catatan hati

Saturday, March 29, 2008

INDON, NO! NO!

INDON VERSUS INDONESIA

Oleh: Silfia Hanani


“Dari Indon ke?” begitu sapa seorang petugas imigrasi Malaysia sambil membalik-balik halaman paspor seorang asal Indonesia ketika melalui pemerikasaan di lapangan terbang antar bangsa negara jiran ini. Kerena tidak tau maksud kalimat itu si pemegang paspor bertanya ”what ?”.
” Bapak dari Indon ?” begitu petugas imigrasi menjawab.
” Tidak, saya dari Indonesia”. Jawab orang Indonesia yang pertama kali mengunjungi negara yang banyak disamun oleh pekerja kita ini.
Sambil menekan stempel di paspor, petugas migrasi itu mengajukan pertanyaan satu lagi ”kad mana di Indon?”. Pemilik paspor bingung lagi, kemudian dia kembali berbalik betanya kepada petugas imigrasi yang sok komunikatif tersebut. ”Maksudnya ?”.
”Di mana di Indonesia?”
”Di Jakarta” Jawab pemegang paspor Indonesia ini dengan enteng.
Sampai di luar bandara petugas jasa transportasi bertanya dengan ramah pula ”Éncik yang dari Indon, nak kemana ke?”. Pertanyaan ini tidak begitu dihiraukan dan mencoba mencuekinnya. Tetapi penjual jasa tetap menggasak”Encik nak kemana, apa ada yang ambil?”. Maksudnya hendak kemana, apa ada yang menjemput.
Dengan agak sedikit mengerutu, dijawabnya juga ”Saya disini saja, Insya Allah tidak ada yang mengambil, sebentar lagi adik saya juga datang”. Yang dimaksudkan mengambil oleh orang Indonesia ini adalah diculik, sedangkan oleh orang Malaysia menjemput. Terjadi pemaknaan yang berbeda. Walaupun demikian, si penjual jasa dapat memahami maksud dari kalimat tersebut, sehingga ia tidak lagi meruntut pertanyaan. ”Oo... Encik ada yang menjemput?” Ujar si penjual jasa sambil berlalu.
Kemudian seorang ibu muda yang sejak tadi berdiri di sampingnya, menyapa pula dengan logat Malaysia ”Bapak Indon ke?”.
Tidak dijawabnya. Laki-laki itu terus saja mengutak-ngatik telepon bimbit alias hp warna hitam yang tidak lepas dari tangannya itu.
Namun, ibu muda yang berprofesi sebagai TKW ini tidak tinggal diam dengan pertanyaannya yang tidak dijawab itu. Ia coba mengulas pertanyaan petugas imigrasi yang didengarnya ketika pemeriksaan, ”Tadi saya dengar Bapak dari Jakarta, berarti Bapak orang Indon sama dengan saya”.
”Indon?” Tanya Bapak itu dengan nada yang agak keras.
” Ya Indon !” kata TKW yang baru saja balik dari kampung halamannya di Surabaya ini. Si TKW terus menjelaskan, Indon itu Indonesia. ”Jadi Bapak Indon”.
Si TKW yang sok akrab ini, juga menguber pertanyaan pada lelaki yang duduk di sebelahnya, ”Mas! Juga Indon kan?”.
Wah! Dengan ketus lelaki setengah baya ini mejawab ”Indon sudah meninggal, tau!”. TKW yang sambil menunggu dijemput majikan ini jengingir mendengar jawaban tersebut. Yang jelas dia tidak tahu arti dibalik jawaban yang ketus tersebut. Laki-laki yang tidak suka dengan sebutan Indon ini nampaknya tahu maknanya, sehingga dia marah ketika mendengar kata tersebut di ungkapkan. Baginya Indonesia harus disebut Indonesia, bukan Indon.
Sebenarnya kata Indon sudah lama menjelma di Malaysia. Konon pada mulanya digunakan untuk memanggil pekerja kasar Indonesia yang mengadu nasib di negara bekas jajahan Inggris ini. Kemudian makna kata ini melebar, sehingga Indonesia dipanggil Indon dan tidak dipanggil Indonesia. Pada hal dalam atlas dunia tidak ada satu kata pun yang ditemukan kata Indon. Etnis China Malaysia pun ketagihan dengan kata Indon ini, simak misalnya kalimat berikut ” You Indon mesti kerjas keras haa...supaya boleh kirim uang kad Indon!” Artinya, kamu orang Indonesia harus bekerja keras supaya dapat mengirim uang ke Indonesia.
Kata Indon ini masih bertahan sampai sekarang. Pekerja-pekerja Indonesia yang tidak mengetahui asal-usul kata ini, terbiasa menyebut dirinya Indon dan sangat jarang terdengar memakai kata Indonesia.
Surat kabar di Malaysia ikut pula memakai kata Indon ini. Lihat misalnya kepala berita surat kabar Indon curi tanah atau pelaku kejahatan pemegang paspor Indon, ada pula Indon curi budak dan pendatang haram dari Indon dan sebagainya. Kata Indon telah menggelandang di negara jiran ini.
Orang Malaysia memang doyan membuat singkatan terhadap sesuatu negara, misalnya kepada orang Bangladesh dipanggilnya Bangla dan Thailand dipanggilnya Thai. Tetapi mengapa Singapura tidak dipanggilnya Singa atau Philippina tidak dipanggil Philip atau negara lainnya. Khusus Jepang hanya dipanggilnya Jepun.
Untuk kasus Indon kata ini terlahir dari sejarah tersendiri dan mengandung pencitraan yang buruk. Agak bertendensi perkulian. Pencitraan kata itu tentu cukup mengganggu rasa nasionalisme kita. Oleh sebab itu kata Indon yang sudah terlongsong (kebabalasan) direkonstruksi oleh orang Malayasia ini, perlu kita konter dengan kampanye yang berani mengatakan ”Indonesia yes! Indon no!.” Indon bukanlah Indonesia. Terimakasih.

1 comment:

abdullah khusairi said...

lam kum. uni, wak blog roll blog ini. trus, online jugalah ke LPM Suara Kampus. Karena mereka sudah hebat-hebat juga. kalau ke padang, singgahlah agak sebentar ke sana. terus, blog mereka juga sudah ada. nanti di kasih kabar ya... thanks....