catatan hati

Friday, March 9, 2007

RESESNSI BUKU


JERUSALEM KOTA TIGA IMAN
ANTARA THE END OF FAITH DAN THE END OF HISTORY

Oleh: Silfia Hanani

Tajuk Asli : Jerusalem: one city, three faith
(Jerusalem Satu Kota Tiga Iman)
Pengarang : Karen Armstrong
Penerbit : Risalah Gusti, Indonesia
Penerjemah : A. Asnawi dan Keos Adiwidjajanto
Tahun Terbit : Julai 2004

Karen Armstrong, namanya popular diabad muthakhir ini akibat tulisan-tulisan keagamaannya yang sangat jernih dalam membangun keagungan esensi agama-agama dunia. Kejernihan pikirannya dalam mengungkapkan sisi moral agama sebagai metamarfose daripada konflik bathin panjang yang dialminya ketika menjadi biarawati. Setelah meninggalkan karir sebagai biarawati pada tahun 1969, ia lebih banyak bergalut dalam pencarian-pencarian sejati tentang agama-agama dunia, tidak saja dilakukan dalam sebuah agama tertentu sahaja, tetapi melintasi semua agama, Islam, Budha, Hindu dan sebagainya. Daripada pengembaraan spiritual tersebut, Karen menemukan nilai-nilai moral dan kebenaran yang sangat potensial dalam membangun tamadun manusia. Thesis sebelumnya, mengenai agama sebagai “agent” pentamadunan manusia sebenarnya juga telah dibuktikan oleh Weber, Robet N Bellah, Durkheim dan sebagainya, namun sahaja tidak banyak mendapat perhatian, boleh jadi disebabkan oleh masing-masing pakar tersebut hanya melakukan kajian pada satu agama sahaja, tidak seperti Karen Armstrong yang mengeksplorasi banyak ajaran agama dunia.

Karya-karya Karen Armstrong yang banyak menjadi perhatian dalam pencerahan hubungan agama dunia sekarang ini seperti Berperang Demi Tuhan , Sejarah Tuhan, Biografi Nabi Muhammad, Islam: A Short History dan termasuk Jerusalem Satu Kota Tiga Iman. Itu antara karyanya yang diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Buku-buku yang dikarang Karen Armstrong yang termasuk best seller adalah Through Narrow Gate (1981), The Gospel According to Woman (1987), Holy War: The Crusaders and Their Impact on Todays World (1991), The English Mystics of the Fourteenth Century (1991), Muhammad: A Biography of the Prophet (1992), A Histrory of God: The 4000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam (1993), Isalam: A Short History (2000) dan lainnya. Pemikiran mantan biarawati ini, telah menjadi rujukan popular dikalangan akademis, terutama yang terlibat dalam kajian-kajian peradaban dan keagamaan. Di Indonesia misalnya, pengkaji-pengkaji perbandingan agama telah menjadikan karya-karya Karen Armstrong sebagai rujukan popular.

Khusus mengenai buku Jerusalem: One City, Three Faith yang ditranslasi kedalam bahasa Indonesia Jerusalem Satu Kota Tiga Iman, merupakan sebuah hasil kajian sejarah yang mendalam, sangat mengagumkan. Mungkin inilah buku yang pertama yang mampu memberikan suatu kelurusan sejarah peradaban yang terjadi di Jerusalem. Selama ini Jerusalem ditulis penuh dengan muatan kontaminasi kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik dan bias kepentingan keagamaan, sehingga Jerusalem berada dalam tarik-tarikan kepentingan politik. Kemudian berakhir dalam ranah konflik antara konflik agama dengan konflik keimanan.

Konflik keimanan dengan agama yang berlangsung di Jerusalem terjadi tidak dapat diingkari sebagai sokongan daripada tulisan-tulisan yang ditulis “tidak jernih” selalu memenangkan pihak yang berkepentingan. Hal ini terpaut dengan salah satu proyek Yahudi, bahawa untuk memenangkan Yahudi, diperlukan proyek penulisan yang mendukung pembenaran tindakan Yahudi dengan Zionisnya. Akhirnya Jerusalem yang juga menjadi tempat suci Nasrani dan Islam ini tidak berhenti ditimpa konflik dan perang. Jerusalem menjadi rebutan politik yang ganas.
Dari realiti Jerusalem yang penuh clash tersebut, Karen Armstrong menghadirkan tulisan tentang Jerusalem dalam sisi perdamaian. Dengan penggalian sejarah yang dalam dan cermat, Karen Armstrong telah membangun Jerusalem dengan image yang positif. Ketiga-tiga iman yang dibumikan Tuhan di Jerusalem ditampilkan Karen Armstrong dengan perspektif sejarah yang sangat jernih dan tidak terkesan subjektifitasnya, keberpihakan terhadap salah satu iman tersebut, semuanya dibentangkan sesuai dengan fakta dan data sejarah. Inilah yang patut, difahami dalam buku Jerusalem: One City, Three Faith.

Kerjenihan dan kejujuran tulisan Karen Armstrong dalam buku ini, The Washington Post memujinya dengan tidak tanggung-tanggung dan mengakui karya sejarah Karen Armstrong tersebut, sebagai karya yang berperanan penting dalam memberikan kebenaran sejarah Jerusalem. Sekaligus sebagai salah satu pemberi pandangan yang berbeza untuk melihat Jerusalem yang terkoyak-koyak oleh kepentingan politik Yahudi sekarang ini. Tidak kalah pentingnya missi dari buku Jerusalem: One City, Three Faith ini nampak sebagai salah satu yang berperanan mematahkan kearoganan Yahudi yang mengklaim Jerusalem sebagai kota keimanannya. Klaim Yahudi ahistoris ini yang diluruskan oleh Karen Armstrong melalui eksplorasi sejarah dan fakta-fakta yang sangat akurat.

Karen Armstrong membongkar sejarah Jerusalem dalam dua priode waktu, pertama sebelum berada dilembah pergolakan politik, era ketika Jerusalem masih dalam diaspora Yahudi. Kedua setelah berada dalam aras pergolakkan atau kekacauan politik, semenjak Yahudi kembali daripada tradisi diasporanya.

Pada kurun waktu pertama, berhubungkait dengan masalah perbincangan sejarah keimanan di Jerusalem sehingga tiga iman tersebut membangun peradaban manusia. Bagi orang Yahudi, Jerusalem sebagai tempat suci yang ditandai dengan tempat peribadan Haekal(bait suci), tempat memanjatkan doa dan melakukan ritual-ritual orang Yahudi. Sedangkan bagi kelompok penganut agama Nasrani, Jerusalem adalah sebagai tempat kelahiran Isa Almasih, dan menjadi bandar monumental dalam sejarah keagamaan orang-orang Nasrani. Oleh umat Islam Jerusalem, tempat Masjid al-Aqsha, sebagai salah satu tempat terpenting dalam peribadan dan ritual Islam, iaitu sebagai tempat starting peristiwa isra’ mijraj.

Pada penggelan sejarah pertama Karen Armstrong telah berhasil memaparkan sejarah eksistensi Jerusalem sebagai sebuah locus pilihan Tuhan sebagai tempat terpancarnya keimanan. Tuhan kepercayaan agama masing-masing telah memilih Jerusalem sebagai tempat yang bermakna. Pemaknaan ini, ini yang dijelaskan oleh Karen Armstrong dalam buku tersebut. Pemaknaan, pertama adalah Jerusalem sebagai kota pilihan Tuhan. Semestinya Jerusalem berada dalam pancaran-pancaran kesucian, bukan pergaduhan-pergaduahan. Pergaduhan, muncul sebagai akibat terbawanya ranah agama kedalam egoisme etnis. Pemaknaan kedua, Tuhan telah memilih Jerusalem sebagai tempat moden, yang ditandai dengan pelbagai keimanan di bumikan di sini.

Pada penggalan sejarah Jerusalem kedua, iaitu era Jerusalem mengalami pergolakan politik. Era ini ditandai dengan kembalinya etnis Yahudi dari pendiasporaan. Atau dipanggil juga dengan era keruntuhan Jerusalem daripada keimanan. Era Jerusalem dalam peperangan dan tarik-menarik politik antara kelompok iman yang ada. Pertama ditandai dengan “meletusnya” perang salib. Kedua, Jerusalem di tengah-tengah tarikan politik Zionisme-Hammas.

Jejak keimanan mulai dihilangkan di Jerusalem, digantikan dengan kepentingan-kepentingan Zionis. Orang Muslim pun dilarang oleh Zionis untuk menyebut Jerusalam sebagai kota al-Quds. Zionis telah memetakan sendiri Jerusalem sebagai tempatnya. Tindakan kekerasan Zionis pun telah terlihat kearah genocide. Inilah sebuah kegalauan yang terjadi di Jerusalem, sehingga suasananya telah berubah menjadi kota angkaramurka, tinggal menanti the end of faith seiring dengan the end of history-nya dunia global. Kegaduahan dan keangkaramurkaan ini pula dibentangkan Karen Armstrong dengan sangat jernih, sesuai dengan fakta dan data yang akurat dan lengkap, sehingga tidak terlihat adanya keberpihakan Karen Armstrong pada salah satu pihak yang bertikai. Tulisan Karen Armstrong betul-betul ingin, menampilkan missi “penjernih” image dan merangkum makna perdamaian.
Samapi hari ini tidak ada tanda-tanda akan bermuaranya kedamaian di negeri tiga iman tersebut. Malahan, semakin hari kondisi distorsi dan disharmonisnya semakin menakutkan. Kematian terus terjadi perjam dan perhari. Peperangan semakin menjadi tradisi, pembunuhan semakin tidak mengenal hati nurani. Kebencian-kebencian telah melampaui esensi daripada iman. Itulah yang nampak dalam fenomena di Jerusalem belakangan ini. Kondisi ini di huraikan Karen Armstrong dengan gaya dan nada bahasa yang sangat jujur tanpa terkesan pendekatan politiknya. Inilah yang sangat mengagumkan dari buku ini, semuanya tampil dengan fakta dan data.

Pengeksplorasian sejarah dan fenomena yang dikedepankan dalam buku ini, sangat jelas adanya sebuah tujuan akhir, iaitu supaya iman yang terbumikan di Jerusalem dapat menjadi simbol solidariti kembali, simbol kesucian dan simbol spiritual yang tidak mencerca satu sama lainnya. Akhirnya tulisan “cerdas” Karen Armstrong ini dapat menjadi peransang “perdamaian” bagi kelompok-kelompok pemilik kota Jerusalem yang bertikai. Hal itu pun menjadi misi dari Karen Armstrong, ia ingin menjadikan iman sebagai proyek perdamaian, ditengah “kekalahan iman” di Jerusalem. Karen Armstrong berupaya Jerusalem berada dalam ambang kegelapan ini dapat menemukan pencerahan kembali dan clash civilization dapat diakhiri.

Tapi sayang, wacana-wacana Karen Armstrong untuk mematahkan percanggahan-percanggahan yang terjadi tersebut, belum banyak menaburkan imbas, karena dilatarbelakangi oleh kajian Karen Armstrong yang sangat jujur dan emperikal. Kajian seperti ini jelas bagi pihak-pihak berkepentingan sangat tidak disukai. Apalagi bagi kalangan Zionis dan pendukungnya. Pemberlakangan kajian-kajian seperti ini dapat dilihat dalam kajian politik dan kekuasaan, orientalisme dan kolonialisme. Kajian yang jujur secara hakiki tidak dapat memberikan pembenaran terhadap keinginan kekuasaan. Buku Karen Armstrong yang bertajuk Jerusalem: One City, Three Faith berada dalam konteks ini, konteks pematahan terhadap keinginan kekuasaan. Fakta-fakta sejarah, yang diungkapkan oleh Karena Armstrong, secara eksplisit menginginkan terkonstruksinya sebuah Jerusalem yang bertamadun seperti iman mentamadunkan pengikutnya dan sebuah Jerusalem yang mampu menjadi ikon tamadun dunia, karena dengan iman-iman yang ditaburkan Tuhan di negeri tersebut sudah cukup relevean Jerusalem menjadi kota yang maju di atas landasan-landasan ajaran iman.

Setidaknya Karena Armstrong telah cuba mengisi ruang kosong di tengah hilangnya konsep perdamaian di tengah-tengah negeri pilihan Tuhan tersebut dengan memaparkan sebuah tulisan “penyadaran” sejarah yang sangat bererti bagi kita sekarang ini, tidak sahaja bagi kalangan akademik, intelektual tetapi juga bagi kalangan yang ingin mencari kebenaran di sebalik “pergolakan” iman yang berlaku di Jerusalem.

Apalagi ditengah-tengah kondisi Palestin-Israel yang tidak pernah stabil ini, tentu buku Karen sangat membantu untuk menjernihkan image yang berlaku selama ini, terutama yang berkaitan dengan image agama dan perang. Fakta sejarah menunjukkan peperangan yang terjadi adalah sebagai akibat pembelokkan daripada keimanan itu sendiri, yang dipanggil dengan egoisme etnis, sehingga Jerusalem berada dalam klaim-klaim etnis, inilah yang menyebabkan Jerusalem berada dalam sobekan-sobekan perang.

Karya Karen Armstrong yang banyak dipuji oleh Barat dan Timur ini, sangat patut dibaca. Terutama bagi pihak-pihak yang pengkaji politik, sejarah dan studi agama. Masalahnya, sangat sukar dalam era sekarang ini, ditemukan tulisan-tulisan yang “jujur dan jernih” dalam membincangkan Timur, seperti diakui oleh E.W Said dalam Orientalism yang diterbitkan tahun 1955.







3 comments:

dewi ma'rifat said...

dimana saya bisa dapat buku satu kota tiga iman.tolong

Anonymous said...

ASSALAMUALAIKUM
sy Fatma dr makassar. mahasisiwa tingkat akhir jur Hubungan Internasional @ UNHAS. kebetulan judul skripsi yg sy angkat adlh ARTI PENTING JERUSALEM DALM KONFLIK ARAB ISRAEL. Tp buku ni kayaknya belum ada d gramedia deh. saya bisa dapat dimana ya???? makasih

Jeremiah said...

Coba aja cari di toko-toko buku baru & bekas. Kalo di jakarta bisa ke kwitang, jogja ke taman pintar, atau solo ke sriwedari. Atau kalo ga, beli online, banyak kok situs toko buku online!