Tuesday, March 24, 2009

Perjalanan Ke Negeri Pendekar Sastra


Dua bulan terakhir ini, saya asyik melakukan perjalanan ke negeri pendekar-pendekar sastra. Ada dua negeri yang saya tempuh, Pulau Penyengat Kepulauan Riau dan Minangkabau Sumatera Barat. Pulau Penyengat merupakan negeri tempatnya Raja Ali Haji Bertahta dan bersemayam. Raja Ali Haji, tentu bukan orang yang asing di dunia sastra. Dia adalah Bapak sastrawan Melayu yang terkenal dengan Gurindam 12. Bahkan, Raja Ali Haji pula yang menerbitkan kamus bahasa Melayu.

Sedangkan di Minangkabau Sumatera Barat, sebuah daerah yang tidak asing lagi sebagai daerah 'pabrik" sastrawan tempo dulu, sebut saja Misalnya Hamka, Marah Rusli, dan seterusnya. Di Minangkabau ini pula saya menemukan Rumah Puisi yang dibangun oleh penyair Indonesia Taufiq Ismail (sayang saya tak berkesempatan memfotonya).

Sunday, March 22, 2009

WARNA KEMINANGKABAUAN DALAM PUISI...


Pada tanggal 14 Februari 2009, saya menyampaikan makalah tentang sastra di Fakulti Bahasa Moden dan komunikasi Universiti Putra Malaysia dalam rangka "Dharmawijaya Dalam Kenangan".

Saya menyigi tentang "Warna Keminangkabuan Dalam Puisi Dharmawijaya". Saya menumukan minimal tiga identitas sastra Minangkabau ini. Silakan baca lebih detaik makalah lengkap saya.


Pengenalan

Lingkungan sosial-budaya mempunyai pengaruh yang cukup kuat membentuk watak sesorang. Hal ini sudah menjadi pusat perhatian dari kajian psikogi dan sosiologi-antropologi semenjak awal kedua ilmu itu ditubuhkan. Ada kesepakatan dan kesepahaman dari kedua ilmu tersebut, yang menyatakan lingkungan sosial-budaya merupakan pembentuk tindakan dan watak dari seseorang. Kajian psikologi tentang ini dapat dilihat dalam kajian Freud dan dalam sosiologi-antropologi dapat dilihat dalam kajian para sosilogi-antropologi Mikro.

Begitu pula dengan dunia sastera. Ada keterkaitan sosial-budaya dengan hasil karya yang dibuat oleh seorang aktivis sastera. Ertinya, ada pembentukan watak dan style karya yang dipengaruhi oleh kedinamikan sosial-budaya yang membentuk aktivis sastera tersebut. Oleh sebab itu tidak menghairankan semangat kedaerahan akan mewarnai hasil karya aktivis sastera, kerana daerah adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari sosial-budaya itu sendiri. Keadaan ini berlaku juga di Malaysia. Aktivis-aktivis sastera juga membawa semangat kedaerahannya. Di antaranya terlihat dari aktivis sastera yang mempunyai hubungan dengan Minangkabau, mereka sering membawa semengat keminangkabauan dalam karya-karyanya. Hal ini pernah dilacak oleh Ahmad Kamal Abdullah ketika menyigi karya sastera Firdaus Abdullah. ”...bagi sesesiapa yang mengikuti perkembangan dalam tiap-tiap cabang kegiatan Firdaus Abdullah, ia terlihat tetap membawa semangat daerahnya atau keminangkabauannya. Tidak hanya Firdaus Abdullah saja, bahkan penyair seperti seperti Latiff Mohiddin, A. Wahab Ali, Dharmawijaya, Sutan Shahrir Lembang, A. Gafar Ibrahim dan Siti Zainon Ismail tidak menanggalkan akar kedaerahaannya di Minangkabau” (Ahmad Kamal Abdullah, 1987).

Semangat tersebut tidak hanya berlaku di kalangan aktivis sastera yang tua, tetapi bahkan juga terlihat di kalangan aktivis sastera muda. Hal ini dapat dilacak atau ditelusuri dari perkumpulan sastera Negeri Sembilan dan beberapa anak muda penggiat sastera. Kedaerahaan mereka masih lengket dan masih terlihat mewarnai identitinya.

Minamal ada tiga simbol keminangkabauan dalam karya sastera daripada aktivis sastera, iaitu kritik sosial, pendekatan alam dan Tuhan. Ketiga-tiga hal ini, merupakan dasar falsafah dari etnik Minangkabau yang terangkum dalam adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, alam takambang jadi guru. Falsafah ini disosialisasikan mulai dari level institusi keluarga. Impaknya menjadikan adat, agama dan berguru kepada alam menjadi bahagian yang tidak terpisahkan bagi mereka yang berketurunan Minangkabau.

Di Minangkabau Sumatera Barat, tiga kekuatan itu sangat terlihat dengan kuat dalam karya sastera Hamka, AA. Navis, Marah Rusli dan sasterawan Minangkabau yang lainnya. Di kalangan penyair, kekuatan itu dapat dilihat dari kepenyairan Taufik Ismail, Rusli Marzuki Saria dan seterusnya. Dikalangan sesterawan dan penyair muda mungkin dapat diwakili oleh Gus TF Sakai, Iyut Fitra, Yusrizal KW dan seterusnya.

Di samping itu, tidak dapat dinafikan pula menjamurnya lahir aktivis sastera dari daerah Minangkabau, baik di Minangkabau Malaysia mahupun di Minangkabau Sumatera Barat Indonesia, seolah-olah ada pendorong dari daerah ini untuk menghasilkan sasterawan. Bahkan tidak berlebihan, Minangkabau merupakan pabrik atau kilang sasterawan dan penyair.

Secara historis dan sosial budaya, tradisi Minangkabau memang sangat mendukung lahirnya sasterawan dan penyair. Hal ini dimungkinkan kerana tradisi sastra lisan yang berkembang pesat di Minangkabau. Mulai dari tambo[1] (perihal keminangkabuan) sampai pada tradisi maota[2] (berbual) di Minangkabau merupakan tradisi lisan yang sudah mengakar di dalam masyarakatnya. Tradisi seni tersebut yang ikut mendukung kelahiran sasterawan di dalam suku bangsa ini.

Tradisi bahasa lisan berkembang menjadi kesenian dan dikuatkan oleh pepatah nan kuriak adalah kundi, nan merah adalah saga, nan baik adalah budi dan nan indah adalah bahasa. Hal membangun kebiasaan bersastera dan memperkuat kepenyairan di Minangkabau. Ertinya tradisi memberikan media atau sarana yang signifikan untuk mengembangkan jiwa dan nilai-nilai seni.

Membaca Keminangkabauan Puisi Dharmawijaya
Dr. Kamaruzzaman Abdul Kadir atau lebih popular dengan nama Dharmawijaya, merupakan salah satu penyair Malaysia yang tersohor dan terkenal. Pernah mendapatkan pelbagai penghargaan dan hadiah, dari karya-karyanya yang berkualiti dan indah. Di antara penghargaan yang diperoleh Dharmawijaya adalah Hadiah Karya Sastera pada 1971 dan 1976 dalam bidang puisi; Hadiah Sastera Malaysia bagi tahun 1982/83 (puisi), SEA Write Award di Bangkok, Thailand pada tahun 1993, anugerah penyair GAPENA pada tahun 1999 dan anugerah pujangga, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) pada tahun 2002 dan Anugerah Sastera Negeri Sembilan 2005.

Dharmawijaya dilahirkan Kampung Talang, Tanjung Ipoh, Kuala Pilah. Berdasarkan daerah kelahiran ini ada dasar semangat keminangkabauan yang dapat dilacak dari Dharmawijaya. Bahkan kekuatan identiti karya-karya Dharmawijaya dapat dijadikan landasan kuat untuk menunjukkan semangat ke-minangkabu-an yang wujud. Karya-karya Dharmawijaya di antaranya adalah; Puisi Melayu Moden 1933-1957 (1982) yang turut memenangi Hadiah Sastera Malaysia 1982/83 dalam bahagian buku kajian sastera moden terbaik; Tanggapan dan Kaedah Pengajaran Puisi (1987); Berkenalan Puisi (1987), Pemahaman dan Penghayatan Puisi (1992) serta Dunia Puisi Dalam Penelitian dan Pengajaran (1992) dan edisi yang sama dikemaskini pada 1998. Tiga buah kumpulan pusi persendiriannya iaitu Warna Maya (1974), Derita Buana (1992) dan Jejak Kembara (1999). Di samping itu Dharmawijaya penyusun antologi puisi Di Penjuru Matamu (1975) dan Bunga Gerimis (1986) yang pernah menjadi buku teks Kesusateraan Melayu di sekolah-sekolah menengah; Lagu Kehidupan (1983), Bintang Mengerdip (1984), Puisi Sepanjang Zaman (1989) dan Gurindam Alam (1994) yang menjadi rujukan umum dan di institusi-institusi pengajian tinggi.

Hasil kajian Naffi terhadap tiga kumpulan puisi Dharmawijaya, Warna Maya (1974), Derita Buana (1992) dan Jejak Kembara (1999) menginformasikan bahawa ada tiga hal makna penting yang menjadi kekuatan dalam karya Dharmawijaya, iaitu: Kritik sosial, dekat pada alam pendekatan kepada Tuhan (Berita Harian, 30 Mei 2008). Ketiga-tiga hal ini, merupakan kekuatan yang tidak terpisahkan dari watak dari penyair Minangkabau pada umumnya.


Keminangkabauan
puisu
Dharmawijaya

Kritik sosial
Pendekatan
Tunan
Simbolisme
alam
Rajah: Pemaknaan Keminangkabuan dalam Karya Dharmawijaya

1. Kritik Sosial Perlawanan Terhadap Hegemoni
Satu hal yang paling popular dimiliki oleh sastrawan atau penyair Minangkabau di Indonesia adalah, karyanya yang sering bercorak kritik sosial dan sangat dekat dengan perjuangan kemanusiaan dan anti terhadap hegemoni. Bahkan sastrawan AA Navis seorang sastrawan Indonesia yang berdarah Minang dipopularkan dengan sebutan tukang cumeeh (pengkritik). Kemudian dikalangan penyair, Taufik Ismail karya-karyanya sering bermuara pada kritik sosial tersebut. Artinya, di kalangan sasterawan dan penyair berdarah Minang sering mengangkat kepedualian, kemanusiaan dan kesejahteraan. Kritik sosial ini, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dunia sosial, politik dan kekuasaan.

Hal ini pula yang terlihat dari Dharmawijaya. Karya-karyanya padat dengan kritik sosial dan membangun semangat baru. Naffi mengungkapkan “Puisi Dharmawijaya seiring dengan perkembangan sosial hidup masyarakat sehingga saya mendapati beliau tidak lari daripada mengungkapkan permasalahan masyarakatnya khususnya petani yang berhadapan dengan fenomena alam dan diperkatakan secara jujur” (Berita Harian, 30 Mei 2008).

Permasalahannya adalah, mengapa kritik sosial ini melekat dan disemangati oleh sasterawan atau penyair Minangkabau, tentu sangat kuat hubungan kaitnya dengan sistem budaya masyarakat Minangkabau itu sendiri. Suku bangsa Minangkabau merupakan suku bangsa yang mempunyai tradisi demokrasi. Tradisi demokrasi Minangkabau ini telah mengalahkan praktik feodalisme dan kolonialisme di Minangkabau. Praktek feodalisme terlihat dari hilangnya kerajaan raja di Minangkabau, sehingga sampai saat ini di Minangkabau tidak pernah raja di daulat lagi. Kehilangan sistem kerajaan ini, kerena dipengaruhi oleh kuatnya amalan demokrasi di dalam masyarakat nagari[3]. Demokrasi telah mengalahkan hegemoni kekuasaan.

Di samping adanya tradisi demokrasi, kritik sosial yang kental bagi orang Minangkabau diperkuat dengan keyakinan terhadap agama. Suku bangsa Minangkabau sangat terkenal dengan suku bangsa yang taat beragama. Bagi keluarga Minangkabau, agama sudah disosialisasikan dari semenjak kecil. Agama menjadi dasar moral dan nilai-nilai sosial yang diyakini oleh orang Minangkabau. Agama mempunyai dasar yang kuat dalam membangun keadilan dan kemanusiaan. Kekuatan ini yang mempengaruhi watak kritis bagi orang Minang.

Kritik sosial merupakan perlawanan terhadap hegemoni, kesemenaan terhadap dunia manusia. Kritik sosial ini merupakan salah satu, bentuk perjuangan yang dilakukan oleh sasterawan atau penyair. Pembebesan dunia sosial dari hegemoni politik, kekuasaan dan kolonialisme yang diperkenalkan oleh Gramsci ini sudah menjadi ciri khas dari penyair-penyair atau sasterarawan Minangkabau terdahulunya. Hal ini terlihat pula dalam karya-karya Taufik Ismail dan penyair-penyair generasi baru yang sudah ”bosan” hidup dalam hegemoni kekuasaan orde baru di Indonesia.

Dalam perspektif penulis atas dasar itu pula Dharmawijaya membangun kekuatan kritik sosial dalam karya-karyanya. Kritik sosial dalam karya Dharmawijaya sering bermuara pada penyadaran diri, bahkan pemberi motivasi untuk berubah. Kelebihan ini yang banyak terbentang dalam karya-karya Dharmawijaya, seperti yang dilihat oleh Naffi Mat ” Dharmawijaya mengungkapkan permasalahan masyarakatnya secara jujur”. Hal ini dilakukannya, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap dunia sosialnya. Lihat misalnya, puisi Dharmawijaya dalam warna maya yang bercerita tentang kegelisahannya dalam melihat dunia sosial anak manusia.

derita itu
sangkar madu
anak-anak manusia
bercitawaja. bahagia itu
angin debu
anak-anak manusia
penagih kurnia.
berita-bahagia adalah warna maya
pantai dan lautnya
dada kembara!


2. Pendekatan Pada Tuhan
Satu hal yang tidak dapat dinafikan dari penyair Minang adalah, kekentalan karya-karyanya dengan pemaknaan kesajatian hidup dan pendekatan diri pada Tuhan. Hal ini sebagai salah satu fitrah bagi penyair yang berdarah Minangkabau yang selalu hidup dalam budaya religius. Dalam Islam hal seperti ini dikenal sebagai salah satu bentuk dakwah bil lissan. Dalam perspektif antropologi budaya, seperti Geertz (1983) menyebutkan bahawa nilai-nilai agama yang menjadi world view akan sukar dipisahkan dari jati diri sesorang, ia akan membentuk watak dan mempunyai pengaruh dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, agama akan hidup dalam karya. Pendapat yang sama pernah pula dikemukakan oleh Kluchon (Koentraningrat, 2000) bahawa nilai-nilai yang sudah terinternalisasi akan berpengaruh terhadap karya-karya kehidupan.

Agama bagi masyarakat Minangkabau merupakan sesuatu hal yang esensia dan selalu ditegaskan dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Oleh sebab itu, masalah agama merupakan masalah yang paling fundamental. Walaupun saat sekarang sudah berlaku perubahan secara pragmatis, namun hakikat dan esensi keagamaan itu masih mempunyai sisa kekuatan, setidaknya agama masih dikuatkan dalam institusi rumah tangga.

Pengajaran agama ini tentu juga melekat pada Dharmawijaya Oleh sebab itu tidak menghairankan karya-karya Dharmawijaya dipenuhi oleh nuansa-nuansa keIlahi-an, simak dalam puisinya berikut ini:


Rumah Cinta
setiap kali ku kunjungi
rumah cinta ini
kurasakan pintu takwa
semakin membukakan
sinar makna
kandil wahyu
titian keagungan-Mu...........

Dalam Rumah Cinta Dharmawijaya pada hakikatnya membawa pada pendekatan diri kepada Tuhan. Dalam ranah rumah cinta ini pula dapat ditangkap bahawa Dharmawijaya sendiri merupakan seorang yang berusaha untuk memuarakan hidupnya dengan hukum Tuhan. Berikut ini pula, melalui Pintaku Padamu Dharmawijaya melakukan dakwah bil lisan untuk keinsyafan kerana hayat akan berakhir.

Pintaku Padamu
kalau esok kasih kita kan hancur jua
usah ditaburi bumi ini dengan airmata
dunia bukan semata milik orang bercinta
hidup jua bukan semata untuk berlagu kecewa
dibawah sinar mentari pagi demikian jernihnya
hayunkan langkah gagahmu sepenuh khidmat
usapi kesetiaan hati seluruh umat

kalau esok jua hidup dijenguk kematian
usah ditangisi sepinya tanah kelahiran
nyanikan lagu peridu ke wajah tuhan
tanda hatimu setia dlm usia pengorbanan
tau-taulah dibintang satu
dihari hidup kita mengejar bahagia dalam sengsara
dihari mati kita mengira pahala dan dosa


3. Pendekatan Alam
Naffi Mat, mengkaji karya Dharmawijaya dengan pendekatan Teori Psikoanalisis dan Estetika Sastera. Puisi Dharmawijaya dikatakan turut memaparkan rasa tanggungjawabnya untuk memberi rangsangan kepada masyarakat untuk memperjuangkan nasib hidup melalui pemaparan lambang (Berita Harian 30 Mei 2008). Dorongan untuk memeparkan simbol alam ini, merupakan satu hal yang paling biasa dipakai oleh penyair-penyair berketurunan Minangkabau. Menurut AA Navis, hal ini didorong oleh semangat hidup yang diajarkan dalam masyarakat Minangkbau alam takambang jadi guru (alam terbentang menjadi guru).
Manusi belajar pada karenah (tanda-tanda) yang ada dalam alam semesta ini. Alam melambangkan atau memberikan banyak simbol yang harus dimaknai oleh manusia. Pemaknaan simbol alam itu, akan menjadi indah diolah oleh para penyair-penyair dalam karyanya. Simbol alam ini banyak diangkat oleh Dharmawijaya dalam karyanya. Bahkan dalam warna maya hampir membawa simbol alam tersebut.
Kesimpulan
Sebagaimana pada umumnya, citra rasa kedaerahan bagi penyair merupakan salah satu pembentuk watak dari penyair tersebut, sehingga ia mempengaruhi terhadap karya-karyanya. Sebagaimana halnya juga dapat dilihat dari karya-karya Dharmawijaya. Sebagai seorang yang terlahir dari ”Bumi Minang” ia tidak luput dari semangat kedaerahnnya ini. Bahkan kalau ditelusuri ada tiga hal penting semangat keminangkabauan yang melekat dalam karya-karya Dharmawijaya, iaitunya adanya pembawaan terhadap kritik sosial, pendekatan diri pada Tuhan dan membangun simbol-simbol alam dalam karyanya sehingga memudahkan untuk memahami fenomena yang berlaku.


Rujukan
AA.Navis. 1988. Alam Takambang Jadi Guru. Jakarta. Aksara

Ahmad Kamal Abdullah (Kemala). 1987. Kertas Kerja. ” Firdaus Abdullah: Potret Penyair Melayu Antara Tradisi dan Moden. Pekan Baru.

Berita Harian, 30 Mei 2008. Karya A Samad Ismail, Dharmawijaya dan JM Aziz diteliti bagi mencari makna tersirat. Kuala Lumpur. Berita Harian.

Greetz, C. 1983. Local Knowledge: Further Essays in Interpretative Anthripologi. New York. Basic Books.

Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan mentalitas dan pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.
[1] Tambo merupakan perihal yang menceritakan keminangkabauan, mulai dari sejarah sampai masalah adat dan budaya. Isi tambo berupa cerita-cerita Minangkabau yang bercampur aduk dengan dongeng.
[2] Maota merupakan bahasa Minang dengan erti berbicara antara sesame, pembicaraan tersebut mempunyai seni dan gaya bahasa tersendiri, bahkan dapat berbentuk pantun dan sajak. Tradisi ini akhirnya menjadi tradisi di lapau-lapau atau kedai-kedai kopi. Dimana lelaki sebelum bekerja duduk di kedai kopi maota bersama-sama. Boleh pula diertikan berbincang-bincang dengan beragama tajuk. Tradisi ini, akhirnya menjadi media komunikasi dalam masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Maota tidak sahaja dilakukan oleh kaum lelaki, tetapi juga bagi kaum perempuan. Tempat maota bagi perempuan tidak di lapau tetapi berada di pencuran atau di pemandian umum.
[3] Nagari merupakan kawasan yang mempunyai autonomi dan pemerintahan tersendiri. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, pemerintah nagari dijadikan sebagai pemerintah peringkat yang paling rendah. Di nagari ini masyarakat secara sosial hidup dalam tradisi demokrasi. Disebutkan elok nagari kerana mufakat (mesyuarat).

Saturday, March 21, 2009

MENCARI BENING MATA AIR

Semalaman mataku enggan terpejam, mengingat keagungan pesan A. Mustofa Bisri ” Mencari Bening Mata Air”. Cak Mus panggilan akrab kiyai yang suka berpuisi dan berdakwah sejuk ini, telah memberikan kenangan indah padaku, kenangan indahnya hidup, indahnya persahabatan, indahnya dunia dengan segala keukwahan, tanpa curiga, tanpa tuding tanpa saling sakit menyakiti.
Cak Mus, telah membuatku tunduk dan terkulai melalui pelajaran kata-katanya yang bernaluri dan berbahasa jernih, hingga jiwa semakin menemukan peradaban dan bening. Cak Mus, aku rasakan berada di halaqahku ketika puisinya hadiri dalam sidang jiwa, aku petikan puisi Cak Mus yang mengharu biru hingga bening mata air itu terasa dalam lubuk hati dikau.

Tanda Jarak
Tanpa jarak
Maka entah rapat entah berentara

Tanpa akasara
Maka entah diam entah bicara

Tanpa ketika
Maka entah sebentar entah lama

Tanpa masa
Maka entah kakal entah fana

Tanpa janji
Maka entah berpisah entah bersua

Friday, December 26, 2008

DAMPAK TURUNNYA TARIF TELEKOMUNIKASI TERHADAP KECERDASAN ANAK BANGSA


Oleh: Silfia Hanani

Kondisi masyarakat Indonesia sampai pada hari ini masih banyak berada dalam kancah keprihatinan, sehingga bangsa yang dihuni sekitar 220 juta jiwa ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara berkembang di kawasan rantau Asia Pasifik ini. Hal ini dapat diukur dengan beberapa parameter, mulai dari kualitas hidup sampai pada tingkat jumlah usahawan di negara ini.
Kualitas hidup masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, seperti menurut laporan United Nation Development Programe (UNDP) human development index (HDI) masyarakat Indonesia pada tahun 2007 berada pada urutan ke-107 dari 177 negara di dunia. Di ASEAN kualitas hidup masyarakat menempati urutan ke-7 dengan skor 0,728. Peringkat teratas Singapura dengan skor 0,922, disusul Brunei Darussalam 0,894, Malaysia 0,811, Thailand 0,781, Filipina 0,771, dan Vietnam 0,733. Kamboja 0,598 dan Myanmar 0,583 berada di bawah HDI Indonesia.
Rendahnya kualitas hidup bangsa Indonesia, dapat dilihat dari jumlah kemiskinan. Jumlah orang miskin di Indonesia versi pemerintah sebanyak 17% atau sekitar 29,05 juta jiwa, namun jika dipakai indikator kemiskinan yang dibuat Bank Dunia, maka jumlah orang miskin di Indonesia berlipat-lipat atau sekitar 46% dari penduduk Indonesia.
Potret sosial ini merupakan gambaran dari keterbelekangan bangsa ini dalam berbagai aspek. Terutama sekali aspek pendidikan. Pendidikan sebagai mesin pencetak masyarakat pintar belum mampu berbuat banyak dalam merubah kondisi keterbelakangan masyarakat. Rendahnya kualitas pendidikan negara ini menjadi salah satu faktor ketidak berdayaan pendidikan untuk mencerahkan masyarakat. Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.
Kualitas pendidikan yang masih rendah ini pula yang menyebabkan banyaknya pengangguran muncul di kalangan kelas terdidik. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2008 pengangguran dari kelas terdidik di Indonesia berjumlah 4.516.100 orang dari total jumlah pengangguran 9.427.600 orang. Kualitas pendidikan yang rendah mempengaruhi kecilnya semangat wirausaha di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga jumlah pengusaha sangat sedikit sekali di negara ini. Menurut Ciputra saat Indonesia baru mempunyai pengusaha 0,18% dari jumlah penduduk. Sedangkan untuk mencapai sebuah negara maju harus mempunyai 2% pengusaha dari jumlah penduduk. Sedangkan untuk dapat mengatasi kemiskinan di Indonesia sekarang diperlukan 4 juta pengusaha baru.
Pendidikan yang belum mampu mencerdaskan bangsa ini salah satunya di pengaruhi oleh rendahnya fasilitas pendidikan. Mulai dari jumlah bahan bacaan sampai pada pendidikan guru merupakan bermasalah dalam dunia pendidikan kita. Dilihat dari bahan bacaan, negara kita baru hanya mampu menerbitkan buku 10.000 judul pertahunnya, sedangkan surat kabar hanya mampu melayni masyarakat dengan rasio 1:45, sedangkan di Philipina 1:30 dan di Srilangka 1:38 (Media Indonesia, 27 Mei 2007).
Di sisi lain, kebodohon yang belum terkuak secara fantastis oleh dunia pendidikan, ternyata diikuti oleh kualitas guru yang belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari data kelayakan guru dalam mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas guru-guru Indonesia yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta hanya baru 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73 %, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Pendidikan guru menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan. Dari 2,7 juta orang guru di Indonesia hanya sepertiga atau 35% saja yang berpendidikan S1 (Republika 2008). Sedangkan di Sekolah Dasar guru berpendidikan S1 baru sekitara 10% sedangkan menurut undang-undang no 14 tahun 2005 guru Sekolah Dasar Harus S1. Hasil penelitian Hattie (2000) menemukan bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan guru, sebanyak 63% pendidikan guru menyumbangkan pada kualitas pendidikan jika dibandingkan dengan variabel lainnya di sekolah.
Di samping kualitas pendidikan yang masih rendah, ternyata fasilitas pencerdas anak bangsa yang lainnya masih belum menyentuh masyarakat luas. Misalnya saja, fasilitas internet dan alat telekomunikasi sangat terbatas diakses. Sedangkan fasilitas ini sebagai salah satu sarana yang mewujudkan revolusi mental. Hal ini dapat dilihat dari catatan perjalanan sejarah revolusi industri dalam masyarakat Barat. Di mana semenjak abad ke-18 dengan berkembang pesatnya industri telekomunikasi telah merubah peradaban yang terbelakang menjadi maju dan modern. Alvin Toffler akhirnya menjastifikasi abad modern dan pintar adalah abad yang dikuasai oleh telekomunikasi. Oleh sebab itu, telekomunikasi harus menjadi bahagian terpenting dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kontek ini penduduk dunia telah meyakini, bahwa kemajuan sangat tergantung pada penguasaan teknologi informasi, sehingga terjadi revolusi telekomunikasi di dunia. Melek informasi mulai diperkenalkan. Negara Malaysia dan Singapura saat sekarang mencanangkan melek internet. Bukan lagi melek huruf. Melek internet di dukung dengan perangkat teknologi informasi yang canggih dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakatnya. Termasuk tarif telekomunikasi disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga sarana-sarana telekomunikasi diakses secara merata oleh masyarakat. Jika dilihat laporan Bank Dunia tahun 2007 perbandingan akses dan pemakaian teknelogi telekomunikasi terdapat perbandingan yang sangat mencolok antara Indonesia dan Malaysia. Pemakaian internet misalnya dari per 1000 orang di Indonesia hanya memakai 72 orang, sedangkan di Malaysia sudah mencapai 434 orang. Begitu pula dengan pemakaian telepon, dari per 1000 orang di Indonesia baru yang memakai telepon hanya 270 orang sedangkan di Malaysia 943 orang.
Dampak dari pemakaian sarana telekominikasi yang begitu merata tersebut, telah terbukti mendorong tingkat kecerdasan dan kualitas hidup negara tetangga yang pernah mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia ini, sehingga tidak hayal negara ini mempunyai kualitas pendidikan dan kualitas hidup lebih tinggi daripada Indonesia sekarang ini.

Tarif Telekomunikasi Yang Mencerdaskan
Berangkat dari fenomena dan realita bangsa Indonesia yang makin terpuruk seperti yang telah dipaparkan di atas, maka saat sekarang yang diperlukan oleh bangsa ini adalah mesin-mesin pencerdas anak bangsa. Salah satu mesin pencerdas tersebut tertumpu pada pemerataan pemanfaatan sarana telekomunikasi. Salah satunya upaya yang harus dilakukan adalah mewujudkan tarif telekomunikasi yang terjangkau oleh masyarakat.
Misalnya saja, tingginya tarif telekomunikasi selama ini menyebabkan rendahnya tingkat akses internet di kalangan masyarakat Indonesia dan pada umumnya diakses oleh keluarga yang mempunyai ekonomi mapan. Begitu pula dengan institusi pendidikan, internet hanya tersedia di sekolah-sekolah atau kampus yang berbiaya mahal. Sementara sekolah-sekolah kere (miskin) tidak mengenal internet, karena tingginya tarif telekomunikasi yang diperlukan untuk mengaksesnya, sehingga yang terjadi adalah jurang kualitas pendidikan antar kaya dan miskin semakin tinggi. Oleh sebab itu turunnya tarif telekomunikasi berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di negara ini.
Bagaimana pun juga, traif telekomunikasi yang terjangkau telah membuat sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Indonesia menjadi sadar intenet sebagai sarana pendidikan. Traif telekomunikasi yang murah setidaknya telah melahirkan inovasi dalam bidang pendidikan. Hal ini dilihat dari media pengajaran yang berkembang, dari bentuk tradisional menjadi modern yang sangat membantu terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.
Biaya telekomunikasi yang terjangkau oleh semua kalangan juga akan membantu menyelesaikan permasalahan keterbatasan jumlah bahan bacaan yang terjadi di negara ini.
Internet secara langsung dapat mengatasi kesulitan buku akibat biaya yang mahal dan perputakaan sekolah yang sangat terbatas. Keterbatasan ini pula yang menyebabkan rendahnya minat baca dikalangan anak didik dan berdampak negatif terhadap kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, internet yang terkases oleh semua kalangan menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Oleh sebab itu turunnya tarif telekomunikasi berpengaruh cukup besar terhadap untuk melepaskan kungkungan keterisolasian masyarakat dari ilmu pengetahuan dan kemajuan.
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa turunnya tarif telekomunikasi bagi bangsa Indonesia sebagai salah satu langkah untuk membangun bangsa yang cerdas sekaligus sebagai upaya untuk mengeluarkan kondisi bangsa yang terpuruk akibat belum berperanan banyaknya dunia pendidikan dalam mengubah sumber daya manusia yang berkualitas. Akhirnya dengan tarif telekomunikasi yang terjangkau oleh semua kalangan ini, melahirkan bangsa Indonesia yang mempunyai peradaban dan memiliki kualitas hidup yang setara dengan negara-negara maju lainnya, sehingga bangsa ini keluar dari kemelut keterbelakangan.

Friday, November 14, 2008

SEBUAH CATATAN KEBIJAKAN DIKNAS SUMBAR
YANG TIDAK PROFESIONAL DAN CURANG

Oleh: Silfia Hanani

Kesungguhan Pemda Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Gubernur H. Gumawan Fauzi mendongkrak kualitas pendidikan Sumbar mungkin dapat dirasakan secara signifikan oleh beberapa dosen perguruan tinggi yang mendapatkan beasiswa dari Pemda untuk melanjutkan program Doktor di beberbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun dalam negeri. Beasiswa Pemda yang dikelola pembahagiannya oleh Dinas Pendidikan Sumatera Barat ini menggiurkan dan jumlahnya cukup representatif untuk studi.
Beasiswa ini diluncurkan pada tahun 2006 dan berlanjut sampai sekarang. Pada tahun 2007 dan 2008 ini jumlah beasiswa untuk para calon doktor ini masing-masing mendapatkan 34 juta rupiah untuk satu tahun.
Tentu hal ini, sebagai langkah maju dan kesigapan dari pemda Sumbar untuk mewujudkan daerah ini ”ramai” oleh para Doktor, malah proyek ini selenting terdengan sebagai proyek 1000 Doktor, sebagai usaha untuk mewujudkan Sumbar locus industri otak yang cerdas, terbilang, cemerlang dan gemilang.
Upaya ini, juga dapat dipahami sebagai satu kemutlakkan untuk mewujudkan kemajuan daerah. Giddens menyebutkan, kemajuan satu bangsa atau daerah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang terdidik. Oleh sebab itu semakin banyak manusia yang mempunyai berpendidikan berkualitas di satu negara atau daerah maka semakin maju daerah tersebut. Hal ini sejalan dengan genderang pendidikan yang dikemukakan Ivan Illich, bahwa pendidikan merupakan ”alat” pembebasan keterbelengguan dari segala-galanya.
Di samping itu, dampak yang paling signifikan adalah akan terbangunnya kualitas pendidikan di perguruan tinggi, karena tinggi atau rendahnya pendidikan pendidik akan berpengaruh terhadap mutu pembelajaran, sebagaimana terbukti dalam hasil penelitian Hattie bahwa mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan pendidik, sebanyak 63% pendidikan pendidik menyumbangkan pada kualitas pendidikan jika dibandingkan dengan variabel lainnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai pendidikan yang berkualitas pendidikan pendidik harus menjadi salah satu komponen yang mesti diperhatikan.
Dengan demikian program beasiswa untuk program doktor ini, perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak berhenti dalam satu kepemimpinan, karena secara teoritik dan logis program ini menjadi aset berpotensi untuk membangun kualitas pendidikan dan kemajuan daerah. Oleh sebab itu, siapa saja yang memimpin Sumatera Barat harus melanjutkan program beasiswa ini.

Catatan “Keganjilan”
Sebagai sebuah kebijakan, maka program beasiswa ini harus dikelola dengan jelas dan tidak mengecewakan sehingga tujuannya tepat sasaran. Di samping itu, harus dikelola dengan perolehan data yang akurat, sesuai dengan peraturan yang digariskan tentang siapa-siapa yang berhak menerima beasiswa tersebut.
Saya menemukan satu “ketidak adilan” dan “keganjilan” dalam penerimaan beasiswa ini. Pada tahun 2006 saya merupakan salah seorang penerima beasiswa program doktor tersebut. Kemudian tahun 2007 sampai 2008 diputus tanpa pemberitahuan, setelah dijejaki dan bahkan sempat berkomunikasi dengan pengelola pihak Diknas, mengatakan saya sudah melebihi semester yang ditentukan. Jawaban ini sama dengan jawaban surat saya dari Pemda Sumbar yang ditanda tangani oleh setwilda Drs. H. Sultani Wirman. Jika itu sebuah kebijakan yang final saya terima dan saya dapat memakluminya. Tetapi kenyataanya, ada diantara penerima sama dan bahkan ada semesternya di atas saya mereka tetap menerima juga. Malahan yang sudah di wisuda juga menerima. Ini sebuah pencitraan kebijaikan yang tidak jelas. Inilah yang dinamakan kebijakan potong kompas error. Kebijakan seperti ini, mestinya tidak terjadi dalam era reformasi dan transparan seperti sekarang ini. Kebijakannya hendaklah konsisten dan bijak. Ini sebuah citra kebijakan yang busuk di era reformasi dan sangat “mengangkangi” arti reformasi.
Kebijakan-kebijakan yang seperti ini menurut Dwight H. Perkins bisa disebut sebagai kebijakan bunga api yang dapat melemahkan pengelolaan institusi dengan tata kelola hukum. Dampaknya, merapuhkan sebuah institusi. Hal ini yang disinggung oleh Myrdal, sebagai salah satu penyebab keterlambatan kebangkitan kesejahteraan di Asia. Keterbelakangan Asia bukan hanya disebabakan semata-mata oleh kekurangan modal, tetapi ditentukan pula oleh karakteristik orang Asia yang rendah disiplin kerja, suka hal-hal irasional, main dibelakang, menjawab persoalan tanpa data dan analisis, masih membudayakan jawaban Asal Bapak Senang (ABS).
Dari kasus yang saya temukan ini, ada satu keseimpulan bahwa, sebuah institusi masih sangat cendrung memperlakukan masyarakatnya dengan kebijakan-kebijakan yang semu dan sukar dimengerti. Hal serupa ini dapat membangkitkan tingginya ketidak percayaan publik terhadap lembaga yang mengaturnya, sekaligus membenarkan rendahnya efektivitas pemerintahan. Bank Dunia mencatat pada tahun 2005 efektifitas pemerintah di negara ini berada di bawah Vietnam

Saturday, May 3, 2008

MADRASAH

MEMBEDAH AKAR MASALAH MADRASAH
Selasa, 15 April 2008
Oleh : Silfia Hanani

Diskrimininasi Terhadap Madrasah sebanarnya bukanlah sebuah isu yang baru, tetapi isu lama yang tidak pernah teselesaikan sehingga madrasah berlarut-larut dalam masalahnya sendiri. Permasalahan ini sebagai akibat daripada adanya hegemoni kekuasaan, pertama terlihat melalui aturan main kurikulum madrasah yang “banci” dan kedua melalui pembiayaan madrasah yang bertendensi dikhotomi jika dibandingkan dengan sekolah umum. Keadaan yang demikian menjadikan madrasah tumbuh dan berkembang ibarat pepatah hidup segan mati tak mau. Dalam kondisi seperti ini, betulkah hegemoni kekuasaan dan dikhotomi kebijakan sebagai penyebab “runtuhnya” kualitas madrasah? Menjawab permasalahan ini perlu dilakukan pendekatan ruang-waktu, sehingga ditemukan varian-varian lain yang ikut dominan penyebab terperlesetnya mutu madrasah.
Di Indonesia sebelum madrasah populer telah berkembang institusi pendidikan Islam lokal yang independen. Di Minangkabau misalnya, telah muncul institusi pendidikan Islam surau, di pulau Jawa lebih populer pondok pesantren. Institusi pendidikan Islam lokal tersebut, telah berhasil memembangun sumber daya umat Islam pada zamannya. Tetapi ketika datangnya kolonialisme memperkenalkan sistem pendidikan modren, institusi lokal mulai buyar dan mulai dipandang sebagai institusi pendidikan kelas dua oleh masyarakat.
Setidaknya ada dua permasalahan yang membuyarkan, pertama pendidikan Islam lokal yang independen itu lebih bersifat tekstual, sementara alam kehidupan berkembang dengan begitu cepat, perkembangan itu selalu menuntut kearah penguasaan materialisme. Konsep penguasaan “materialisme” inilah yang kurang dalam institusi pendidikan Islam ketika itu. Fenomena yang demikian oleh kolonialisme dijelaskan dengan Islam ortodok, Umat Islam yang tidak mau memberikan ruang hidupnya kepada dimensi kompetisi dunia. Disinilah awal kekalahan teori pendidikan umat Islam dalam penguasaan dunia, sehingga dalam rentang waktu yang begitu mensejarah di negara ini tidak lahir teori-teori lokal yang berasaskan Islam tentang penguasaan material ini.
Akhirnya berpengaruh terhadap keberadaan sekolah agama. Sekolah agama diorientasikan sekolah “akhirat”, image semacam itu berkembang luas dalam masyarakat Indonesia yang mengalami perubahan besar. Kedua, pengelolaan madrasah yang stagnan dan tidak mampu meracik sistem reinventing, sehingga madrasah lambat mengikuti perubahan masyarakat yang begitu cepat dan kompleks. Baru sekitar awal abad 19 setelah kembalinya para pelajar Indonesia menuntut ilmu di beberapa negara Timur Tengah termasuk di Mesir, institusi pendidikan Islam mulai diperbaharui dengan cara mengadopsi sistem pendidikan Timur Tengah tersebut, sehingga madrasah menjadi populer. Madrasah berkembang di berbagai kawasan di Indonesia, di Sumatera Barat waktu itu ikon madrasah dipegang oleh Sumatera Thawalib, Diniyah Putra dan Putri.
Namun setelah Indonesia merdeka, institusi-institusi pendidikan Islam ini memasuki dunia politik, pasang surut kualitas madrasah semakin tampak. Jati diri madrasah terombang ambing kedalam dua kepentingan yang tidak berkesudahan, antara kepentingan politik dan umat. Tarik menarik dua kepentingan ini, nampaknya ikut memberikan peluang tidak bergimingnya madrasah sebagai agent transformasi sosial umat Islam di Indonesia, sementara sekolah-sekolah umum yang modern semakin menampakkan jati dirinya seperti yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai penyelamat dunia material. Imege terhadap madrasah mulai berkurang, masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum ketimbang ke madrasah.
Keadaan kualitas madrasah yang tidak stabil itu akahirnya masuk dalam cakrawala nasional, sehingga madrasah menjadi objek dalam sistem pendidikan nasional. Oleh sebab itulah, terjadi perubahan-perubahan kurikulum dalam madrasah. Madrasah mulai menghadapi kurikulum keberimbangan, antara pendidikan umum dan pendidikan agama, kemudian dipercepatlah menjadi 70% pendidikan umum dan 30% pendidikan agama, dengan tujuan untuk memicu lari mutu madrasah dan skaligus untuk menghilangkan stigma masyarakat yang memandang madrasah sebagai kelas pendidikan nomor dua. Dibalik pergerakan perubahan itu, apa sesungguhnya yang terjadi. Mutu madrasah tetap saja berjalan ditempat. Malah madrasah kehilangan jati dirinya sebagai institusi yang fokus dengan pendidikan Islam. Untuk mengkonter kondisi tersebut maka lahirlah madrasah khusus, terutama pada tingkat aliyah, yang fokus dengan pendidikan agama Islam. Namun, madrasah-madrasah yang setengah umum dan setengah agama tetap berada dalam muara kebingungan dan jati dirinya yang tidak jelas.

Membebaskan Madrasah
Menilik daripada perjalanan jatuh bangunnya madrasah dalam pentas pendidikan di Indonesia, sebuah kesimpulan yang perlu di bebaskan adalah kultur madrasah yang soft culture, yaitu adanya sebuah budaya kelemahkarsaan dalam membangun jati dirinya, sehingga madrasah terombang ambing dalam kecepatan perubahan yang terjadi. Sesungguhnya Departemen Agama yang pada umumnya sebagai pemilik madrasah sudah harus mempunyai ruang wacana yang konstruktif ke arah mana madrasah ini digiring sehingga madrasah mampu tampil dengan jati dirinya yang sesungguhnya, tidak bermain dalam “ikut-ikutan”, seperti yang terlihat selama ini. Permasalahan mutu, harus dilihat secara holistik, tidak hanya dilihat dari segi minimnya dana pendidikan yang dikucurkan pemerintah tetapi juga harus dilihat dari peta “dalam” yang berlaku dalam madrasah. Penglihatan peta dalam ini, yang paling urgen tentang bagaimana madrasah berkontestasi selama ini perlu dicerna oleh Depertemen Agama

HARDIKNAS 2008

MEMECAHKAN MASALAH DUNIA PENDIDIKAN
Sabtu, 03 Mei 2008
Oleh : Silfia Hanani,
Dunia pendidikan di negara ini masih berada dalam potret yang buram dan masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan dari 55 negara yang diseurvei, Indonesia berada pada urutan 53.
Di samping itu, kualitas pendidikan tinggi Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Jika dilihat dari survei Times Higher Education Supplement (THES) 2006, perguruan tinggi Indonesia baru bisa menjebol deretan 250 yang diwakili oleh Universitas Indonesia, kualitas ini berada di bawah prestasi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang menempati urutan 185. Kumudian pada tahun 2007 menurut survei THES perguruan tinggi di Indonesia masih belum dapat meyangi pergurun tinggi seperti di Singapur, Thailand dan seterusnya.
Implikasi kualitas pendidikan rendah ini terhadap sumber daya manusia sangat jelas sekali. Kemampuan sumber daya manusia Indonesia jauh tertinggal, hal ini dapat dilihat dari hasil riset Ciputra yang menyatakan bahawa Indonesia hanya baru mempunyai 0,18% pengusaha dari jumlah penduduk sedangkan syarat untuk menjadi negara maju minimal 2% dari jumlah penduduk harus ada pengusaha. Saat sekarang singapur sudah mempunyai 7% dan Amerika Serikat 5% dari jumlah penduduk.
Dampak yang lain dari rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) Indonesia. Menurut laporan United Nation Development Programe/UNDP HDI pada tahun 2007 dari 177 negara yang dipulikasikan HDI Indonesia berada pada urutan ke-107. Indonesia memperoleh indeks 0,728. Di kawasan ASEAN Indonesia menempati urutan ke-7 dari sembilan negara ASEAN yang dipublikasikan. Peringkat teratas di ASEAN adalah Singapura dengan HDI 0,922, disusul Brunei Darussalam 0,894, Malaysia 0,811, Thailand 0,781, Filipina 0,771, dan Vietnam 0,733. Sedangkan Kamboja 0,598 dan Myanmar 0,583 berada di bawah HDI Indonesia.

Pemecahan Masalah
Akar permasalahan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tidak lagi berada pada satu faktor, tetapi digerogoti oleh berbagai faktor yang sudah komplikasi, sehingga membenahi dunia pendidikan di Indonesia perlu keseriusan yang tinggi dan strategi yang jenius. Kalau perlu mengikuti tawaran Ivan Illich dengan melakukan institutional revolution. Dalam konteks ini untuk memperbaiki dunia pendidikan minimal ada tiga modal yang harus menyentuh dunia pendidikan, yaitu modal sosial, kapital dan fisikal. Terpuruknya kualitas pendidikan di Indonesia tidak dapat disangkal sebagai akibat dari minamnya ketiga modal itu.
Pada era reformasi anggaran pendidikan telah ditetapkan 20 % daripada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Hal ini pun masih rendah jika dibandingkan dengan negara jiran Malaysia yang telah merealisasikan anggaran pendidikan 25% dari APBN negaranya. Wajar percepatan peningkatan kualitas pendidikan di negara tetangga ini lebih cepat jika dibandingkan dengan Indonesia. Pada sekitar tahun 1970 negara tetangga ini banyak mengimpor guru dari Indonesia.
Malahan dalam anggaran tahun 2008, terjadi pengurangan anggaran pendidikan yang mengejutkan. Semula menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008, mentapkan anggaran pendidikan sebesar Rp 49,7 triliun. Namun berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-1/Mk.02/2008 pada 2 Januari 2008, anggaran pendidikan Indonesia mengalami pengurangan anggaran sebanyak 15, sehingga pada APBN 2008 pembiayaan pendidikan tinggal Rp 42,3 triliun. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan anggaran pendidikan tahun 2007 yang berjumlah Rp 44,1 triliun.
Dampak yang signifikan dari rendahnya anggaran pendidikan ini adalah minimnya sarana yang mendukung kualitas pendidikan. Maka dengan penyusutan anggaran ini percepatan peningkatan kualitas pendidikan akan ikut terhalangi. Sarana-sarana penunjang pendidikan akan dapat diprediksikan berjalan di tempat. Salah satunya akan terlihat dari pengelolaan perpustakaan sekolah yang semakin memprihatinkan. Di Indonesia pernah dilaporkan dari 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Demikian pula dengan SLTP. Dari sekitar 70 ribu unit SLTP, cuma 36% yang memenuhi standar. Untuk SMU, cuma 54 % yang punya perpustakaan berkualitas standar. Kemudian untuk perguruan tinggi, dari sekitar 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia, cuma 60 % yang memenuhi standar.
Kondisi perpustakaan yang demikian, tidak dapat dihandalkan untu meningkatkan melek membaca siswa. Sementara di negara-negara maju dan beberapa negara tentangga sudah beralih pada melek informasi dan teknologi. Rendahnya melek memba tersebut sebagai salah satu hambatan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Hasil temuan riset International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) dalam tahun 1998-2001 ternyata dari 35 negara yang disurvei melek baca siswa Indonesia berada pada urutan yang terakhir. Pada tanggal 28 November 2007, IAEEA kembali mempublikasi hasil risetnya tentang minat baca anak di 41 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya menunjukan bahwa minat baca di Indonesia masuk ke dalam kelompok negara belahan bumi bagian selatan bersama Selandia Baru dan Afrika Selatan.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, semenjak tahun 1998 kebiasaan membaca anak-anak Indonesia berada pada peringkat paling rendah (skor 51,7). Skor ini di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1), dan Singapura (74,0). Sedangkan BPS tahun 2006 mempublikasikan, membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) dan membaca koran (23,5%). Rendahnya minat baca dikalangan siswa, secara langsung atau tidak langsung berpengaruhi terhadap kualitas sumber daya manusia, karena membaca secara signifikan dapat melahirkan kecakapan, cenderung memiliki intelegensi, penguasaan bahasa, dan keterampilan berkomunikasi (Cullinan & Bagert 1996). Oleh sebab itu, dinegara-negara maju pengembangan minat baca masyarakat sangat diperhatikan dan difasilitasi.
Disamping rendahnya anggaran pendidikan, ternyata profesionalitas guru di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas guru-guru Indonesia yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73 %, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Rendahnya profesionalitas guru ini salah satu dipengaruhi oleh pendidikan guru yang belum memadai. Dari 2,7 juta orang guru di Indonesia hanya sepertiganya atau 35% saja yang berpendidikan S1. Sedangkan di Sekolah Dasar guru berpendidikan S1 baru sekitara 10% sedangkan menurut undang-undang no 14 tahun 2005 guru Sekolah Dasar harus S1.
Profesionalitas guru yang rendah ini menjadi sorotan dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri pendidikan negara E-9 yang berlangsung di Bali pada bulan Maret yang lalu. Menurut analisis Chief Section for Teacher Education Division UNESCO, Caroline Pontefract, pada tahun 2015 tenaga guru yang akan dibutuhkan oleh negara-negara E-9 (Cina, India, Indonesia, Brasil, Mesir, Bangladesh, Pakistan, Meksiko, dan Nigeria) mencapai 18 juta orang. Guru-guru ini harus mempunyai pendidikan formal minimal S1.
KTT ini telah meyakinkan kepada negara-negara yang berpenduduk terbesar di dunia, untuk mempercepat meningkat profesionalitas guru dengan meningkatkan pendidikan guru, karena bagaimana pun juga pendidikan guru sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Hattie (2000) 63% mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh pendidikan guru dan selebihnya baru oleh variabel-variabel lainnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai pendidikan yang berkualitas pendidikan guru harus diperhatikan. Inilah diantara permasalahan dunia pendidikan di Indonesia. Permasalahan ini bagaimana pun juga mesti capat di atasi, sehingga kualitas pendidikan yang tengah mati suri ini dapat bangkit dengan cepat

Menggagas Pendidikan Untuk Semua
Di balik potret kualitas pendidikan yang masih rendah ini, ternyata pemerintah juga belum mampu menciptakan pendidikan untuk semua. Biaya pendidikan yang semakin mahal ternyata telah memperpanjang deretan anak-anak tidak sekolah. Menurut hasil penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) jumlah anak putus sekolah di Indonesia mencapai 4,18 juta. Kemudian 8000 anak di bawah umur yang bekerja ternyata mengalami putus sekolah. Hal ini berarti pendidikan masih belum menyentuh ranah masyarakat miskin. Sekolah-sekolah tanpa biaya yang dilansir hanya baru menjadi komoditik politik waktu kampanye menjelang pemilu.
Pada tahun 2008, meningkatnya biaya hidup sementara pendapatan masyarakat masih tetap maka diprediksikan jumlah anak putus sekolah akan mengalami peningkatan dan mereka tidak bisa menyelesaikan kegiatan pendidikan sembilan tahun. Jika hal ini dibiarkan maka dimasa yang akan datang akan muncul generasi-generasi yang mempunyai sumber daya manusia yang rendah. Hal ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia menghadapi persaingan global yang semakin menuntut kualitas sumber daya manusia.
Dampak yang paling signifikan dari anak-anak putus sekolah adalah rewannya mereka dieksplotasi dan diperdagangkan. Keadaan ini bisa dilihat dari jumlah pekerja anak yang selalu meningkat di Indonesia. ILO memaparkan bahwa sebanyak 19% anak yang dibawah usia 15 tahun yang tidak bersekolah telah memasuki berbagai dunua kerja. Tidak mengherankan diantaranya tereksplotasi dan termasuk diperdagangkan. Menurut Aris Merdeka Sirait Sekretaris Jenderal Komnas Anak, sekitar 200 sampai 300 anak perempuan berusia di bawah 18 tahun di Indonesia telah diperjual belikan untuk memenuhi kebutuhan industri seks.
Sebuah resiko yang sangat fenomelogis, jika pendidikan di Indonesia tidak dapat menyentuh semua kalangan. Untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia pemerintah harus menyakian pendidikan yang mampu diakses oleh semua kalangan, sehingga anak-anak bangsa ini tidak mengalami putus sekolah. Terimakasih. Selamat Hardiknas. (***)