Report (WIR) menempatkan Indonesia pada urutan 138 dari 140 negara di atas Gabon dan Suriname.&lt;br /&gt;            Maknanya semua adalah, sebuah lembaran kekecewaan yang melintas ditengah-tengah harapan yang meluap. Kematangan, institusi dan pemerintahan kita belum teruji sebagai pialang reinventing. Masih berada dalam kultur-kutur tradisional yang terkooptasi pemikiran-pemikiran parsial, sehingga nasib bangsa berada dalam tarik ulur kepentingan-kepentingan. Termasuk antara kepentingan pemerintah daerah dan pusat, kepentingan politik dan partai dan sebagainya. Dan nasib rakyat sendiri terbiar dalam lembah yang suram dan tidak terjamah oleh tarik ulur kepentingan tersebut.&lt;br /&gt;           Wajar, masyarakat akar rumput melampiaskan kefrustasiannya dengan berbagai cara, dan tidaklah aneh rasanya lagi, suicide atau bunuh diri semakin menjadi pilihan popular daripada mereka, sekali pun para mubaligh telah mengumandangkan bahawa bunih diri merupakan cermin kelemahan iman.&lt;br /&gt;            Mereka telah dikorbankan oleh sistem dan tidak tahu lagi cara untuk menggagas kehidupan, semuanya sudah pengab dikelilingi oleh sistem-sistem yang tidak berpihak padanya. Mngkin bunuh diri senjata orang-orang kalah dan terpinggirkan yang anomik sekarang ini.&lt;br /&gt;            Nampaknya untuk mengusir kefrustasian ini pemikiran Hatta, Mubyarto dan kalangan sosialis kanan lainnya, perlu dipertimbangkan kembali untuk memulihkan masyarakat yang kandas ini. Ekonomi masyarakat akar rumput perlu diberdayakan dengan pendekatan-pendekatan yang kooperatif, sebagaimana yang pernah digagas oleh tokoh-tokoh tersebut. Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-506411381527951684?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/506411381527951684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=506411381527951684&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/506411381527951684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/506411381527951684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/dinamika-sosial.html' title='DINAMIKA SOSIAL'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-159500753928859297</id><published>2008-03-30T10:22:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T10:31:55.925-07:00</updated><title type='text'>JIPNEI "ANGKOT" MANILA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-_N3hxUaMI/AAAAAAAAAIk/O88UuymKtdk/s1600-h/IMG_0874.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183588049968457922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-_N3hxUaMI/AAAAAAAAAIk/O88UuymKtdk/s400/IMG_0874.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-159500753928859297?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/159500753928859297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=159500753928859297&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/159500753928859297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/159500753928859297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/jipnei-angkot-manila.html' title='JIPNEI &quot;ANGKOT&quot; MANILA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-_N3hxUaMI/AAAAAAAAAIk/O88UuymKtdk/s72-c/IMG_0874.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7168655252253793127</id><published>2008-03-29T11:21:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T11:30:19.629-07:00</updated><title type='text'>MABUHAY "PHILIPINNA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“MABUHAY” SELAMAT DATANG DI MANILA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Philipina merupakan salah satu negara anggota Asean, yang pernah dipimpin oleh dua orang presiden perempuan(Aquino dan Aroyo). Negara yang mempunyai panggkalan Amerika Serikat di Subbic ini, juga pernah dipipin oleh seorang presiden ditaktor Ferdinand Marcos. Kini negara dunia ketiga ini sedang menapak masa depan penuh dengan cabaran, tidak jauh berbeda dengan negara kita Indonesia. Philipina juga tengah mengalami pasang surut politik dan krisis ekonomi. Oleh sebab itu, jika kita menjelajahi setiap sudut negeri di Philipina hampir sama sosok sosial ekonomi kehidupan masyarakatnya.&lt;br /&gt;            Mobilasi penduduk ke kota juga cukup besar, kerana kosentrasi pembangunan ekonomi, pekerjaan dan sebagainya masih terpusat di kota, sebagaimana halnya dialami oleh negara-negara berkembang lainnya di dunia ini. Oleh sebab itu, wilayah urban dan fenomena slam mengentara, seperti  disaksikan dengan jelas di kota Manila sebagai ibu kota Philipina.&lt;br /&gt;Kemajuan-kemajuan pembangunan dalam kota Manila terutama infrastrukturnya, juga berjalan dengan lamban. Tidak sekencang negara-negara anggota Asean lainnya, seperti Malaysia atau Singapur.&lt;br /&gt;            Kota Manila, masih kentara dengan potret kehidupan yang buran. Masih jauh perjalanan dan perjuangan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mendongkrak kemakmuran dalam kota ini.&lt;br /&gt;Kemiskinan masih bertumpuk dalam kota, gubuk-gubuk reot dan gelandangan mereja lela disetiap sudut kota, sehingga keganasan kota dengan segela kultur kemiskinannya menggelinding dalam peradaban kota Manila. Ketika itu pulalah ada keluhan-keluhan “ibuk kota” ganas dengan kehidipan.&lt;br /&gt;            Kondisi perkotaan negara-negara ketiga yang fenomenal tersebut oleh Johns Perkins tidak lepas daripada imbas intervensi ekonomi, politik, dan budaya negara maju yang disepakiti diterima oleh pemerintahan negara ketiga. Tidak ada bantuan sejati dari negara maju untuk kemajuan negara berkembang, yang ada disebalik itu adalah kolonialisme yang menjalar mengisap negara ketika itu sendiri.&lt;br /&gt;Transformasi sosial tidak akan bergerak dengan cepat mencerahkan masyarakat negara ketiga. Pencerahan akan tetap berpihak pada negera-negara maju yang “sok pahlawan” di negara-negara berkembang. Begitulah John Perkins, menerangkannya dalam confessions economic hit man.&lt;br /&gt;            Kondisi kota Manila yang fenomenal ini, boleh jadi sebagai akibat daripada apa yang dikatakan oleh John Perkins tersebut, masalahnya negara ini terlalu yakin dengan bantuan dan intervensi asing. Kita bisa lihat melalui kasus pangkalan AS di negara tersebut. Pangkalan Subbic yang megah dan serba kecanggihannya, ternyata semuanya itu tidak memberikan imbas kehidupan disekelilingnya yang seimbang dengan apa yang berlaku dalam pangkalan itu. Masyarakat tetap saja tradisional, miskin dan bergubuk reot.&lt;br /&gt;Realita ini dapat kita saksikan jika mendarat di lapangan terbang internasional Clark Diasdado Macapagal, sebuah lapangan terbang yang dekat dengan pangkalan tentara AS di Subbic. Jaraknya dengan Manila sekitar 70 km atau 2 jam perjalan dengan taxi.&lt;br /&gt;Jika dari lapangan terbang ini melanjutkan perjalan ke Manila, kita menyusiri perjalan yang berhampiran dengan Subbic. Lihatlah dikiri kanan jalan, kehidupan masyarakat masih terlihat dalam garis kemiskinan, rumah hunian masyarakat masih banyak ditemukan jauh dari keidealan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tranportasi kota sembrut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Memang secara properti negara manila tidak begitu terkenal sebagai kota wisata, tidak setenar kota Bangkok, Jakarta, Kualalumpur dan sebagainya. Tidak ada pula promosi-promosi wisata ke kota ini begitu gencar. Dari situ, kita paham bahwa kota Manila memang bukan dipromisikan sebagai kota wisata dan kota shoping, mengingat kondisi perkotaan yang serba fenomenal.&lt;br /&gt;            Mabuhay(selamat datang) di kota Manila memberikan kesan yang tidak harmonis dan kontriversial. Kota Manilai bising oleh transportasi yang sembraut, liar dan ugal-ugalan.&lt;br /&gt;            Banyak sarana transfortasi dalam kota tapi kurang tertib dan teratur. Antara transportasi kota itu adalah jeepney(angkutan transfortasi khas Philipina, gayanya tradisional), tricycle(kendaraan roda dua yang diformat menjadi becak), taxi mulai dari resmi sampai taxi gelap dan kreta api cepat.&lt;br /&gt;            Kreta api cepat, pada pagi hari juga ketika pergi dan pulang kantor penuh sesak. Kereta ini menjadi alat transportasi handalan bagi pekerja. Kerena cepat,  tidak macet, nyaman lagi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan jeepney,  banyak kesalnya jika kita menumpang kendaraan ini. Selain macet menghadang, kondisi dalam jeepney yang kurang nyaman. Pertama, kendaraan ini tidak punya knek, bayar ongkos sistem berantai, tolong menolong sehingga uang bayaran sampai pada sopir. Setiap orang yang baru naik pasti bilang “bayad” berati dia mau bayar, dan sekaligus minta tolong disampaikan uangnya ke sopir. Kondisi yang seperti ini, menyebabkan tidak nyaman dalam jeepney. Kedua, Kononya dalam jeepney sering terjadi copet.&lt;br /&gt;Ketiga sopir jeepney banyak yang “nakal” jika kelihatan orang asing, uang kelebihan ongkos sering tidak dikembalikan, atau dia minta tambah ongkos dari tarif resmi. Biasanya dia menandakan orang asing, melalui jumlah uang yang dibayarkan untuk ongkos, kalau yang membayar bukan dengan uang pas itu berarti orang asing. Uang tidak akan ada kembaliannya, kelebihan ongkos tersebut di diamkan saja. Jika mau memanfaatkan jasa jeepney di kota Manila sediakan uang pas buat “bayad”(bayar) ongkos.&lt;br /&gt;            Tarif angkutan lainnya, seperti taxi, dan tricyle lebih “kualat” lagi, sopir minta seenaknya. Tarifnya gila-gila ditawarkan, jangan malu-malu menawar serendah-rendahnya. Masalahnya itu tradisi para sopir-sopir angkutan di kota Manila. Sulit yang  menawarkan ongkos yang berpatutan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Style kota metropolis&lt;/strong&gt;                               &lt;br /&gt;            Manila merupakan kota metropolis yang sudah dapat ditebak style kehidupan di dalamnya. Selain diwarnai dengan kultur kemiskinan juga berkabolarasi styel hedonisme kota yang full dunawiah. Konsumerisme juga melandanya, mall-mall menjadi sasaran untuk melampiaskan “keduniawiahan” tersebut bagi kebanyakan kalangan. Disamping itu “hedonisme” lainnya seperti di hotel, bar dan café-café yang berkaroke dan dingin-dingin  empuk menjamur pula di sini.&lt;br /&gt;            Salah satu pusat shoping yang terkenal di Manila adalah Megamall. Di sinilah banyak lautan manusia, dengan beragam aktivitas. Mulai dari cuci mata sampai bersantai-santai sambil ttm(teman tapi meksum), sedangkan shoping boleh jadi belakangan.&lt;br /&gt;Malam hari, kawasan ini semakin ramai. Perempuan-perempuan jelita berpakaian minim berkeliaran. Gaya metropolis dimalam hari semakin lengkap bermetamarfosis dengan temaramnya kerlab-kerlib lampu malam kota.&lt;br /&gt;            Café-café karoke berserak diaman-mana, ada yang buka malam saja dan ada 24 jam. Kelas kafe ini mulai dari kelas berdasi sampi pada kelas pemulung, ada dalam kota. Suasana cafe bisa disesuaikan dengan tebal tipisnya kocek.&lt;br /&gt;Di café-ckafe ini bebas, tidak bakal ada razia. Kota Manila surganya hiburan masyarakat, silakan pilih tempatnya. Yang penting ada uang, seribu satu kenikmatan kota akan dapat dinikmati.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Manila pengap dengan polusi bau&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Di samping itu, kesan kota Manila yang lain adalah semerbak bau yang mengambang terus. Bau “kencing” alias pipis sulit untuk dihindari. Setiap sudut kota aroma yang satu ini selalu menghantui penciuman. Populasi bau di kota Manila sangat menganggu kenyaman.&lt;br /&gt;            Toilet-toilet umum jarang dijumpai. Kebersihannya pun tidak terjaga Mungkin faktor kelangkaan dan kebersihannya yang tidak terjaga ini, kencing dimana-mana menjadi alternatif dan kemudian terbudaya bagi masyarakat kota.Persoalan ini belum menjadi perhatian serius oleh dinas kebersihan kota Manila.&lt;br /&gt;            Populasi bau ini, menambah presen negative terhadap kota Manila. Sebelum budaya “kencing” sembarangan ini mengandemi dalam masyarakat kota pihak  pemerintahan kota semstinya secepatnya untuk mengatasinya, masalahnya jika sudah mentradisi sulit lagi mengubah prilaku masyarakat yang jorok tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tradisi merekok yang belum terlarai&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Malaysia dan Singapura sudah punya aturan main merekok. Tidak boleh lagi mengisap nikotin di tempat-tempat umu. Kemudian di Jakarta sudah pula dimulai, sebagai langkah awalnya dikeluarkan peraturan daerah DKI no 2 tahun 2005, tentang pelarangan merokok di tempat-tempat umum. Di kota Manila belum ada aturan-aturan soal ini, kebebasan merokok masih menjadi milik siapa saja dan dimana saja.&lt;br /&gt;            Asap rokok berseleweran di mana-mana, yang merokok bukan saja  kaum laki-laki, perempuan dari berbagai umur pun seenaknya mengisap rokok dikeramaian. Merokok sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat kota mentropolis ini.&lt;br /&gt;            Memandang kondisi sosio ekonomi masyarakat kota Manila yang pas-pasan, semestinya mereka sadar terhadap uang yang dibakarnya, masih banyak keperluan yang harus dipenuhinya. Tapi sayang, logika-logika itu terkalahkan oleh candu rokok yang telah melilit.&lt;br /&gt;Kempanye-kempanye anti rokok juga tidak begitu marak. Simbol-simbol dilarang merokok jarang dijumpai. Pemerintah pun belum nampak mempunyai perhatian yang signifikan tentang ini, mungkin masih ingin menikmati pajak dari produksi rokok tersebut.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rizal Park yang belum ada nyali tourism&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu objek wisata dalam kota Manila adalah objek wisata Rizal Park, sebuah objek wisata lapangan luas. Lebih nikmati mengunjungi tempat ini pada sore hari. Kalau siang cukup panas dengan terik matahari.&lt;br /&gt;            Rizal Park, belum banyak disentuh oleh “nyali” konsep tourism. Di sini kita hanya menemui gerai-gerai kaki lima menjual minuman kaleng dan makanan ringan. Tidak ada sovenir-sovenir dijual oleh pedagang di sini.&lt;br /&gt;Di samping itu, penjual jasa potret photo selalu mengintai pengunjungnya untuk dapat membeli jasanya. Pemotret ini gigih dan selalu merayu sampai jasanya terjual. Dia akan selalu mengikuti pengunjungi.&lt;br /&gt;Objek wisata ini pada siang hari, banyak dijadikan sebagai tempat singgah masyarakat kota. Tempat istirahat masyarakat dari keletihan aktivitas  kota. Di  bawah-bawah pohon taman yang rindang ada yang tertidur, jangan heran menjumpai manusia bergelimpangan di sini. Di samping itu ada pula aktivitas wong cilik memainkan kartu remi, boleh jadi mereka bertaruh.&lt;br /&gt;            Tidak jauh dari tempat ini, ditemui pula sebuah perpustakaan nasional Philipina. Di hadapan gedung ini ramai gerombolan manusia pencari kerja. Sejumlah iklan lowongan pekerjaan diosong oleh agent-agent pencari kerja, kalau berminat tinggal mendaftar padanya. Dari potret itu dapat pula ditangkap, bahwa kota  Manila menyimpan banyak pencari kerja. Tentu pengangguran cukup signifikan pula jumlahnya dan sekaligus menjadi polemik bagi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Santa Cruss dan perkampungan Muslim&lt;/strong&gt;                  &lt;br /&gt;            Masyarakat negara Asean yang satu ini lebih dominan beragama Kristen. Oleh sebab itu, kultur dan simbol-simbol agama ini sangat kuat melekat dalam tradisi masyarakatnya. Atribut-atribut agama ini sangat banyak dijumpai di toko-toko dan di gerai-gerai kaki lima.&lt;br /&gt;            Tidak itu saja, di tengah-tengah kota Manila berdiri gereja yang cukup besar dan selalu melayani doa untuk pemeluknya. Kawasan ini dinamakan dengan Santa Cruss. Di sekitar gereja ramai pedagang kaki lima mengasong dagangan berupa atribut-atribut keperluan berdoa di gereja.&lt;br /&gt;            Tidak jauh pula dari kawasan Santa Cruss, dengan berjalan kaki sekitar 15 minit akan dijumpai perkempungan Muslim, kawasan ini di Quaipo. Di sini atribut-atribut muslim dijual, pakaian muslim sampai pada sovenir Islam ada di kawasan ini. Bagi pelancong Islam, tentu di kawasan ini merupakan tempat yang aman untuk makan minum di restoran. Orang Islam di Manila tidak boleh makan minum di restoran sembarangan, kerana hidangan babi selalu tersedia.  Pemilik restoran tidak akan pernah memberi tahukan, bahwa menunya tidak boleh disantap oleh umat Islam.&lt;br /&gt;            Di perkampungan muslim ini berdiri pula sebuah masjid namanya   Golden Mousque. Masjid ini dilengkapi oleh sebuah perpustakaan dan terbuka untuk umum. Dari masjid inilah menggema azan setiap waktu shalat dating. Perkampungan ini bagi orang Manila disebutnya dengan Moslem Area.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7168655252253793127?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7168655252253793127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7168655252253793127&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7168655252253793127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7168655252253793127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/mabuhay-philipinna.html' title='MABUHAY &quot;PHILIPINNA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5821846243203684242</id><published>2008-03-29T07:30:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T07:44:17.337-07:00</updated><title type='text'>GO! GO! " NO TKI"</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5VlhxUaLI/AAAAAAAAAIc/7K-3rNzgGPY/s1600-h/DSCN6083.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183174324358768818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5VlhxUaLI/AAAAAAAAAIc/7K-3rNzgGPY/s400/DSCN6083.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5821846243203684242?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5821846243203684242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5821846243203684242&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5821846243203684242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5821846243203684242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/go-go-no-tki.html' title='GO! GO! &quot; NO TKI&quot;'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5VlhxUaLI/AAAAAAAAAIc/7K-3rNzgGPY/s72-c/DSCN6083.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-4112219502877524221</id><published>2008-03-29T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T07:30:05.910-07:00</updated><title type='text'>INDON, NO! NO!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;INDON VERSUS INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Dari Indon ke?” begitu sapa seorang petugas imigrasi Malaysia sambil membalik-balik halaman paspor seorang asal Indonesia ketika melalui pemerikasaan di lapangan terbang antar bangsa negara jiran ini. Kerena tidak tau maksud kalimat itu si pemegang paspor bertanya ”what ?”. &lt;br /&gt;            ” Bapak dari Indon ?” begitu petugas imigrasi menjawab.&lt;br /&gt;            ” Tidak, saya dari Indonesia”. Jawab orang Indonesia yang pertama kali mengunjungi negara yang banyak disamun oleh pekerja kita ini.&lt;br /&gt;            Sambil menekan stempel di paspor, petugas migrasi itu mengajukan pertanyaan satu lagi ”kad mana di Indon?”. Pemilik paspor bingung lagi, kemudian dia kembali berbalik betanya kepada petugas imigrasi yang sok komunikatif tersebut. ”Maksudnya ?”.&lt;br /&gt;            ”Di mana di Indonesia?”&lt;br /&gt;            ”Di Jakarta” Jawab pemegang paspor Indonesia ini dengan enteng.&lt;br /&gt;            Sampai di luar bandara petugas jasa transportasi bertanya dengan ramah pula ”Éncik yang dari Indon, nak kemana ke?”. Pertanyaan ini tidak begitu dihiraukan dan mencoba mencuekinnya. Tetapi penjual jasa tetap menggasak”Encik nak kemana, apa ada yang ambil?”. Maksudnya hendak kemana, apa ada yang menjemput.&lt;br /&gt;            Dengan agak sedikit mengerutu, dijawabnya juga ”Saya disini saja, Insya Allah tidak ada yang mengambil, sebentar lagi adik saya juga datang”. Yang dimaksudkan mengambil oleh orang Indonesia ini adalah diculik, sedangkan oleh orang Malaysia menjemput. Terjadi pemaknaan yang berbeda. Walaupun demikian, si penjual jasa dapat memahami maksud dari kalimat  tersebut, sehingga ia tidak lagi meruntut pertanyaan. ”Oo... Encik ada yang menjemput?” Ujar si penjual jasa sambil berlalu.&lt;br /&gt;            Kemudian seorang ibu muda yang sejak tadi berdiri di sampingnya, menyapa pula dengan logat Malaysia ”Bapak Indon ke?”.&lt;br /&gt;            Tidak dijawabnya. Laki-laki itu terus saja mengutak-ngatik telepon bimbit alias hp warna hitam yang tidak lepas dari tangannya itu. &lt;br /&gt;            Namun, ibu muda yang berprofesi sebagai TKW ini tidak tinggal diam dengan pertanyaannya yang tidak dijawab itu. Ia coba mengulas pertanyaan petugas imigrasi yang didengarnya ketika pemeriksaan, ”Tadi saya dengar Bapak dari Jakarta, berarti Bapak orang Indon sama dengan saya”.&lt;br /&gt;            ”Indon?” Tanya Bapak itu dengan nada yang agak keras.&lt;br /&gt;            ” Ya Indon !” kata TKW yang baru saja balik dari kampung halamannya di Surabaya ini. Si TKW terus menjelaskan, Indon itu Indonesia. ”Jadi Bapak Indon”.&lt;br /&gt;            Si TKW yang sok akrab ini, juga menguber pertanyaan pada lelaki yang duduk di sebelahnya, ”Mas! Juga Indon kan?”.&lt;br /&gt;            Wah! Dengan ketus lelaki setengah baya ini mejawab ”Indon sudah meninggal, tau!”. TKW yang sambil menunggu dijemput majikan ini jengingir mendengar jawaban tersebut. Yang jelas dia tidak tahu arti dibalik jawaban yang ketus tersebut. Laki-laki yang tidak suka dengan sebutan Indon ini nampaknya tahu maknanya, sehingga dia marah ketika mendengar kata tersebut di ungkapkan. Baginya Indonesia harus disebut Indonesia, bukan Indon.&lt;br /&gt;            Sebenarnya kata Indon sudah lama menjelma di Malaysia. Konon pada mulanya digunakan untuk memanggil pekerja kasar Indonesia yang mengadu nasib di negara bekas jajahan Inggris ini. Kemudian makna kata ini melebar, sehingga  Indonesia dipanggil Indon dan tidak dipanggil Indonesia. Pada hal dalam atlas dunia tidak ada satu kata pun yang ditemukan kata Indon. Etnis China Malaysia pun ketagihan dengan kata Indon ini, simak misalnya kalimat berikut ” You Indon mesti kerjas keras haa...supaya boleh kirim uang kad Indon!” Artinya, kamu orang Indonesia harus bekerja keras supaya dapat mengirim uang ke Indonesia.&lt;br /&gt;Kata Indon ini masih bertahan sampai sekarang. Pekerja-pekerja Indonesia yang tidak mengetahui asal-usul kata ini, terbiasa menyebut dirinya Indon dan sangat jarang terdengar memakai kata Indonesia.&lt;br /&gt;            Surat kabar di Malaysia ikut pula memakai kata Indon ini. Lihat misalnya kepala berita surat kabar Indon curi tanah atau pelaku kejahatan pemegang paspor Indon, ada pula Indon curi budak dan pendatang haram dari Indon dan sebagainya. Kata Indon telah menggelandang di negara jiran ini.&lt;br /&gt;             Orang Malaysia memang doyan membuat singkatan terhadap sesuatu negara, misalnya kepada orang Bangladesh dipanggilnya Bangla dan Thailand dipanggilnya Thai. Tetapi mengapa Singapura tidak dipanggilnya Singa atau Philippina tidak dipanggil Philip atau negara lainnya. Khusus Jepang hanya dipanggilnya Jepun.  &lt;br /&gt;            Untuk kasus Indon kata ini terlahir dari sejarah tersendiri dan mengandung  pencitraan yang buruk. Agak bertendensi perkulian. Pencitraan kata itu tentu cukup mengganggu rasa nasionalisme kita. Oleh sebab itu kata Indon yang sudah terlongsong (kebabalasan) direkonstruksi oleh orang Malayasia ini, perlu kita konter dengan kampanye yang berani mengatakan ”Indonesia yes! Indon no!.” Indon bukanlah Indonesia. Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-4112219502877524221?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/4112219502877524221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=4112219502877524221&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4112219502877524221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4112219502877524221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/indon-no-no.html' title='INDON, NO! NO!'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-9142778447419767826</id><published>2008-03-29T07:20:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T07:22:40.642-07:00</updated><title type='text'>PERADABAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;DUNIA GLOBAL DUNIA PARADOK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Situasi dunia tengah berada dalam pergumulan kontroversial dan bergerak berlawanan dengan harapan yang dicita-citakan. Dunia diwarnai oleh adegan-adekan yang paradok  dan tidak memihak kemanusiaan. Projek kemanusiaan dan civil society nampak begitu jelas gagal menyelamatkan bumi dari pertumpahan darah. Akhirnya, hidup di era global penuh dengan cengkraman pembinasaan dan pemusnah manusia.&lt;br /&gt;            Tradisi-tradisi lama yang kita caci dan ejek ternyata termanifestasi lagi di era ini, sehingga perang menjadi tradisi yang tidak berkesudahan di bumi manusia ini. Sayang! Kita tidak sanggup menghentikannya dan membiarkan membunuh  manusia dengan mesin yang sophisticated (canggih) itu. Inilah sebuah tradisi kemanusiaan yang paradok di suguhkan pada era sejagat.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu peradaban global bukanlah peradaban yang sejatinya memelihara kemanusiaan, tetapi peradaban yang mencetus keangkaramurkaan yang ditopang oleh perebutan hodonisme sebagaimana telah dijelaskan oleh Hantington dalam tesis the clash of civilization  yang dipublikasi pada tahun 1993 lalu. Peradaban global diwarnai oleh perseteruan kekuasaan dan kekuatan yang mudah melabrak rambu-rambu kemanusiaan. Tidak kalah, Huntington telah membawa kita memahami globalsasi ke dalam arena yang pesimistis. Kehidupan diwarnai dengan perseteruan clash sehingga dunia menjadi laboratorium adu kekuatan antara etnis. Etnis-etnis yang lemah akan terancam nasibnya. Etnis-etnis kuat bangkit dengan berpesta pora mengacak-acak sistem dunia dan lahap memperebutkan bongkahan hedonisme global. Makanya pada era global ini, perang belum usai dan civil society masih berada dalam bayang semu. Kekuasaan dan kepentingan begitu kuat meminggirkan hukum universal.&lt;br /&gt;            Oleh sebab itu, Fijrof Capra tidak setuju memberikan satu kesimpulan yang permanen terhadap peradaban. Baginya tidak ada peradaban di dunia ini yang melaju tanpa cacat. Peradaban selalu bergerak dan tidak luput dari proses daur ulang, sehingga peradaban lama termanifestasikan kembali. Tidak hayal tradisi-tradisi perang ala babar yang kita caci maki bangkit lagi dalam era global, sehingga potret peradaban global tidak luput dari peperangan juga. Khaldun berpendapat hampir sama dengan Capra. Menurutnya peradaban bergerak seperti bandul jam yang berulang alik mencari  bentuk, tetapi dalam proses pencarian bentuk itu tetap saja berbalik pada tradisi yang telah ditinggalkan berabad-abad lamanya. Makanya di era global ini, kita sedang mengalami adegan pengulangan tradisi-tradisi lama itu, sehingga peradaban manusia modern sekarang ini diwarnai dengan tradisi-tradisi lama yang telah dicacinya sebagai tradisi yang tidak berperadaban.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu John Naisbitt, mengatakan era globalisasi adalah era peradaban yang paradok, seperti dikemukakannya dalam buku global paradox yang dipublikasikan pada tahun 1994. Dinamika paradok tersebut hampir muncul dalam setiap lini kehidupan manusia modern sekarang ini. Globalisasi juga dicitrakan sebagai dunia yang tidak pasti, seperti terlihat dari penjelasan Giddens dalam the third way the renewal of social democracy. Menurut Giddens globalisasi adalah juggernaut, yaitu truk besar yang melaju dengan kencang tanpa dikendalikan, sehingga pada era global ini dunia sedang mengolah peradaban di atas roda-roda gila serba tidak menentu, semua kita diminta untuk mencari jalan ke luar agar survive di tengah-tengah ketidakmenentuan itu. &lt;br /&gt;Di sebalik itu, kita juga semakin menyaksikan di era global ini mahalnya harga humanisme. Peradaban global telah digentayangi oleh pluralitas yang penuh kekerasan dan tidak memihak nilai-nilai universal, sehingga humanisme terjungkal balik dalam kehidupan sosial masyarakat dunia. Malahan agama sekalipun tidak banyak hadir dalam menengahi permasalahan manusia, kerana telah dibawa ke dalam ranah kepentingan. Oleh sebab itu, agama terseret dalam peranan-peranan yang paradok. Akhirnya, potret kehidupan sosial global tidak luput dari warna chauvinistik. &lt;br /&gt;Yang terlihat pula dengan kentara di era global ini adalah keeforiaan kaum-kaum yang mempunyai kekuatan dan kemenangan kelas borjouis kapitalis, sehingga sejarah dunia di era global ini telah berakhir di tangan kapitalis, seperti yang disimpulkan Fakuyama dalam The end of history. Tradisi dunia telah direkonstruksi di bawah hegemoni-hegemoni kapitalis. Kini yang tersisa untuk kita adalah mendiskusikan kemenangan kapitalis itu dalam wacana post kolonial dan mencoba merangka konsep ”berfikir global dan bertindan lokal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Politik paradok&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Udara politik yang kita hirup akhir-kahir ini, memang tidak segar. Kebijakan politik internasional banyak terperangkap dalam lagu-lagu kepentingan. Begitu pula dengan politik lokal yang belum mampu memposisikan eksistensinya sebagai pencerah demokrasi, sehingga politik menjadi keranda pengusung clash yang menciptakan pertumpahan darah.&lt;br /&gt;            Politik paradok membuat dunia tidak nyaman dan aman. Ia telah membidani perang-perang yang spektakuler. Oleh sebab itu tidak heran John Muller berpendapat, bahawa perang menjadi salah satu isu globalisasi yang berkelanjutan di belahan dunia ini. Tidak ada kesepakatan untuk mengakhirinya, sehingga sejarah peradaban tidak luput dari peperangan dan pertumpahan darah itu.&lt;br /&gt;Politik paradok tidak pernah berhenti dari kekerasan sebagaimana dijelaskan dalam buku The global agenda issues and perspectives yang dieditori oleh Kegley dan Wittkopf. Fenomena kekerasan itu dengan sangat jelas mewarnai kehidupan masyarakat diberbagai belahan dunia, sehingga civil society mengalami kebuyaran.&lt;br /&gt;Mungkin, politik paradok ini akan menjadi embrio dan sekaligus membidani lahirnya revolusi sosial selanjutnya. Sebagaimana di ketahui sejarah revolusi pada umumnya selalu diawali dari tekanan-tekanan politik. Oleh sebab itu, kita sekarang sedang berada dalam ancangan babak sejarah dunia yang baru.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bencana alam fenome global paradok?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Fenomena alam yang merata terjadi di belahan dunia ternyata telah diberi kesimpulan sebagai fenomena global. Oleh sebab itu, penduduk planet bumi sekarang ini sedang berhadapan dengan ancaman bencana alam dan tenyata bumi bukanlah bumi yang damai dan bersahabat.&lt;br /&gt;Di Indonesia, mungkin masih segar dalam ingatan kita tragedi tsunami akhir tahun 2004 di Aceh. Kemudian diikuti oleh gempa bumi di Nias 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,2 SR di susul gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Tragedi alam tersebut telah meluluh lantahkan sebahagian Indonesia dan merenggut nyawa manusia yang tidak sedikit. Tidak berhenti di situ, dipenghujung tahun 2007 gempa bumi memporak porandakan pula Bengkulu dan Padang, kemudian akhir tahun 2007 dan mengawal tahun 2008, bencana banjir terjadi hampir merata diberbagai kawasan di Indonesia, sehingga bumi nusantra tidak putus dirundung bencana. Inilah potret persabahatan yang pradok antara manusia dan bumi di nusantara ini.&lt;br /&gt;            Kita perlu mempertanyakan, mengapa dinamika persahabatan bumi yang paradok itu terjadi. Pada hal bumi yang telah dihuni oleh banyak intelektual dan ilmuan ini, semestinya mewujudkan keharmonisan tetapi kenyataanya terbalik. Bencana alam menjadi fenomena global yang dipetik manusia di era sekarang ini dan bukan kedamaian yang dapat menjamin kehidupan manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-9142778447419767826?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/9142778447419767826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=9142778447419767826&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/9142778447419767826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/9142778447419767826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/peradaban.html' title='PERADABAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-8805105085204815215</id><published>2008-03-29T07:07:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T07:12:33.840-07:00</updated><title type='text'>"ANGIN PADI TEMPO DULOE" SALAH SATU ISI MESUEM MELAKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5OORxUaJI/AAAAAAAAAIM/6Fv-LxFMn-A/s1600-h/DSCN6008.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183166228345415826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5OORxUaJI/AAAAAAAAAIM/6Fv-LxFMn-A/s400/DSCN6008.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-8805105085204815215?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/8805105085204815215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=8805105085204815215&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8805105085204815215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/8805105085204815215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/angin-padi-tempo-duloe-salah-satu-isi.html' title='&quot;ANGIN PADI TEMPO DULOE&quot; SALAH SATU ISI MESUEM MELAKA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5OORxUaJI/AAAAAAAAAIM/6Fv-LxFMn-A/s72-c/DSCN6008.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5849122937829892042</id><published>2008-03-29T06:58:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T07:01:45.635-07:00</updated><title type='text'>PERJALANAN MELAKA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEKILAS NEGERI MELAKA SEBAGAI PROVINSI TERTUA DI NEGARA MALAYSIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Silfia Hanani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Melaka merupakan salah satu kota bersejarah di semenanjung Malaysia. Sepuluh abad yang lalu menjadi pusat perdagangan internasional. Dalam peta serajah duni, Melaka mempunyai arti dalam membangun ekonomi global. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari eksistensi Selat Melaka yang sudah terkenal sebagai laluan transportasi yang strategis. Malahan sampai sekarang, Selat Melaka masih saja sebagai salah satu pusat perairan yang tersibuk di dunia. Menurut laporan Gubernur Malaka (Ketua Menteri Malaka) Dt Seri Mohd Ali Rustam, setiap hari lebih dari 150 buah kapal besar yang lalulalang di selat Melaka. Kondisi selat Melaka yang demikian sudah barang tentu menjadi aset ekonomi bagi pemerintah Negeri (provinsi) Melaka.&lt;br /&gt;            Sumber ekononomi lainnya bagi pemerintah negeri Melaka adalah sektor parawisata. Sampai saat sekarang ini, pemerintah Negeri Melaka sudah mengembangkan sektor parawisata dalam dua belas paket parawisata, mulai dari parawisata sejarah sampai pada parawisata pendidikan. Sektor parawisata ini merupakan salah satu sektor ekonomi handalan bagi Negeri Melaka, mengingat negeri yang pernah diperebutkan oleh penjajah Protugis, Belanda dan Inggris ini tidak memiliki kekayaan hasil tambang, seperti minyak bumi dan galian hasil bumi lainnya. Oleh sebab itu tidak mengherankan, perkembangan parawisata di Melaka berlangsung dengan begitu cepat. Pemerintah negeri Melaka sangat serius mengembangkan sektor yang satu ini. Sekarang ini, pemerintah negeri Melaka juga melakukan penggalian tapak sejarah Melaka, sebagai salah satu usaha untuk membangunkan Melaka sebagai kota tujuan wisata yang bernuansa sejarah dan pendidikan. &lt;br /&gt;            Menjelang tahun 2010 ini, pemerintah Melaka berupaya keras untuk mencapai rancangan wawasan 2010nya, sehingga proses pembangunan di genjot dengan cepat, sehingga pembangunan insfrastruktur di negeri ”Hang Tuah” berjalan seiring dengan kecapatan waktu. Lihat saja misalnya, kemegahan pembangunan Melaka Sentral, pembangunan Melaka International Trade Center (MITC) sebuah pusat perdagangan internasional, KCA Digital Mall sebagai pusat perdagangan elektronil, Dataran Pahlawan Mega Mall, sebagai pusata perbelanjaan yang sangat indah, dan sebagainya. Infrastruktur negeri Melaka bergerak dengan cepat untuk mencapai wawasan 210 yang tinggal sekitar 3 tahun lagi.&lt;br /&gt;Di samping mempercepat pembangunan fisik (infrastruktur), pemerintah Negeri Melaka juga melakukan pengembangan sumber daya manusia dan termasuk meng-ICT(Information Communication Technology)-kan semua lapisan penduduk. Pada tahun 2007 ini pemerintah Negeri Melaka telah menjalankan projek peng-ICT-an dengan memperkenalka dan melatih ibu rumah tangga dan para pensunan untuk dapat mengakses dan mengoperasikan internet. Menurut laporan kepala dinas informasi dan komunikasi pemerintah negeri Melaka, sampai Juli 2007 ini telah dilatih sebanyak 40 ribu orang lebih ibu rumah tangga dan pensiunan untuk mengenal internet. Implikasi dari pelatihan ini, telah terealisasi setiap rumah minimal mempunyai satu unit komputer yang dapat mengakses internet baik memakai jaringan telepon kabel maupun dengan WIFI (jaringan tanpa kabel).&lt;br /&gt;            Di samping itu, diberbagai tempat umum pemerintah Negeri Melaku telah melakukan kemudahan untuk mengakses internet, sehingga tidak mengherankan di mall, terminal dan tempat-tempat rekreasi di Melaka bisa mengakses internet tanpa kabel. Siapa saja bebas mengakses internet tanpa bayaran. Pemerintah negeri Melaka, sangat konsen dengan pengembangan ICT tersebut. Usaha dan upaya peg-ICT-an ini, merupakan satu langkah yang signifikan untuk membangun rakyat Melaka yang tidak cilek ITC, sehingga lepas tahun 210 rakyat Melaka menjadi rakyat yang sadar ITC dan berbagai urusan dijalankan dengan kemudahan ITC ini, seperti pembayaran rekening air, listrik, dan sebagainya rakyat Melaka tidak perlu antri ke bank atau konter-konter pembayaran.&lt;br /&gt;Di negeri Melaka juga telah ditubuhkan (didirikan) pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis ITC, yang disebut dengan Inkubator K-Ekonomi. Sebuah pusat pengembangan ekonomi yang semuanya diolah melalui dunia maya atau cyber. Sarana ini sangat jelas tujuannya, untuk menglobalkan sektor ekonomi rakyat Melaka, sehingga sekecil apapun usaha ekonomi rakyat Melaka dipromosikan melalui dunia maya.&lt;br /&gt;Selain berkonsentrasi dalam membangun Melaka yang tidak cilek ITC tersebut, pihak pemerintah Melaka juga telah menggenjot sektor pendidikan ini dengan cepat, dengan berbagai cara. Mulai dari pengembangan sekolah yang berkualitas sampai membangun perguruan tinggi berkelas internasional. Kemudian untuk membangun rakyat Melaka yang berpengetahuan, pihak pemerintah Melaka juga telah mendirikan rumah buku, seperti rumah buku dalam hutan taman botani Ayer Keroh. Rumah buku Melaka ini merupakan rumah buku ke tiga di Asia Tenggara dan ke 55 di Asia. Rumah buku, semacam perpustakaan yang bisa diakses oleh setiap penggunjung yang datang berekreasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5849122937829892042?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5849122937829892042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5849122937829892042&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5849122937829892042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5849122937829892042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/perjalanan-melaka.html' title='PERJALANAN MELAKA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3185383568861706730</id><published>2008-03-29T06:51:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T06:56:41.309-07:00</updated><title type='text'>PERANG AIR TAHUN BARU THAILAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5KbhxUaII/AAAAAAAAAIE/F1K28_kwR0o/s1600-h/IMG_0212.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183162057932171394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5KbhxUaII/AAAAAAAAAIE/F1K28_kwR0o/s400/IMG_0212.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3185383568861706730?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3185383568861706730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3185383568861706730&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3185383568861706730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3185383568861706730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/perang-air-tahun-baru-thailan.html' title='PERANG AIR TAHUN BARU THAILAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R-5KbhxUaII/AAAAAAAAAIE/F1K28_kwR0o/s72-c/IMG_0212.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2969456563433534621</id><published>2008-03-29T06:22:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T06:38:47.778-07:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALANAN KE NEGERI GAJAH PUTIH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PERANG AIR DALAM PERAYAAN TAHUN BARU SONGKRAN  DI NEGARA GAJAH PUTIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:Silfia Hanani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tahiland merupakan salah satu negara di kawsan Asia Tenggara yang nasibnya di alaf global sekarang ini tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sama-sama menghadapi multi krisis, krisis politik, ekonomi, sosial dan Budaya, sehingga potret sosial ekonomi masyarakat Thailand hampir sama juga dengan masyarakat Indonesia. Dalam tataran pemerintahan, sama-sama menghadapi isu korupsi, nepotisme dan kolusi. Isu ini pula yang menjatuhkan Thaksin Shinawatra dalam pemerintahan Thailand. Pasca kejatuhan Thaksin Thailand digoncang oleh krisis politik sampai berlakunya darurat meliter.&lt;br /&gt;Krisis yang melanda Thailand tersebut, juga diikuti dengan perang antar etnis yang tidak kunjung reda. Konflik masih bernafas dan masih menjatuhkn nyawa manusia. Kawasan Thailand bagian Selatan masih belum aman, dan masih bergejolak.&lt;br /&gt;Dengan keadaan yang demikian itu, tugas Perdana Menteri Surayut Chulanont yang terberat sekarang ini adalah menstabilkan kondisi politik, pemerintahan dan ekonomi Thailand, sehingga pemerintahan yang berkuasa sekarang ini mampu membawa transformasi masyarakat Thailand yang berjumlah 64.865.253 jiwa ini.&lt;br /&gt;            Walupun negara Gajah Putih tersebut mengalami berbagai gejolak, namun negara yang sedang dipimpin oleh Raja Bhumibol Adulyadej ini, tidak pernah susut dari pelancong, sehingga sektor pelancongan ini menjadi sektor terbesar penyumbang  perekonomian Thailand disamping sektor pertanian.&lt;br /&gt;            Besarnya sumbangan sektor parawisata dalam perekonomian Thailand ini tidak terleas dari pada kebijakan pemerintah Thailand dan sekaligus hidupnya tradisi-tradisi masyarakat di Thailan, disamping adanya faktor ”kebebasan” yang sudah sangat terkenal.&lt;br /&gt;            Dari segi tradisi masyarakat Thailand yang dominan beragama Budha ini mempunyai banyak tradisi. Pada bulan April ini masyarakat negara gajah putih ini menggelar tradisi pesta penyambutan tahun baru Thailand. Pesta Happy new year Thailand tersebut merupakan salah satu agenda kunjungan wisata ke Thailand.&lt;br /&gt;            Happy new year masyarakat Thailand yang dijuluki dengan sangkron ini jatuh pada setiap tanggal tanggal 13 April. Tanggal 13 April 2007 ini, masyarakat Thailand memasuki tahun baru 2550, sebuah tahun yang jauh lebih dahulu daripada Masehi dan Hijriyah. Jika dibandingkan dengan tahun Masehi, maka tahun baru Thailand dahulu 543 tahun dari tahun Masehi dan mendahului 1122 tahun dari tahun Hijriyah.&lt;br /&gt;            Dengan demikian, Thailand sebagai salah satu masyarakat di Asia Tenggara telah menciptakan sebuah dimensi perhitungan waktu yang lebih dahulu daripada bangsa-bangsa lain di dunia. Hal ini tentu tidak dapat dipungkuri bahwa di kawasan ini ada bukti sejarah peradaban masa lalu. Bukti sejarah ini, merentang sampai sekarang dan abadi dalam peradaban masa kini. Setidaknya, kejayaan lokal masa lalu telah melahirkan satu sains yang beradagium kearifan lokal, sehingga masyarakat Thailand mempunyai perhitungan perguliran masa tersendiri, yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;            Proses penanggalan yang abadi dalam masyarakat Thailand ini, tidak dapat dilepaskan daripada peranan agama lokal dalam mendesaian dinamika kehidupan masyarakat. Agama lokal yang kental dalam masyarakat, pada kenyataannya telah merekontruksi sebuah tradisi dan ritualisasi, kemudian starting daripada ritual itu selalu dijadikan pijakan untuk proses selanjutnya.&lt;br /&gt;            Starting tahun baru Thailand barangkali dimulai dari sebuah proses ritual agama lokal, kemudian dijadikan pijakan penghitungan waktu dalam kelender lama Siam (Thailand sekarang). Sama halnya dalam proses penanggaalan tahun baru Hijriyah dalam agama Islam, ritualisasi perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah dijadikan starting atau awal dalam penanggalan tahun baru Hijriah.&lt;br /&gt;            Jika dielaborasi dari perspektif kata songkran sebagai nama tahun baru Thailand maka semakin jelas, bahawa penanggalan dalam kelender lama Siam (Thailand) dilatar belakangi oleh adanya persitiwa sejarah yang terjadi. Yaitu persitiwa sejarah pensucian diri manusia pada 2550 tahun yang lalu. Dari proses pensucian itulah lahir perkataan songkran sebagai sebutan untuk tahun baru masyarakat Thailand. Songkran mempunyai arti yang penyucian diri manusia, atau perpindahan dari yang tidak suci kepada yang suci, dari yang tidak baik menuju kebaikan dan seterusnya.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu tidak mengherankan, setiap kedatangan tahun baru bagi masyarakat Thailand berlangsung ritual akabar pensucian diri yang ditandai dengan ”perang air”. Air menjadi simbol, kesucian, kedamaian, ketentraman dan ketenangan, sebagaimana air itu sendiri mengalir dalam lembah yang sunyi. Makanya makna tahun baru bagi masyarakat Thailand adalah memasuki babak kesucian, meninggalakan babak kebobrokan, seabagaimana pengertian yang melekat pada perkataan sangkron, yaitu penghijrahan diri menuju pada duania yang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perang Air Akbar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perayaan songkran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan perang air. Setiap tahun baru datang, aktivitas perang air diseiapkan dengan begitu terencana oleh pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Tahiland memfasilitasi tempat-tempat untuk dijadikan arena perang air. Sebelem perang air dimulai dilakukan terlebih dahulu kegitan ritualisasi keagamaan, dengan memberikan penghormatan terhadap patung Budha. Patung Budha disiram dengan air kembang, oleh setiap orang dan memanjatkan doa dihadapan patung tersebut.&lt;br /&gt;Usai itu, pesta pora perang air dengan guyur-guyuran baru dimulai satu hari penuh, masyarakat tumpah ruah dijalan saling basah membasahi. Senjata air yang mirip dengan senjata air mainan anak-anak dipegang oleh masing-masing orang, baik kecil, muda, tua, laki-laki atau perempuan. Dengan senjata air itulah rakyat berperang salaing ”tembak menembak” dimana air sebagai pelurunya. Siapa saja yang nampak di sekitar mereka ”ditembak” sampai basah kuyup, tidak ketinggalan penumpang tutuk(sejenis angkot) ikut diguyuri sampai basah.&lt;br /&gt;Potret kota-kota di Thailand sepanjang hari tanggal 13 April tersebut berubah menjadi kota basah, karena semua orang berkostum basah. Masuk ke mall dengan pakaian yang basah pun tidak ada yang melarang, tidak ada kejanggalan dan keanehan berpakaian yang basah kemana-mana pada hari itu.&lt;br /&gt;Selain pakaian yang basah, muka setiap orang juga diolesi oleh siapa saja dengan tepung powder yang dijual sepanjang jalan. Polisi-pilisi yang sedang dinas mengamankan jalannya pesta perang air itu pun ikut dibedaki, sehingga semua orang pada hari itu juga bermuka putih.&lt;br /&gt; Tidak ada kemarahan pada hari itu, jika dibasahi dan dibedaki. Yang ada adalah kegembiraan bersama, untuk membangun tahun baru yang penuh harapan dengan kedamian, kesucian dan ketentaraman sebagaimana yang disimbolkan dalam perang air tersebut.&lt;br /&gt;Sebuah peperangan yang tidak menyakitkan, tidak menaruh dendam kesumat, tidak membunuh, tidak merusah dan mengakramurkai, tetapi sebuah peperangan yang damai penuh dengan kesejukan dan ketentraman sebagaimanya sejuknya air mengalir di tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ajang Mencari Jodoh&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Budaya perang air dalam rangka memperingati kedatangan tahun baru tersebut, juga sebagai ajang untuk mencari jodoh atau kekasih dikalangan remaja. Dalam pesta pora air itu mereka saling bertemu dan taksir menaksir, sehingga songkran layak pula disebut sebagai pertemuan ”akbar” bagi kalangan remaja.&lt;br /&gt;            Pesta songkran bagi masyarakat Thailand, memang sebagai pesta yang mendatangkan nikmat, karena pada pesta tersebut mereka melepaskan ”kekotoran” lahir dan bathin yang disimbolkan dengan air. Maka tidak hayal, pesta tersebut ditunggu-tunggu oleh remaja Thailand untuk mendapatkan seorang pendamping hidup yang ”suci”. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2969456563433534621?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2969456563433534621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2969456563433534621&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2969456563433534621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2969456563433534621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/catatan-perjalanan-ke-negeri-gajah.html' title='CATATAN PERJALANAN KE NEGERI GAJAH PUTIH'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7824011542638075679</id><published>2008-03-09T12:07:00.001-07:00</published><updated>2008-03-09T12:12:00.730-07:00</updated><title type='text'>NEGERI DI AWAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R9Q1-zUu_iI/AAAAAAAAAHg/ZibkL9_XyGw/s1600-h/10003323%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175821224800878114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R9Q1-zUu_iI/AAAAAAAAAHg/ZibkL9_XyGw/s400/10003323%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7824011542638075679?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7824011542638075679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7824011542638075679&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7824011542638075679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7824011542638075679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2008/03/awan.html' title='NEGERI DI AWAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R9Q1-zUu_iI/AAAAAAAAAHg/ZibkL9_XyGw/s72-c/10003323%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-4040591585181707949</id><published>2007-03-10T07:06:00.000-08:00</published><updated>2008-04-09T23:02:32.180-07:00</updated><title type='text'>AGAMA, NEGARA DAN KEKUASAAN</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;AGAMA, NEGARA DAN KEKUASAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sekarang perdebatan masalah agama dan negara kembali menghangat dan mencuat kepermukaan. Ada bebera tanggapan dan pendapat yang berkaitan dengan agama dan negara ini. Terutama yang berkaitan dengan ketika negara melakukan kebijakan atau pengaturan terhadap agama masyarakat. Ada tanggapan pro dan kontra. Pertama muncul tanggapan yang menyatakan bahwa negara tidak berhak mengatur agama masyarakatnya. Pendapat ini berlandaskan pada bahwa masalah agama merupakan masalah individu. Jadi negara tidak perlu mengatur agama masyarakat. Secara radikal kemudian berkembang isu, jika negara mengatur agama individu, maka sama halnya negara mengekang hak asasi manusia. Pengertian dan pemaknaan di sini dapat ditangkap bahwa agama adalah masalah wilayah individu, hak asasi manusia. Di negara-negara liberal, atau negara-negara penganut demokrasi liberal, konsep ini nampak diamalkan. Masalah agama sudah diserahkan sepenuhnya kepada individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Kedua, tanggapan konservatif. Tanggapan yang konsisten menyatakan bahwa negara mengatur wilayah agama masyarakatnya. Antara agama dan negara tidak bisa dipisahkan, sehingga agama masyarakat mesti diatur oleh negara. Biasanya negara-negara teograsi berada dalam ranah ini.&lt;br /&gt;Ketiga, pendapat relativisme yaitu tanggapan yang mengambil jalan tengah antara kebebasan dengan konservatif. Pada satu sisi negara mengatur agama masyakatnya, tetapi tidak memberikan ketegasan dalam pelaksanaan agama tersebut. Mungkin jika melihat sampai har ini, Indonesia berada dalam kerangka yang ke tiga ini. Dimana negara mengharuskan masyarakatnya memeluk salah satu agama dan mesti itu tercantum dalam lisensi (KTP), tetapi bagaimana umat tersebut mengamalkan agamanya terserah padanya. Itu ditentukan dan tanggungjawab daripada penganut agama atau “elite” agama masing-masing.&lt;br /&gt;Untuk memetakan mana yang terbaik diantara ke tiga pandangan di atas, tentu sangat sulit. Pertama kesulitan itu muncul seiring menguatnya gerakan “pembebesan” hak-hak individu yang terjadi di Barat. Menyatakan bahawa masalah agama adalah masalah individu masyarakat. Kedua pada satu sisi agama tidak terakumulasi satu saja di dunia ini. Dunia dibangun oleh banyak agama, sehingga negara mempunyai kesulitan untuk mempunyai aturan yang tegas masalah keyakinan ini.&lt;br /&gt;Namun, yang perlu dipahami dalam konteks ini adalah, bagaimana pun juga negara mesti mempunyai tanggungjawab mengatur masyarakat-rakyatnya, oleh sebab itu negara harus mampu membuat kebijakan yang dapat diterima oleh masing-masing umat beragama. Mungkin inilah yang dinamakan demokrasi beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, Revolusi dan Kebangkitan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diulas, bahwa agama mempunyai pengaruh terhadap dunia sosial, peradaban dan tindakan manusia penganutnya. Di Barat, khususnya munculnya zaman pencerahan enlightenment merupakan sebuah sepak terjang setelah adanya keberanian untuk menentang “otoritas” gereja dalam keilmuan, pemikiran dan dunia sosial. Kemudian modernisasi pada abad ke-18 yang ditandai dengan terjadinya revlusi Industri di Inggris.&lt;br /&gt;Kemudian tidak dapat pula disangkal, kemajuan ini muncul sebagai bentuk reformasi dibidang agama yang terjadi di Barat, seperti yang dilakukan oleh agama Kristen Protestan dan tidak disangkal pula, adanya peran kemajuan umat Islam sebelumnya, sehingga di Barat muncul kebangkitan sosial dan ilmu pengetahuan besar-besaran. Kebangkitan itu, juga berlaku dalam politik, pendidikan, adminstrasi, budaya dan seterusnya.&lt;br /&gt;Setidaknya yang mendorong kebangkitan-kebangkitan sosial di Barat ini, tidak terlepas daripada pertama revolusi di bidang agama-Khatolik pecah menjadi Protestan. Kemudian adanya kebebasan intelektual membangun ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Di dunia Islam, revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979 merupakan salah satu bentuk revolusi yang digerakan oleh mesin-mesin “ajaran agama Islam”. Kelompok gerakan Islam, seperti dipelopori Ayatullah Khomeini telah berhasil merubah kekuasaan negara di Iran. Otoritas raja yang otoriter telah dibongkar oleh revolusi Iran, dengan melahirkan Republik Islam Iran. Oleh pengamat politik Barat, revolusi Iran ini dianggap sebagai sebuah kebangkitan di dunia Timur. Kebangkitan politik yang mengejutkan dan sangat dicengangkan oleh Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatollah Ruhollah Khomeini, pelopor daripada revolusi di Iran pada tahun 1979. Revolusi di Iran di sokong oleh gerakan-gerakan Islam. Revolusi Iran, pada asas menumbangkan kekuasaan sah, atau raja yang otoriter dan diktator di bawah bayang-bayang kekuasaan Amerikan. Oleh sebab itu agama tidak dapat pula disangkal dapat melahirkan revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Khomeini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan muncul pula gerakan fundamentalisme, malahan semenjak terjadinya tragedi 11 September 2001, pembaktisan gedung simbol digdaya Amerika Serikat World Trade Center. Maka sebutan terhadap Fundamental dan Teorisme menjadi semakin senter. Sayang kedua sebutan itu di dekatkan pada “agama”. Pada awalnya fundalisme memang dipakai oleh orang Protestan di Amerika Serikat pada abad ke-19. Sebuah pergerakan konservatif, yang menekankan kembali memegang teguh ajaran injil atau ajaran kritus. Namun, pekerkataan fundamentalisme melebar sehingga sampai pada mencitraan pada umat Islam, dengan sebutan Islam fundamental.&lt;br /&gt;Dapat ditangkap, Islam fundamental bermakna gerakan konservatis daripada orang Islam yang menekankan pada penegakaan ajaran Islam secara keras dan tegas, atau dikenal juga dengan sebutan “radikal”.&lt;br /&gt;Pergerakannya yang radikal ini menjelma dalam bentuk terorisme, sebagaimana berpuncak pada tragedi 11 Septembe 2001. Kemudian, setelah itu pencitraan terhadap Islam fundamental dibentuk oleh Barat sebagai “agent” terorisme.&lt;br /&gt;Yang terpenting dalam konteks ini adalah, agama apapun, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lainnya dapat menjadi inspirasi perubahan. Tergantung pada bagaimana penganut agama tersebut mengintrepertasikan ajaran agama, kedalam sebuah pergerakan terjadi dalam berbagai macam, mulai dari bentuk yang lunak sampai pada radikal.&lt;br /&gt;Dalam konteks lokal, juga dapat ditangkap bahwa pergerakan-pegerakan kemerdekaan pada umumnya banyak dimotori oleh organisasi-organisasi keagamaan. Seperti di Minangkabau, gerakan kaum Paderi pimpinan Imam Bonjol, kemudian menjadi cikal bakal gerakan nasional perjuangan Indonesia. Gerakan Paderi, adalah sebuah gerakan keagamaan yang kemudian membangun kekuatan untuk menentang kaum penjajah.&lt;br /&gt;Kemudian, dalam konteks sekarang ini di aras lokal terjadi kebangkitan agama. Misalnya di Sumatera Barat, dengan kembali pada pemerintahan nagari, diperkokoh kembali konsep adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Diikuti dengan atribut-atribut lainnya, seperti wajib pakai jilbab bagi perempuan. Kemudian di Aceh diberlakukan Syariat Islam, di NTB terdengar pula kota sebutan seribu masjid dan lainnya.&lt;br /&gt;Adanya kebangkitan-kebangkitan Islam, dalam masyarakat lokal ini dapat dipahami, bahwa adanya semangat perujukan agama sebagai penggerak sosial masyarakat lokal era sekarang ini. Sekaligus, untuk membangun identiti keagamaan dalam masing-masing masyarakat lokal terebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, Kekuasaan dan “Politisasi Agama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama sesuatu yang “suci” dan sangat memainkan peranan dalam perubahan sosial, pada kenyataannya agama juga dapat menjadi “alat” daripada kekuasaan untuk membangun kekuatan. Agama dijadikan “alat” pembenaran, penguat, pengesahan dan sebagainya sehingga kekuasaan mendapat pembenaran. Konsep seperti ini, sering dinamakan dengan “politisasi agama”. Dimana agama dipolitisasi atau dijadikan “tumbal” oleh kekuasaan.&lt;br /&gt;Elite-elite agama menjadi “kaki tangan” kekuasaan untuk melegakan keinginan daripada kekuasaan. Hasan Hanafi sehubungan dengan ini, mengulasnya dengan cermat dalam buku Human Al-Fikr Al-Watan di alihbahasa ke Indonesia menjadi Oposisi Pasca Tradisi. Dalam ulasannya mengenai masalah kekuasaan ini, Hanafi menyebutkan bahwa dalam satu negara setidaknya telah terjadi dua tradisi, yaitu tradisi kekuasaan dan tradisi oposisi. Tradisi kekuasaan inilah yang dominant menjadikan agama sebagai “alat” kekuasaan. Selanjutnya dijelaskan Hanaifi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…negara menyatu dengan tradisi kekuasaan. Dengan tradisi itu negara menjadi kuat, mampu menguasai gerakan sosial dan dapat mengawasi persekongkolan terhadap tradisi oposisi untuk menahan rakyat untuk tidak memunculkan tradisi tersebut dan berlindung di dalamnya, dan mulai menghancurkan legalitas oposisi. Tokoh-tokoh agama mengkodifikasi tradisi negara dan negara memasukan tokoh-tokoh oposisi ke dalam penjara. Negara memberikan kepada tokoh agama yang pro tradisi dengan jebatan-jabatan keagamaan...kemudian menuduh tokoh-tokoh yang berseberangan dengan negara sebagai kelompok kafir, atheis, zindiq...(Hanafi.2003:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elite-elite agama sengaja “dijinakkan” oleh negara atau pemerintah yang berkuasa dengan tujuan dapat mendukung keinginan-keinginan rancangan-rancangan yang telah dipersiapkan oleh pemerintah. Pada masa era orde baru kondisi seperti ini, nampaknya juga pernah berlaku, dimana elite-elite agama yang mampu mendukung tradisi pemerintahan dipelihara dengan pemberia jabatan dan penghormatan-penghormatan yang tinggi, sedangkan yang berseberangan sering disisihkan malahan malahan dituduh sebagai “pembangkang”.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, nampak pula sebuah fenomena yang distorsi. Dimana agama juga dapat dipermainakn oleh negara atau kekuasaan untuk kepentingan kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan dalam konteks ini, memanfaatkan elite-elite agama sabegai agent komunikatif pada masyarakat. Justifikasi-jastifikasi yang diberikan oleh elite-elite agama tentu sangat berpotensi dalam mengamankan kekuasaan daripada kritikan, pembangkangan daripada masyarakat.&lt;br /&gt;Di Thailand pada tahun 1960 Panglima Tertinggi Sarit Thanarat, pernah membuat politiasasi agama Budaha dengan mengintruksikan kepada seluruh pendeta Budha untuk tidak mengkhotbahi nilai-nilai kepuasan hati sesuai dengan ajaran Budha. Tujuannya adalah, supaya kekuasaan Sarit Thanarat dapat berjalan sekehendak hati kekuasaan. Dimana waktu itu moto pemerintahannya adalah “bekerja untuk uang, uang adalah kerja, kebahagian menjadi mungkin.” Kemudian seiring dengan itu, institusi-institusi tradisionalnya perannya diambil alih oleh lembaga-lembaga sekuler.&lt;br /&gt;Politisasi-politisasi agama kedalam ranah kekuasaan ini, menjadi agama kekurangan makna bagi umatnya. Agama dikendalikan untuk kepentingan kekuasaan, semestinya agamalah yang mengendalikan kekuasaan tersebut. Fenomena-fenomena seperti ini sering terjadi dalam kekuasaan-kekuasaan, sehingga agama menjadi alat pembenaran kekuasaan.&lt;br /&gt;Politisasi agama ini kadang-kadang membuat pemisahan-pemisahan ajaran agama dengan kegiatan manusia. Agama dianggap sebagai wilayah individu yang berjurang dengan ruang gerak sosial. Agama berjurang dengan negara, institusi-institusi negara dan lembaga-lembaga lainnya, sehingga wilayah agama betul-betul menjadi wilayah privat dan tidak menyentuh wilayah publik. Makanya fenomena-fenomena sosial yang kita lihat penuh dengan kegiatan-kegiatan yang kontroversi dengan ajaran agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-4040591585181707949?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/4040591585181707949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=4040591585181707949&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4040591585181707949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/4040591585181707949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/my-field.html' title='AGAMA, NEGARA DAN KEKUASAAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-3040112057484977959</id><published>2007-03-10T06:25:00.000-08:00</published><updated>2008-04-09T23:11:58.491-07:00</updated><title type='text'>MINANGKABAU</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2vEcag4RI/AAAAAAAAALU/gNYZBRE_DHQ/s1600-h/sum03.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187494836682416402" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 185px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" height="104" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2vEcag4RI/AAAAAAAAALU/gNYZBRE_DHQ/s320/sum03.jpg" width="101" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;FALSAFAH ADAT FAKTA AKULTURASI SOSIAL ISLAM;&lt;br /&gt;“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah adat Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adaik memakai alam takambang jadi guru (adat bersendi syariat, syariat bersendi Al-quran, syariat berkata adat memakai, alam terbentang menjadi guru). Dijelaskan oleh Hamka dengan interpretasi sebagai perikut;&lt;br /&gt;1. “Syarak mangato adat memakai”. Kata-kata syarak diambil dari Al-quran sunah dan fiqih, akhirnya dipakai dalam adat.&lt;br /&gt;2. “Syarak bertelanjang-adat bersamping.” maknanya syarak terang dan tegas, sedangkan adat diatur berdasarkan prosedur yang benar berdasarkan membaca yang tersurat, tersirat dan tersuruk, selanjutnya juga mempertimbangkan sesuatu itu dengan seksama dan bijaksana.&lt;br /&gt;3. “Adat yang kawi, syarak yang lazim.” Artinya adat tidak akan berdiri kalau tidak dikawikan atau dikuatkan . “Kawi” berasal dari bahasa Arab “qawyyun” berarti kuat. Syarak tidak akan berjalan kalau tidak dilazimkan atau diwajibkan. Lazim artinya biasa, namun lebih aktif dari wajib. Wajib artinya berdosa kalau ditinggalkan. Lazim artinya berpahala atau dikerjakan. “Zim” dikenakan sanksi siapa yang tidak mengerjakannya. Dengan “adat yang kawi-syarak nan lazim” inilah Minangkabau ditegakkan dengan aman dan tertib.&lt;br /&gt;Masuknya syariat dalam tatanan adat, membuktikan terjadinya formasi sosial dalam kultur masyarakat Minangkabau. Formasi sosial ini, menjadi acuan kongkrit dalam menstrukturisasi struktur sosial. Konstribusi Islam dalam hal ini adalah, mencairkan kebekuan format adat dalam otoritas kekuasaan raja yang berdiri di atas superioritas adat.&lt;br /&gt;Syariat mengkonstruksi ulang adat kearah yang lebih fleksibel, sehingga adat dapat mengalami perluasan-perluasan dalam menghadapi perubahan masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan zaman tersebut, dalam masyarakat Minangkabau dikenal stratifikasi adat, mulai dari yang bersifat absolut sampai pada adat yang longgar yang dapat dirobah sesuai dengan konteks zaman, asalkan perubahan itu tidak bertentangan dengan yang absolut. Stratifikasi adat ini disebut dengan adat nan ampek (adat yang empat) yaitu:&lt;br /&gt;Adat nan sabana adat&lt;br /&gt;Adat yang diadatkan&lt;br /&gt;Adat yang teradat&lt;br /&gt;Adat istiadat&lt;br /&gt;Adat nan sabana adat (adat yang sebenar adat) yakni adat yang paling tinggi dan bersifat umum. Adat ini merupakan nilai dasar yang berbentuk hukum alam yang tidak dapat dirubah dan dipungkiri. Sedangkan adat yang diadatkan, adat teradat dan adat istiadat dapat berubah sesuai dengan kesepakatan penghulu dan adat salingka nagari (adat selingkar nagari) sekaligus dapat dipengaruhi oleh berbagai budaya yang datang dari luar asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam konteks ini, terdeskripsikan bahwa Islam dalam tatanan adat Minangkabau bukan mengunci kekakuan, tetapi memberikan dinamisasi yang luas. Hal ini, sebagai implikasi dari pada konstribusi tradisi Islam dalam formasi sosial masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut Gellner, tradisi Islam dapat dimodernisasi bukan melalui inovasi atau konsensi kepada pihak-pihak luar tetapi sebagai kelanjutan atau penyelesaian atas sebuah dialog lama dalam Islam, antara ortodok dengan penyimpangan; pertarungan lama antara pengetahuan dan kebodohan; antara tata tertib politik dengan anarki, antara peradaban dengan barbaraisme, antara kota dan desa, antara hukum Tuhan dengan adat istiadat manusia.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu kehadiran Islam dalam kultur sebagai misisi pemodernisasian ini, sehingga falsafah adat melahirkan transformasi kebudayaan. Hal ini merupakan sebagai salah satu semangat religious revolution. Menurut Reid religious revolution mentransformasi peradaban- kebudayaan dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam. Dalam transformasi, ini tidak hanya merubah dari format lama ke format baru, tetapi juga memberikan desain-desain dan patron-patron yang menengahi peradaban dengan berbagai pengejewantahan.&lt;br /&gt;Menurut Mochtar Naim walaupun adat dan syarak bersumber dari dua sumber budaya yang berbeda tetapi kedua-duanya secara fundamental memiliki kesamaan dan kesejalanan cara pandang. Adat di satu sisi adalah ajaran kehidupan yang bersifat filosofikal kultural dan menawarkan kearifan-kearifan budaya (cultural wisdom) dengan berguru pada alam yang bersifat kauniyah (kontekstual) dengan referensinya alam takambang jadi guru. Sementara syarak adalah norma dan paradigma agama yang berorientasi transendental dan mengacu pada kitab suci Alquran dan Hadis, yang bersifat qauliyah (absolut). Falsafah adat memberikan konstribusi terhadap psikologis dimana adat mengacu kepada ajaran budi dan kearifan budaya, sementara Islam memberi isi kepada hal yang bersifat metafisikal dan supranatural.&lt;br /&gt;Falsafah adat, yang berlandaskan syariat ini, sekaligus membentuk mode of religious masyarakat Minangkabau yang Islami. Maka secara praktis, menunjukan bahwa tidak ada masyarakat Minangkabau non Islam. Berdasarkan, hal ini pula Hamka menyimpulkan sulit memisahkan antara adat dan agama dalam masyarakat Minangkabau.&lt;br /&gt;Penegasan falsafah, dalam budaya Minangkabau merupakan haluan yang memiliki kekuatan hukum ilahiah. Deskriptif ilahiah ini, mewarnai terminologi-termonilogi dan simbolisasi dalam satu kesatuan budaya. Setidaknya, bentuk kepemimpinan Minangkabau yang dibangun oleh tiga kekuatan yang disebut dengan tunggu tigo sajarangan ( pemerintah, ulama dan pemuka masyarakat), sebagai fakta dan realita objektif dari simbolisasi serta konsekuensi terminologi ke Islaman yang masuk ke dalam falsafah, sehingga terwujud dimensi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah&lt;br /&gt;Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah kemudian menjadi falsafah yang mengkatrol tindakan, perbuatan dan mengakumulasi kultur Minangkabau dalam satu kesatuan yang memiliki kearifan budaya yang dilindungi oleh kekuatan internal metafisikal dan supranatural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamitisasi Masyarakat&lt;br /&gt;Teologis Islam yang melekat pada sosio kultural masyarakat Minangkabau mengeksplisitkan, bahwa masyarakat dinamis dan loyal karena kontaminasi relijius dalam sistem budaya telah mendukung dinamitisasi dan bukan mengkleim masyarakat dalam kekakuan ruang gerak yang ortodok dan taqlid. Kontaminasi ini telah menghilangkan sifat kejahiliyahan dalam rotasi kehidupan masyarakat. Kedinamisan masyarakat dapat dilihat melalui profesionalitas sistem adat seperti yang dilansir; adat nan babuhua mati (syarak) dan adat babuhua sentak.&lt;br /&gt;Dimana adat yang babuhua mati merupakan norma fundamental yang mengayamomi seluruh komunitas sistem dan sifatnya tetap dan absolut itulah yang dinamakan dengan syariat Tuhan. Sedangkan adat yang babuhua sentak merupakan norma dinamis yang memberikan kesempatan perkembangan untuk maju, namun dalam kedinamisan itu tidak boleh keluar dari konteks fundamental syriat.&lt;br /&gt;Adat nan babuhui mati dan adat nan babuhua sentak merupakan simbol keseimbangan (equiliberium) dalam sistem sosial masyarakat Minangkabau. Kedua sistem tersebut, mempunyai urgensi untuk mewujudkan keteraturan sosial (social order). Oleh sebab itu, maknanya teologis Islam bagi komunitas kaum ini sangat manifes dan signifikan dalam menentukan arah kehidupan peradaban. Disnilah transformatif sosial mendesaian kultur masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-3040112057484977959?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/3040112057484977959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=3040112057484977959&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3040112057484977959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/3040112057484977959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/rumah-gadang.html' title='MINANGKABAU'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2vEcag4RI/AAAAAAAAALU/gNYZBRE_DHQ/s72-c/sum03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5866707681819621987</id><published>2007-03-10T06:13:00.000-08:00</published><updated>2008-04-09T23:16:04.186-07:00</updated><title type='text'>RINTIHAN</title><content type='html'>MUSIM YANG BERLALU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu didermaga ini ku petik seraut wajah setiap senja&lt;br /&gt;ku kutip seribu satu makna dari kata-kata&lt;br /&gt;ku jemput aura malam dengan sekuntum narasi cerita&lt;br /&gt;kemudian kubisikan pada rembulan kasih dermagaku sinarmu&lt;br /&gt;agar kesejatian abadi terpatri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semusim telah berlalu&lt;br /&gt;seluet dermagaku hanya abadi dalam kanfas&lt;br /&gt;yang dilukis dengan seribu satu warna-warni tanpa paduan&lt;br /&gt;hanya kesemuan yang membekas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja pun telah berujung diawal malam&lt;br /&gt;tanpa seperti musim yang lalu&lt;br /&gt;tak ada dirimu yang lincah memainkan kata&lt;br /&gt;hanya yang ada kenangan semusin yang lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dermaga akhir 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINDU SERAUT WAJAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camar petang meliuk-liuk dengan kapaknya yang indah&lt;br /&gt;sesekali menukik di permukaan yang tenang&lt;br /&gt;angin spoi-spoi menyisik dedaunan&lt;br /&gt;mengantar petang yang bersahaja&lt;br /&gt;kicauan burung bernyanyi riang menjelang ke peraduan&lt;br /&gt;gemercik air terus berirama dipermainkan arus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku tatap kebeningan tasik dengan syahdu&lt;br /&gt;ku lukis disana seraut wajah yang telah ku petik&lt;br /&gt;dan kusematkan rindu disana&lt;br /&gt;dengan kesaksian bayang-bayang petang&lt;br /&gt;ku abadikan dan kubiarkan bermain dibenaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraut wajah berkisah dalam hayalanku&lt;br /&gt;sambil membuat senyum simpul yang kunikmati sendiri&lt;br /&gt;kemudian ku biarkan berlalu&lt;br /&gt;seiring usainya mentari berkisah siang&lt;br /&gt;seiring senja bercerita malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasik Cempak awal 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELUET SENJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi senja yang menghempas dihamparan ilalang&lt;br /&gt;Ronanya menyibak dimensi cerita masa lalu&lt;br /&gt;Sebuah perkisahan yang mirip senja melepaskan siang&lt;br /&gt;kemudian berlalu malam dengan kisah seribu satu mimpi&lt;br /&gt;yang dinyayikan oleh rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seluet senja&lt;br /&gt;tak akan ada lagi&lt;br /&gt;pudar dalam sebah peradaban&lt;br /&gt;yang diukir dalam sebuah keabu-abuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seluat senja yang tiada&lt;br /&gt;terkubur dalam pusaran arus&lt;br /&gt;ditelan dinamik sosial yang egoisme&lt;br /&gt;dicerca oleh tindakan kontroversial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5866707681819621987?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5866707681819621987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5866707681819621987&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5866707681819621987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5866707681819621987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/my-poems.html' title='RINTIHAN'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-7534279860508320321</id><published>2007-03-09T22:45:00.000-08:00</published><updated>2008-04-09T22:56:38.111-07:00</updated><title type='text'>RESESNSI BUKU</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2rfsag4QI/AAAAAAAAALM/LFJrqwXpMAU/s1600-h/jerusalem1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187490906787340546" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2rfsag4QI/AAAAAAAAALM/LFJrqwXpMAU/s320/jerusalem1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;JERUSALEM KOTA TIGA IMAN&lt;br /&gt;ANTARA THE END OF FAITH DAN THE END OF HISTORY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajuk Asli : Jerusalem: one city, three faith&lt;br /&gt;(Jerusalem Satu Kota Tiga Iman)&lt;br /&gt;Pengarang : Karen Armstrong&lt;br /&gt;Penerbit : Risalah Gusti, Indonesia&lt;br /&gt;Penerjemah : A. Asnawi dan Keos Adiwidjajanto&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Julai 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Armstrong, namanya popular diabad muthakhir ini akibat tulisan-tulisan keagamaannya yang sangat jernih dalam membangun keagungan esensi agama-agama dunia. Kejernihan pikirannya dalam mengungkapkan sisi moral agama sebagai metamarfose daripada konflik bathin panjang yang dialminya ketika menjadi biarawati. Setelah meninggalkan karir sebagai biarawati pada tahun 1969, ia lebih banyak bergalut dalam pencarian-pencarian sejati tentang agama-agama dunia, tidak saja dilakukan dalam sebuah agama tertentu sahaja, tetapi melintasi semua agama, Islam, Budha, Hindu dan sebagainya. Daripada pengembaraan spiritual tersebut, Karen menemukan nilai-nilai moral dan kebenaran yang sangat potensial dalam membangun tamadun manusia. Thesis sebelumnya, mengenai agama sebagai “agent” pentamadunan manusia sebenarnya juga telah dibuktikan oleh Weber, Robet N Bellah, Durkheim dan sebagainya, namun sahaja tidak banyak mendapat perhatian, boleh jadi disebabkan oleh masing-masing pakar tersebut hanya melakukan kajian pada satu agama sahaja, tidak seperti Karen Armstrong yang mengeksplorasi banyak ajaran agama dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Karen Armstrong yang banyak menjadi perhatian dalam pencerahan hubungan agama dunia sekarang ini seperti Berperang Demi Tuhan , Sejarah Tuhan, Biografi Nabi Muhammad, Islam: A Short History dan termasuk Jerusalem Satu Kota Tiga Iman. Itu antara karyanya yang diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Buku-buku yang dikarang Karen Armstrong yang termasuk best seller adalah Through Narrow Gate (1981), The Gospel According to Woman (1987), Holy War: The Crusaders and Their Impact on Todays World (1991), The English Mystics of the Fourteenth Century (1991), Muhammad: A Biography of the Prophet (1992), A Histrory of God: The 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam (1993), Isalam: A Short History (2000) dan lainnya. Pemikiran mantan biarawati ini, telah menjadi rujukan popular dikalangan akademis, terutama yang terlibat dalam kajian-kajian peradaban dan keagamaan. Di Indonesia misalnya, pengkaji-pengkaji perbandingan agama telah menjadikan karya-karya Karen Armstrong sebagai rujukan popular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai buku Jerusalem: One City, Three Faith yang ditranslasi kedalam bahasa Indonesia Jerusalem Satu Kota Tiga Iman, merupakan sebuah hasil kajian sejarah yang mendalam, sangat mengagumkan. Mungkin inilah buku yang pertama yang mampu memberikan suatu kelurusan sejarah peradaban yang terjadi di Jerusalem. Selama ini Jerusalem ditulis penuh dengan muatan kontaminasi kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik dan bias kepentingan keagamaan, sehingga Jerusalem berada dalam tarik-tarikan kepentingan politik. Kemudian berakhir dalam ranah konflik antara konflik agama dengan konflik keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik keimanan dengan agama yang berlangsung di Jerusalem terjadi tidak dapat diingkari sebagai sokongan daripada tulisan-tulisan yang ditulis “tidak jernih” selalu memenangkan pihak yang berkepentingan. Hal ini terpaut dengan salah satu proyek Yahudi, bahawa untuk memenangkan Yahudi, diperlukan proyek penulisan yang mendukung pembenaran tindakan Yahudi dengan Zionisnya. Akhirnya Jerusalem yang juga menjadi tempat suci Nasrani dan Islam ini tidak berhenti ditimpa konflik dan perang. Jerusalem menjadi rebutan politik yang ganas.&lt;br /&gt;Dari realiti Jerusalem yang penuh clash tersebut, Karen Armstrong menghadirkan tulisan tentang Jerusalem dalam sisi perdamaian. Dengan penggalian sejarah yang dalam dan cermat, Karen Armstrong telah membangun Jerusalem dengan image yang positif. Ketiga-tiga iman yang dibumikan Tuhan di Jerusalem ditampilkan Karen Armstrong dengan perspektif sejarah yang sangat jernih dan tidak terkesan subjektifitasnya, keberpihakan terhadap salah satu iman tersebut, semuanya dibentangkan sesuai dengan fakta dan data sejarah. Inilah yang patut, difahami dalam buku Jerusalem: One City, Three Faith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjenihan dan kejujuran tulisan Karen Armstrong dalam buku ini, The Washington Post memujinya dengan tidak tanggung-tanggung dan mengakui karya sejarah Karen Armstrong tersebut, sebagai karya yang berperanan penting dalam memberikan kebenaran sejarah Jerusalem. Sekaligus sebagai salah satu pemberi pandangan yang berbeza untuk melihat Jerusalem yang terkoyak-koyak oleh kepentingan politik Yahudi sekarang ini. Tidak kalah pentingnya missi dari buku Jerusalem: One City, Three Faith ini nampak sebagai salah satu yang berperanan mematahkan kearoganan Yahudi yang mengklaim Jerusalem sebagai kota keimanannya. Klaim Yahudi ahistoris ini yang diluruskan oleh Karen Armstrong melalui eksplorasi sejarah dan fakta-fakta yang sangat akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Armstrong membongkar sejarah Jerusalem dalam dua priode waktu, pertama sebelum berada dilembah pergolakan politik, era ketika Jerusalem masih dalam diaspora Yahudi. Kedua setelah berada dalam aras pergolakkan atau kekacauan politik, semenjak Yahudi kembali daripada tradisi diasporanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kurun waktu pertama, berhubungkait dengan masalah perbincangan sejarah keimanan di Jerusalem sehingga tiga iman tersebut membangun peradaban manusia. Bagi orang Yahudi, Jerusalem sebagai tempat suci yang ditandai dengan tempat peribadan Haekal(bait suci), tempat memanjatkan doa dan melakukan ritual-ritual orang Yahudi. Sedangkan bagi kelompok penganut agama Nasrani, Jerusalem adalah sebagai tempat kelahiran Isa Almasih, dan menjadi bandar monumental dalam sejarah keagamaan orang-orang Nasrani. Oleh umat Islam Jerusalem, tempat Masjid al-Aqsha, sebagai salah satu tempat terpenting dalam peribadan dan ritual Islam, iaitu sebagai tempat starting peristiwa isra’ mijraj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penggelan sejarah pertama Karen Armstrong telah berhasil memaparkan sejarah eksistensi Jerusalem sebagai sebuah locus pilihan Tuhan sebagai tempat terpancarnya keimanan. Tuhan kepercayaan agama masing-masing telah memilih Jerusalem sebagai tempat yang bermakna. Pemaknaan ini, ini yang dijelaskan oleh Karen Armstrong dalam buku tersebut. Pemaknaan, pertama adalah Jerusalem sebagai kota pilihan Tuhan. Semestinya Jerusalem berada dalam pancaran-pancaran kesucian, bukan pergaduhan-pergaduahan. Pergaduhan, muncul sebagai akibat terbawanya ranah agama kedalam egoisme etnis. Pemaknaan kedua, Tuhan telah memilih Jerusalem sebagai tempat moden, yang ditandai dengan pelbagai keimanan di bumikan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penggalan sejarah Jerusalem kedua, iaitu era Jerusalem mengalami pergolakan politik. Era ini ditandai dengan kembalinya etnis Yahudi dari pendiasporaan. Atau dipanggil juga dengan era keruntuhan Jerusalem daripada keimanan. Era Jerusalem dalam peperangan dan tarik-menarik politik antara kelompok iman yang ada. Pertama ditandai dengan “meletusnya” perang salib. Kedua, Jerusalem di tengah-tengah tarikan politik Zionisme-Hammas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak keimanan mulai dihilangkan di Jerusalem, digantikan dengan kepentingan-kepentingan Zionis. Orang Muslim pun dilarang oleh Zionis untuk menyebut Jerusalam sebagai kota al-Quds. Zionis telah memetakan sendiri Jerusalem sebagai tempatnya. Tindakan kekerasan Zionis pun telah terlihat kearah genocide. Inilah sebuah kegalauan yang terjadi di Jerusalem, sehingga suasananya telah berubah menjadi kota angkaramurka, tinggal menanti the end of faith seiring dengan the end of history-nya dunia global. Kegaduahan dan keangkaramurkaan ini pula dibentangkan Karen Armstrong dengan sangat jernih, sesuai dengan fakta dan data yang akurat dan lengkap, sehingga tidak terlihat adanya keberpihakan Karen Armstrong pada salah satu pihak yang bertikai. Tulisan Karen Armstrong betul-betul ingin, menampilkan missi “penjernih” image dan merangkum makna perdamaian.&lt;br /&gt;Samapi hari ini tidak ada tanda-tanda akan bermuaranya kedamaian di negeri tiga iman tersebut. Malahan, semakin hari kondisi distorsi dan disharmonisnya semakin menakutkan. Kematian terus terjadi perjam dan perhari. Peperangan semakin menjadi tradisi, pembunuhan semakin tidak mengenal hati nurani. Kebencian-kebencian telah melampaui esensi daripada iman. Itulah yang nampak dalam fenomena di Jerusalem belakangan ini. Kondisi ini di huraikan Karen Armstrong dengan gaya dan nada bahasa yang sangat jujur tanpa terkesan pendekatan politiknya. Inilah yang sangat mengagumkan dari buku ini, semuanya tampil dengan fakta dan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeksplorasian sejarah dan fenomena yang dikedepankan dalam buku ini, sangat jelas adanya sebuah tujuan akhir, iaitu supaya iman yang terbumikan di Jerusalem dapat menjadi simbol solidariti kembali, simbol kesucian dan simbol spiritual yang tidak mencerca satu sama lainnya. Akhirnya tulisan “cerdas” Karen Armstrong ini dapat menjadi peransang “perdamaian” bagi kelompok-kelompok pemilik kota Jerusalem yang bertikai. Hal itu pun menjadi misi dari Karen Armstrong, ia ingin menjadikan iman sebagai proyek perdamaian, ditengah “kekalahan iman” di Jerusalem. Karen Armstrong berupaya Jerusalem berada dalam ambang kegelapan ini dapat menemukan pencerahan kembali dan clash civilization dapat diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, wacana-wacana Karen Armstrong untuk mematahkan percanggahan-percanggahan yang terjadi tersebut, belum banyak menaburkan imbas, karena dilatarbelakangi oleh kajian Karen Armstrong yang sangat jujur dan emperikal. Kajian seperti ini jelas bagi pihak-pihak berkepentingan sangat tidak disukai. Apalagi bagi kalangan Zionis dan pendukungnya. Pemberlakangan kajian-kajian seperti ini dapat dilihat dalam kajian politik dan kekuasaan, orientalisme dan kolonialisme. Kajian yang jujur secara hakiki tidak dapat memberikan pembenaran terhadap keinginan kekuasaan. Buku Karen Armstrong yang bertajuk Jerusalem: One City, Three Faith berada dalam konteks ini, konteks pematahan terhadap keinginan kekuasaan. Fakta-fakta sejarah, yang diungkapkan oleh Karena Armstrong, secara eksplisit menginginkan terkonstruksinya sebuah Jerusalem yang bertamadun seperti iman mentamadunkan pengikutnya dan sebuah Jerusalem yang mampu menjadi ikon tamadun dunia, karena dengan iman-iman yang ditaburkan Tuhan di negeri tersebut sudah cukup relevean Jerusalem menjadi kota yang maju di atas landasan-landasan ajaran iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya Karena Armstrong telah cuba mengisi ruang kosong di tengah hilangnya konsep perdamaian di tengah-tengah negeri pilihan Tuhan tersebut dengan memaparkan sebuah tulisan “penyadaran” sejarah yang sangat bererti bagi kita sekarang ini, tidak sahaja bagi kalangan akademik, intelektual tetapi juga bagi kalangan yang ingin mencari kebenaran di sebalik “pergolakan” iman yang berlaku di Jerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ditengah-tengah kondisi Palestin-Israel yang tidak pernah stabil ini, tentu buku Karen sangat membantu untuk menjernihkan image yang berlaku selama ini, terutama yang berkaitan dengan image agama dan perang. Fakta sejarah menunjukkan peperangan yang terjadi adalah sebagai akibat pembelokkan daripada keimanan itu sendiri, yang dipanggil dengan egoisme etnis, sehingga Jerusalem berada dalam klaim-klaim etnis, inilah yang menyebabkan Jerusalem berada dalam sobekan-sobekan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Karen Armstrong yang banyak dipuji oleh Barat dan Timur ini, sangat patut dibaca. Terutama bagi pihak-pihak yang pengkaji politik, sejarah dan studi agama. Masalahnya, sangat sukar dalam era sekarang ini, ditemukan tulisan-tulisan yang “jujur dan jernih” dalam membincangkan Timur, seperti diakui oleh E.W Said dalam Orientalism yang diterbitkan tahun 1955.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-7534279860508320321?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/7534279860508320321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=7534279860508320321&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7534279860508320321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/7534279860508320321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/resensi-buku.html' title='RESESNSI BUKU'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_2rfsag4QI/AAAAAAAAALM/LFJrqwXpMAU/s72-c/jerusalem1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-2258256061231297811</id><published>2007-03-09T22:43:00.000-08:00</published><updated>2008-04-11T23:22:42.979-07:00</updated><title type='text'>MEMBEDAH AKAR MASALAH MADRASAH</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;MEMBEDAH AKAR MASALAH MADRASAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Hilmi Muhammadiyah pada 5 Januari 2007 di bawah tajuk Mengakhiri Diskrimininasi Terhadap Madrasah sebanarnya bukanlah sebuah isu yang baru, tetapi isu lama yang tidak pernah teselesaikan sehingga madrasah berlarut-larut dalam masalahnya sendiri.&lt;br /&gt;Permasalahan itu menurut Hilmi sebagai akibat daripada adanya hegemoni kekuasaan, pertama terlihat melalui aturan main kurikulum madrasah yang “banci” dan kedua melalui pembiayaan madrasah yang bertendensi dikhotomi jika dibandingkan dengan sekolah umum.&lt;br /&gt;Keadaan yang demikian menjadikan madrasah tumbuh dan berkembang ibarat pepatah hidup segan mati tak mau. Dalam kondisi seperti ini, betulkah hegemoni kekuasaan dan dikhotomi kebijakan sebagai penyebab “runtuhnya” kualitas madrasah? Menjawab permasalahan ini perlu dilakukan pendekatan ruang-waktu, sehingga ditemukan varian-varian lain yang ikut dominan penyebab terperlesetnya mutu madrasah.&lt;br /&gt;Di Indonesia sebelum populer madrasah telah berkembang institusi pendidikan Islam lokal yang independen. Di Minangkabau misalnya, telah muncul institusi pendidikan Islam surau, di pulau Jawa lebih populer pondok pesantren. Institusi pendidikan Islam lokal tersebut, telah berhasil memembangun sumber daya umat Islam pada zamannya. Tetapi ketika datangnya kolonialisme memperkenalkan sistem pendidikan modren, institusi lokal mulai buyar dan mulai dipandang sebagai institusi pendidikan kelas dua oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua permasalahan yang membuyarkan, pertama pendidikan Islam lokal yang independen itu lebih bersifat tekstual, sementara alam kehidupan berkembang dengan begitu cepat, perkembangan itu selalu menuntut kearah penguasaan materialisme. Konsep penguasaan “materialisme” inilah yang kurang dalam institusi pendidikan Islam ketika itu. Fenomena yang demikian oleh kolonialisme dijelaskan dengan Islam ortodok, Umat Islam yang tidak mau memberikan ruang hidupnya kepada dimensi kompetisi dunia. Disinilah awal kekalahan teori pendidikan umat Islam dalam penguasaan dunia, sehingga dalam rentang waktu yang begitu mensejarah di negara ini tidak lahir teori-teori lokal yang berasaskan Islam tentang penguasaan material ini. Akhirnya berpengaruh terhadap keberadaan sekolah agama. Sekolah agama diorientasikan sekolah “akhirat”, image semacam itu berkembang luas dalam masyarakat Indonesia yang mengalami perubahan besar.&lt;br /&gt;Kedua, pengelolaan madrasah yang stagnan dan tidak mampu meracik sistem reinventing, sehingga madrasah tidak mampu mengikuti perubahan masyarakat yang begitu cepat dan kompleks. Baru sekitar awal abad 19 setelah kembalinya para pelajar Indonesia menuntut ilmu di beberapa negara Timur Tengah termasuk di Mesir, institusi pendidikan Islam mulai diperbaharui dengan cara mengadopsi sistem pendidikan Timur Tengah tersebut, sehingga madrasah menjadi populer. Madrasah berkembang di berbagai kawasan di Indonesia, di Sumatera Barat waktu itu ikon madrasah dipegang oleh Sumatera Thawalib, Diniyah Putra dan Putri.&lt;br /&gt;Namun setelah Indonesia merdeka, institusi-institusi pendidikan Islam ini memasuki dunia politik, pasang surut kualitas madrasah semakin tampak. Jati diri madrasah terombang ambing kedalam dua kepentingan yang tidak berkesudahan, antara kepentingan politik dan umat. Tarik menarik dua kepentingan ini, nampaknya ikut memberikan peluang tidak bergimingnya madrasah sebagai agent transformasi sosial umat Islam di Indonesia, sementara sekolah-sekolah umum yang modern semakin menampakkan jati dirinya seperti yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai penyelamat dunia material. Imege terhadap madrasah mulai berkurang, masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum ketimbang ke madrasah.&lt;br /&gt;Keadaan kualitas madrasah yang tidak stabil itu akahirnya masuk dalam cakrawala nasional, sehingga madrasah menjadi objek dalam sistem pendidikan nasional. Oleh sebab itulah, terjadi perubahan-perubahan kurikulum dalam madrasah. Madrasah mulai menghadapi kurikulum keberimbangan, antara pendidikan umum dan pendidikan agama, kemudian dipercepatlah menjadi 70% pendidikan umum dan 30% pendidikan agama, dengan tujuan untuk memicu lari mutu madrasah dan skaligus untuk menghilangkan stigma masyarakat yang memandang madrasah sebagai kelas pendidikan nomor dua.&lt;br /&gt;Dibalik pergerakan perubahan itu, apa sesungguhnya yang terjadi. Mutu madrasah tetap saja berjalan ditempat. Malah madrasah kehilangan jati dirinya sebagai institusi yang fokus dengan pendidikan Islam. Untuk mengkonter kondisi tersebut maka lahirlah madrasah khusus, terutama pada tingkat aliyah, yang fokus dengan pendidikan agama Islam. Namun, madrasah-madrasah yang setengah umum dan setengah agama tetap berada dalam muara kebingungan dan jati dirinya yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membebaskan Madrasah&lt;br /&gt;Menilik daripada perjalanan jatuh bangunnya madrasah dalam pentas pendidikan di Indonesia, sebuah kesimpulan yang perlu di bebaskan adalah kultur madrasah yang soft culture, yaitu adanya sebuah budaya kelemahkarsaan dalam membangun jati dirinya, sehingga madrasah terombang ambing dalam kecepatan perubahan yang terjadi.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Departemen Agama yang pada umumnya sebagai pemilik madrasah sudah harus mempunyai ruang wacana yang konstruktif ke arah mana madrasah ini digiring sehingga madrasah mampu tampil dengan jati dirinya yang sesungguhnya, tidak bermain dalam “ikut-ikutan”, seperti yang terlihat selama ini.&lt;br /&gt;Permasalahan mutu, harus dilihat secara holistik, tidak hanya dilihat dari segi minimnya dana pendidikan yang dikucurkan pemerintah tetapi juga harus dilihat dari peta “dalam” yang berlaku dalam madrasah. Penglihatan peta dalam ini, yang paling urgen tentang bagaimana madrasah berkontestasi selama ini perlu dicerna oleh Depertemen Agama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-2258256061231297811?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/2258256061231297811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=2258256061231297811&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2258256061231297811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/2258256061231297811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/membedah-akar-masalah-madrasah.html' title='MEMBEDAH AKAR MASALAH MADRASAH'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-6227818654412372610</id><published>2007-03-09T08:32:00.000-08:00</published><updated>2008-04-11T23:23:45.940-07:00</updated><title type='text'>GONG XI FA CHAI IN MALAYSIA</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;GONG XI FA CHAI IN MALAYSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh; Silfia Hanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia merupakan sebuah negara modern di Asia Tenggara dan dihuni oleh menimal tiga etnis dominan, Melayu, China dan India. Ketiga-tiga etnis ini memiliki karakteristik dan budaya yang berbeda-beda. Satu hal yang tidak dapat dinafikan dan disanggah dalam perbedaan itu adalah, bahwa etnis Melayu merupakan etnis pribumi Malaysia. Etnis Cina dan India merupakan etnis pendatang yang di bawa oleh penjajahan Inggris sebagai pekerja diperkebunan dan pertambangan di tanah Melayu untuk memperlancar eksplotasinya.&lt;br /&gt;Proses pendatangan etnis Cina dan India yang dilakukan oleh penjajah tersebut, pada kenyataannya telah membawa sejarah baru bagi pertambahan penduduk di Malaysia, sehingga sampai sekarang tanah Melayu tidak lagi duhuni oleh orang Melayu sendiri tetapi juga oleh dua etnis tersebut.&lt;br /&gt;Secara politis, ekonomi dan budaya ketiga-tiga etnis tersebut telah mengisis sejarah Melaysia dengan corak dan warna yang kompleks dan heterogen. Keheterogenan itu semakain nampak dan jalas semenjak Mahathir memperluas ruang gerak perekonomian Malaysia dengan meluncurkan berbagai “mega” proyek pembangunan. Dari pembangunan berbasis pertanian menuju perekonomian pasar yang mendorong berkembangnya penguasaan-penguasaan pasar global.&lt;br /&gt;Tetapi sayang, dibalik pendongkrakkan ekonomi tersebut ada sejenis kelupaan yang terjadi dalam pemerintahan Malaysia. Lupa mempersiapkan kemandirian ekonomi orang Melayu memasuki dunia pasar. Lupa merubah image orang Melayu pemalas dan menaruh mental ketergantungan yang tinggi. Kelupaan ini, telah membuat orang Melayu “kalah” bersaing dari segi ekonomi jika dibandingkan dengan etnis China.&lt;br /&gt;Etnis China, melangkah dengan maju menyusun ekonomi pasar, sehingga tidak mengherankan pasar di kuasai oleh etnis tersebut di Malaysia. Etnis China menjadi penentu ruang gerak kecepatan ekonomi pasar. Perekonomian Kuala Lumpur, hampir dikuasai oleh etnis bermata sipit ini.&lt;br /&gt;Lihat saja misalnya, pusat perbelanjaan seperti kawasan Sungei Wang, KLCC, dan sebagainya hampir menjadi wilayah kekuasaan ekonomi etnis China. Sedangkan etnis India mempunyai wilayah kekuasaan pasar disekitar area Masjid India. Lantas orang Melayu di mana? Paling-paling orang Melayu menyibukkan diri di pasar-pasar tradisional. Dengan kasat mata pun dapat dilihat, Kuala Lumpur sebagai ibu kota Malaysia memang sangat jarang orang Melayu mengambil bahagian sebagai pemain ekonomi. Hampir semuanya etnis China merejalelai.&lt;br /&gt;Keberkuasaan China ini dapat dilihat melalui fenomena yang sederhana saja, seperti mengamati fenomena berlangsungnya peringatan tahun baru China di Malaysia atau disebut juga dengan hari “ gong xi fa chai” yang berlangsung pada tanggal 18-19 bulan ini.&lt;br /&gt;Akibat perayaan gong xi fa chai ini, Kuala Lumpur hampir seperti kota mati dari perdagangan. Toko-toko dan pusat-pusat perbelanjaan banyak yang tutup, karena China sebagai pemiliknya merayakan secara khitmat pertukaran tahun tersebut. Kesepian disetiap pusat perbelanjaan sangat ketara sekali.&lt;br /&gt;Tapi di sisi lain, nuansa peringatan penyebutan tahun baru itu terasa membawa Kuala Lumpur kedalam alam budaya China, kerena semua dimensi dan ikon-ikon ke Chinaan bangkit mengukir “alam” Kuala Lumpur. Warna merah (hong) mendominasi ruang Kuala Lumpur, tulisan-tulisan (karakter) China “Selamat Tahun Baru China” bertebaran di mana-mana. Sangat meriah, daripada hari raya idul fitri, begitulah Kuala Lumpur dalam hangar bingar penyambutan tahun baru China.&lt;br /&gt;Namun, di balik fenomena tersebut tersirat sebuah “kekalahan” orang Melayu dalam menata Kuala Lumpur, baik dari segi ekonomi maupun dari segi budaya. Dari segi ekonomi, Etnis China menjadi ikon elete ekonomi di Kualia Lumpur yang tidak dapat ditandingi oleh etnis Melayu dan India. Orang-orang Melayu pada umumnya menjadi korban konsumerisme dalam peradaban ekonomi yang diciptakan oleh etnis China di Malaysia.&lt;br /&gt;Di Kuala Lumpur posisi orang Melayu entah di mana? Dari segi budaya pula Kuala Lumpur sebagai kota metropolitan telah hilang dari identitas ke Melayuannya kerena telah membumi budaya China. Budaya Melayu cuma terapresiasi disebalik “baju kurung Melayu” yang dipakai oleh perempuan-perempuan Melayu yang masih mempertahankan tradisinya.&lt;br /&gt;Dari reputasi ekonomi dan budaya China yang wujud di Kuala Lumpur, memang belum menjadi perhatian dan pembahasan yang mendalam, karena pemerintahan Malaysia sangat menjaga image hidup kedinamisan Malaysia dalam berbagai “puak” atau etnis. Namun, tanpa di sadari dibalik penjagaan image yang demikian sebenarnya telah terjadi atau berlaku suatu perubahan besar dalam dunia Melayu Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;Jangan-jangan proses perubahan yang terjadi di Kula Lumpur ini, sebagai sebuah proses yang hampir mirip dengan orang Melayu di Singapura. Proses evolutif peminggiran yang tanpa disadari oleh orang Melayu ditengah eforia “kemanjaan” yang diberikan oleh pemerintahan.&lt;br /&gt;Di Singapura keterpinggiran orang Melayu tidak saja disebabkan oleh sikap-mentaliti orang Melayu itu tetapi juga ada indikasi politik kekuasaan meminggirkannya sebagaimana di jabarkan oleh Liliy Zubaidah Rahim dalam bukunya The Singapore Dilemma- The Political and Educational Marginality of the Malay Community. Politik peminggiran yang dilakukan oleh pemerintah pada hakikatnya telah terjadi “penandusan” orang Melayu di Singapura. Tandus dari segi ekonomi, pendidikan dan budaya menyebabkan orang Melayu tidak mampu bersaing dengan etnis China, akhirnya terdampar ke pinggiran. Akhirnya negara yang berlambang singa ini betul-betul telah menghilangkan jejak ke Melayu-an. Orang-orang China telah membangun peradaban dengan kekuatan politik dan ekonomi yang rekonstruksinya.&lt;br /&gt;Di Malaysia, siapa sesungguhnya yang menanduskan? Mungkin jargon Budaya Melayu Pemalas dapat dijadikan satu pendekatan. Kekalahan orang Melayu di Kuala Lumpur membangun ekonomi ada benarnya juga berpangkal daripada sentilan jargon tersebut. Orang Melayu kurang gesit, cepat menyerah dan cepat berpuas diri, barangkali budaya tersebut sebagai sebuah sumbu simetris yang membuatkan mereka terpinggir. Kekuatan dan kegesitan yang dilakukan oleh etnis China dalam membangun ekonomi tidak tersaiangi oleh orang Melayu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-6227818654412372610?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/6227818654412372610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=6227818654412372610&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6227818654412372610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/6227818654412372610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/my-article.html' title='GONG XI FA CHAI IN MALAYSIA'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7785121932488213732.post-5510446057384087850</id><published>2007-03-09T08:22:00.000-08:00</published><updated>2007-03-09T08:27:34.898-08:00</updated><title type='text'>ABOUT ME</title><content type='html'>Silfia Hanani, Dosen sosiologi STAIN Bukittinggi, sekarnag sedang menyelesaikan Ph.D di Sosiologi Univeristi Kebangsaan Malaysia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7785121932488213732-5510446057384087850?l=silfiahananisyafei.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/feeds/5510446057384087850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7785121932488213732&amp;postID=5510446057384087850&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5510446057384087850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7785121932488213732/posts/default/5510446057384087850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://silfiahananisyafei.blogspot.com/2007/03/about-me.html' title='ABOUT ME'/><author><name>SETETES EMBUN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12300499904841212288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OmKn7-nELLk/R_xlABxUaVI/AAAAAAAAAJw/D6dLS6tt4Yg/S220/Copy+of+IMG_0218.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
