Monday, March 31, 2008
JALAN-JALAN SINGAPURA
SEKILAS DUNIA SINGAPURA
Oleh; Silfia Hanani
Singapura merupakan negara yang dihuni oleh multi etnik, setidaknya ada empat etnik yang melebur berinteraksi dalam membangun kekuatan ekonomi Singapura, yaitu etnik China, Melayu, India dan Lainnya. Menurut laporan pusat statistika Singapura, etnik China merupakan etnik yang dominan di Singapura jumlahnya sebanyak 77% daripada penduduk, kemudian Melayu jumlahnya 14%, menyusul Idian sekitar 7,6% dan selebihnya 1,4% adalah etnik lain. Jumlah penduduknya sampai sekarang 4.600.000,- jiwa orang, sama dengan penduduk satu kabupaten di Indonesia.
Sebagai negara yang multi etnik, Singapura juga diwarnai dengan kepelbagaian agama yang dianut oleh masyarakatnya. Jangan heran pula di negara “Parisnya” Asia Tenggara ini ditemui manusia tanpa agama. Di laporkan bahawa 51% masyarakat Singapur memeluk agama Budha/Taoisme, kemudian 14,9% beragama Islam, 14,6 penganut agama Kristen, 4% beragama Hindu, 0,6% penganut agama Sich, Konfocius dan sebagainya, dan sebanyak 14,8 memilih tidak beragama.
Potret kehidupan di Singapura, memang mencerminkan suatu style kehidupan manusia modern. Manusia bebas berekpresi dan berkreasi. Malahan di negara ini hidup fre sex, homo sex dengan bebas. Memang pemerintahan tidak tidak tertarik untuk mengurus tetek bengek individual tersebut, karena negara yang terletak di hujung Semenanjung Malaysia ini lebih berkosentrasi pada kekuatan ekonomi. Inilah yang membedakan negara “kecil” ini dengan tetangganya Indonesia dan Malaysia, yang masih memegang teguh nilai-nilai moral kehidupan. Berkaitan dengan itu, masa datang Singapura diprediksikan akan menjadi “Parisnya” Asia Tenggara.
Satu hal yang pelu disaluti dari negara ini, adalah kutural achievement manusia yang tinggi. Pekerja-pekerja keras yang tidak mengenal waktu itulah sosok manusia dalam kota Singapura. Oleh sebab itu, jam-jam kerja, suasana kota bagiakan kota mati. Hiruk pikuk keramaian kota tidak terdengar. Jalan-jalan dan tempat-tempat umum sepi dari aktivitas manusia.
Menikmati Kota
Kota singapura yang kecil, dan penataan kota yang indah dan bagus. Memang tidak salah Singapura menjadi salah satu negara tujuan pelancongan daripada masyarakat dunia, termasuk bagi masyarakat oleh masyarakat negara jirannya, seperti dari Indonesia, Malaysia, dan lainnya.
Infrastruktur kota yang begitu rapi. Kebersihan kota yang sangat terjaga. Menampakkan Singapura sebagai sebuah kota yang ramah untuk dikunjungi. Inilah kesan pertama dalam kota Singapura. Kesan elegan dan bersih serta tata kota yang indah. Kesan ini pula membuat perbedaan Singapura dengan kota-kota yang ada di negara tetangganya.
Jika anda seorang yang berjiwa traveling, untuk mengelilingi kota Singapura tidak perlu dengan memakai alat transportasi. Lebih enak dan nyaman dengan berjalan kaki. Apalagi dengan luas Kota yang begitu kecil, hanya tidak cukup seluas satu kecamatan di Indonesia setengah hari pun sudah sudah siap kita kelilingi. Panas pun tidak akan menyengat dengan terik, karena perjalanan kita selalu menelusuri gedung-gedung bertingkat yang menghambat terik cahaya matahari.
Apalagi bagi yang suka shopping, sebaiknya dalam kota jangan memakai jasa trasportasi, kelilingi sahaja kota Singapura dengan berjalan kaki, hal ini akan lebih memuaskan diri untuk memilih tempat shoping. Selain adanya tempat-tempat shoping yang modern dengan style metropolis, seperti mall dan supermarket, di Singapura juga dkenal tempat-tempat shoping tradisional, seperti di kampung Cina, Bugis, India dan sebagainya.
Kenikmatan kota Singapura, memang terletak pada tempat-tempat shoping atau tempat-tembat belanja. Wajar saja, singapura dijuluki sebagai kota surganya belanja. Yang jelas jika belanja di sini tidak ada yang murah. Oleh sebab itu Singapura paling tepat adalah surga belanja bagi orang-orang berduit.
Ada beberapa tempat shoping yang menggiurkan, pertama seputar kawasan Stamford, ada Plaza Paninsula, Reffles dan sebagainya. Kemudian tidak jauh dari kawasan ini cukup dengan berjalan kaki ke araj utara memakin watu 30 menit, akan berjumpa pula Singapore Shoppin Centre dan bersebelahan lokasinya dengan tempat shopping terkenal pula yaitu, kawasan Orchard. Memang kota Singapura penuh dengan tempat-tempat shopping, betul-betul sebagai sorga belanja bagi yang beruang.
Ingat, jika ingin memakai jasa transportasi, harus siapkan ongkos dengan uang pas. Atau harus beli card. Jika tidak punya uang pas jangan coba-coba menaiki bus, sopir dengan ramah mempersilahan anda untuk turun.
KEMISKINAN
Oleh: Silfia Hanani
Dalam alaf global modern dan maju ini, rasanya tidak pantas lagi kita berbicara kemiskinan. Masalahnya kemiskinan itu sebagai tradisi orang-orang terbelakang dan orang-orang pra sejarah, bukan tradisi dalam peradaban orang-orang modern. Tetapi pada kenyataannya, kemiskinan masih menjadi potret lingkaran setan kehidupan dalam abad ini dan malahan di negara-negara yang sedang berkembang kemiskinan masih berlangsung tanpa diketahui akan berhentinya.
Pasokan-pasokan dana dari negara-negara maju pun mengalir untuk pembangunan di negara-negara berkembang dengan alih-alih untuk mengentaskan keterbelakangan dari negara-negara miskin tersebut. Namun tidak pernah pemberian dana tersebut berakhir dalam sebuah program pembangunan yang mensejahterakan dunia ke tiga. Kemiskinan tetap saja bercokol membeku membentuk gunung es.
Apa pasal persoalannya, apakah sebagai akibat dunia ke tiga tidak punya “kepintaran” atau “kenjeniusan”, sehingga pengaliran dana ke dunia ke tiga tidah memberikan suatu muara yang bernama kesejahteraan bagi dunia ketiga itu sendiri. Akhirnya pun kemiskinan, tidak menjadi the end of history di negara-negara penerima dana pinjaman tersebut.
Sehubungan dengan konteks ini, John Perkins sebagai seorang kepercayaan dari “donator” untuk negara-negara berkembang telah mengungkai polemik dan permasalahan ini, dengan kesimpulan akhirnya selagi dunia ke tiga masih menerima dana pinjaman negara-negara maju atau negara donor, tidak akan ada muara kesejahteraan. Keuntungan dan kekayaan akan tetap berada dikubu sang donator.
Lebih jelas dikatakan oleh Perkins ketika negara donor mendorong infrastruktur, tanpa sadar negara berkembang terjerumus kedalam kubah kolonialisme baru sebagai bagian dari liberalisme. Bantuan negara pemberin utang tidak berupa aliran dana tunai, melainkan bentuk fisik yang sangat membebani negara berkembang. Praktik ini merupakan modus standar negara maju menguasai sebuah negara berkembang. Begitulah Perkins menulis dalam buku Confessions of an Economic Hit Man.
Tulisannya ini, merupakan hasil dari perjalanan panjang memasuki area kerja sebagai konsultan ekonomi daripada institusi-institusi pemberi modal. Perkins, yang begitu akrab dengan dunia ke tiga telah membeberkan kenaifan-kenaifan yang berlaku dalam aliran bantuan yang diterima oleh negara berkembang itu. Oleh sebab itu setiap bantuan yang dialirkan ke dunia berkembang tidak pernah berakhir sebagai pengentas kemiskinan, malahan menjadi runyam akibatnya.
Sebenarnya, Marx telah duluan membuka “kartu” ini. Tetapi tidak menjadi populer, akibat kuatnya gerakan spektakuler kelombok liberalisme. Bagi Marx, tidak ada bantuan terhadap negara berkembang yang sejati, selalu dibaliknya ada eksplorasi kekayaan dan keuntungannya mengalir pada negara pemberi bantuan. Penghisapan kekayaan sudah terencana dengan halus dan sistematis dari bantuan itu.
Anulisr-anulir teori pembangunan mulai dari teori modernis sampai teori sistem dunia, selalu memberikan temuan dan analisis yang serupa. Kesimpulannya, selagi dunia ketiga masih bergantung pada negara maju, maka selama itu negara-negara berkembang berada dibawah bayang-bayang kemsiskinan dan penghisapan-pengisapan kekayaan.
Untuk mengatasi kondisi seperti ini, tidak ada jalan lain bagi negara-negara berkembang selain melakukan peng-cut-an terhadap kebergantungan bantuan dari negara-negara maju. Negara-negara berkembang mesti membuat kebijakan yang “cerdas” untuk kepentingan bangsanya.
Apalagi, saat sekarang ini dengan menggelindingnya globalisasi yang menawarkan sistem neoliberalisme, maka negara-negara berkembang semakin mengalami peminggiran-peminggiran ekonomi akibat “produksi” negara-negara maju yang melintasi ruang tanpa batas dan tidak mengenal waktu. Maka pertahanan-pertahan negara berkembang perlu ada, salah satu pertahan yang akan dibangun oleh negara-negara berkembang menurut Giddens adalah, mewujudkan sistem pemerintahan tanpa musuh. Yaitu membangun sistem pemerintahan yang disokong oleh masyarakatnya dan mampu berdialektika dengan dunia luar.
Apalagi sekarang ini dunia menjadi “landasan pacu” ekonomi dunia-dunia kuat. Hanya memikirkan bagaimana untuk memenangi pertandingan ekonomi. Oleh sebab itu, kata ekonom J.K Galbraith dalam bukunya Culture Contentment orang-orang kaya dalam dunia kompetitif sekarang tidak menjadi tertarik terhadap orang miskin. Artinya adalah, negara-negara maju tidak akan mempertimbangkan lagi kemiskinan dan keterbelakangan dalam setiap proyeknya di negara yang diberi dana pembangunan. Realisasi proyek negara-negara maju lebih diwarnai alasan keuntungan ekonomi.
Ketika IMF menjadi pemasok dana ke Indonesia, jawaban yang jelas bagi kita untuk membenarkan tesis JK Galbraith, Perkins dan Marx. Memang bantuan modal asing tersebut menjadi pesakitan yang mengacaubalaukan sistem ekonomi di Indonesia.
Oleh sebab itu pemiskinan di negara-negara di dunia ke tiga tidak selalu diakibatkan oleh tradisionalnya sistem di negara ketiga tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh masuknya sistem asing mengintervensi negara dunia ke tiga. Intervensi yang lebih dominan bermain dalam ranah modal, merupakan suatu gerakan kolonialisme baru dalam dunia kontemporer sekarang ini. Inilah yang harus dicermati dan dihati-hatikan oleh negara-negara penerima donor.
DINAMIKA SOSIAL
Oleh: Silfia Hanani
Sudah hampir 9 tahun gerakan reformasi melintas di bumi persada Indonesia. Perubahan-perubahan telah begitu banyak terjadi, namun selalu menghadapi perangkap dilema yang kursial, sehingga krisis dan fenomena pesakitan sosial tidak kunjung tercampakkan di negara yang berpenduduk lebih kuran 220 juta jiwa ini.
Potret buram dan kusam masih akrab melekat dalam realita masyarakatnya. Kemudian kesengsaraan-kesengsaraan yang bertubi-tubi pun ditimpakan oleh pemerintah ditengah dunia yang suram itu. Lihat saja, fenomena yang terjadi dibalik kebijakan pemerintah menaikkan BBM (bahan bakar minyak), dimana ekonomi masyarakat semakin terdesak kepinggiran jurang kemiskinan. Subsidi yang dijanjikan pun tidak kunjung memulihkan kesejahteraan masyarakat, malahan hanya sebagai open ended untuk menenangkan gunjingan masyarakat atas kenaikan harga tersebut.
Dilema kemiskinan ini, telah merenggut kewarasan masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Kefurutasian telah dilampiaskan dalam bentuk yang beragam, malahan belakangan ini marak kita simak tentang trends suicide bunuh diri atas dasar ketidak mampuan menghadapi realita kehidupan. Anak-anak SD pun telah ikut memilih mengakhiri kehidupan dengan cara suicide tersebut dengan gantung diri. Inilah sebuah fenomena yang malang melintas ditengah-tengah kehirupikukan tatanan ekonomi menara gading.
Kekuatan teori neoliberalisme yang dipupuk oleh pemerintahan, tidak banyak membawa perubahan yang signifikan terhadap pegentasan kemiskinan. Sistem ekonomi neo liberal masih saja memberikan keuntungan sepihak. Oleh sebab itu, dalam pandangan ekonom, seperti John Perkins neoliberalisme dalam dunia ketiga bukan jalan keluar untuk reinventing atau pemulihan, tetapi sebagai perangkap pemiskinan.
Jika demikian adanya, maka kekuatan ekonomi neo libealisme yang ditata oleh tim ekonom SBY sulit diharapkan sebagai the end of history kemiskinan. Potret kemiskinan masih menganga dalam lingkaran setan kekuatan ekonomi yang tidak memihak perubahan nasib rakyat. Endless kemiskinan entah kapan akan berakhir, apalagi sekarang ini dengan tidak adanya kita dengar “proyek” rancangan pengentasan kemiskinan yang cergas dan cerdas, baik ditingkat pemerintahan nasional maupun lokal. Maka diprediksikan kualiti hidup bangsa Indonsia akan semakin jauh tertinggal.
Harapan Yang Kandas
Memang reformasi telah kita sepakaiti adanya, tidak dapat kita tolak lagi. Penyesalan yang tersisas sekarang adalah, mengapa pengisian reformasi ini selalu membawa kekecewaan-kekecewaan sosial yang begitu mendalam. Optimisme reformasi kini berada dalam teras pendulum yang gamang, sehingga semunya berjalan dalam sistem trial and error.
Sistem pemerintahan yang berubah dan berjalan dari revisi ke revisi pun belum mengagihkan dampak yang signifikan terhadap kemakmuran dan kesejateraan masyarakat. Buktinya, negara kita masih saja tercatat sebagai negara yang terpuruk, jika dilihat dari berbagai perhitungan-perhitunga yang dilakukan, misalnya saja laporan yang dikeluarkan oleh Transparency International, negara kita masih merupakan negara no 7 terkorup daripada 120 negara, kemudian jika dilihat hasil laporan Development Report yang dikeluarkan UNDP menempatkan Indonesia di posisi 110 dari 173 negara di dunia (hingga Indonesia berada di bawah Philipina, Cina, dan bahkan Vietnam). Kemudian dilihat pula peringkat indeks kinerja Foreign Direct Investment (FDI) dalam World Investment Report (WIR) menempatkan Indonesia pada urutan 138 dari 140 negara di atas Gabon dan Suriname.
Maknanya semua adalah, sebuah lembaran kekecewaan yang melintas ditengah-tengah harapan yang meluap. Kematangan, institusi dan pemerintahan kita belum teruji sebagai pialang reinventing. Masih berada dalam kultur-kutur tradisional yang terkooptasi pemikiran-pemikiran parsial, sehingga nasib bangsa berada dalam tarik ulur kepentingan-kepentingan. Termasuk antara kepentingan pemerintah daerah dan pusat, kepentingan politik dan partai dan sebagainya. Dan nasib rakyat sendiri terbiar dalam lembah yang suram dan tidak terjamah oleh tarik ulur kepentingan tersebut.
Wajar, masyarakat akar rumput melampiaskan kefrustasiannya dengan berbagai cara, dan tidaklah aneh rasanya lagi, suicide atau bunuh diri semakin menjadi pilihan popular daripada mereka, sekali pun para mubaligh telah mengumandangkan bahawa bunih diri merupakan cermin kelemahan iman.
Mereka telah dikorbankan oleh sistem dan tidak tahu lagi cara untuk menggagas kehidupan, semuanya sudah pengab dikelilingi oleh sistem-sistem yang tidak berpihak padanya. Mngkin bunuh diri senjata orang-orang kalah dan terpinggirkan yang anomik sekarang ini.
Nampaknya untuk mengusir kefrustasian ini pemikiran Hatta, Mubyarto dan kalangan sosialis kanan lainnya, perlu dipertimbangkan kembali untuk memulihkan masyarakat yang kandas ini. Ekonomi masyarakat akar rumput perlu diberdayakan dengan pendekatan-pendekatan yang kooperatif, sebagaimana yang pernah digagas oleh tokoh-tokoh tersebut. Terimakasih.
Sunday, March 30, 2008
Saturday, March 29, 2008
MABUHAY "PHILIPINNA
Oleh: Silfia Hanani
Philipina merupakan salah satu negara anggota Asean, yang pernah dipimpin oleh dua orang presiden perempuan(Aquino dan Aroyo). Negara yang mempunyai panggkalan Amerika Serikat di Subbic ini, juga pernah dipipin oleh seorang presiden ditaktor Ferdinand Marcos. Kini negara dunia ketiga ini sedang menapak masa depan penuh dengan cabaran, tidak jauh berbeda dengan negara kita Indonesia. Philipina juga tengah mengalami pasang surut politik dan krisis ekonomi. Oleh sebab itu, jika kita menjelajahi setiap sudut negeri di Philipina hampir sama sosok sosial ekonomi kehidupan masyarakatnya.
Mobilasi penduduk ke kota juga cukup besar, kerana kosentrasi pembangunan ekonomi, pekerjaan dan sebagainya masih terpusat di kota, sebagaimana halnya dialami oleh negara-negara berkembang lainnya di dunia ini. Oleh sebab itu, wilayah urban dan fenomena slam mengentara, seperti disaksikan dengan jelas di kota Manila sebagai ibu kota Philipina.
Kemajuan-kemajuan pembangunan dalam kota Manila terutama infrastrukturnya, juga berjalan dengan lamban. Tidak sekencang negara-negara anggota Asean lainnya, seperti Malaysia atau Singapur.
Kota Manila, masih kentara dengan potret kehidupan yang buran. Masih jauh perjalanan dan perjuangan yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk mendongkrak kemakmuran dalam kota ini.
Kemiskinan masih bertumpuk dalam kota, gubuk-gubuk reot dan gelandangan mereja lela disetiap sudut kota, sehingga keganasan kota dengan segela kultur kemiskinannya menggelinding dalam peradaban kota Manila. Ketika itu pulalah ada keluhan-keluhan “ibuk kota” ganas dengan kehidipan.
Kondisi perkotaan negara-negara ketiga yang fenomenal tersebut oleh Johns Perkins tidak lepas daripada imbas intervensi ekonomi, politik, dan budaya negara maju yang disepakiti diterima oleh pemerintahan negara ketiga. Tidak ada bantuan sejati dari negara maju untuk kemajuan negara berkembang, yang ada disebalik itu adalah kolonialisme yang menjalar mengisap negara ketika itu sendiri.
Transformasi sosial tidak akan bergerak dengan cepat mencerahkan masyarakat negara ketiga. Pencerahan akan tetap berpihak pada negera-negara maju yang “sok pahlawan” di negara-negara berkembang. Begitulah John Perkins, menerangkannya dalam confessions economic hit man.
Kondisi kota Manila yang fenomenal ini, boleh jadi sebagai akibat daripada apa yang dikatakan oleh John Perkins tersebut, masalahnya negara ini terlalu yakin dengan bantuan dan intervensi asing. Kita bisa lihat melalui kasus pangkalan AS di negara tersebut. Pangkalan Subbic yang megah dan serba kecanggihannya, ternyata semuanya itu tidak memberikan imbas kehidupan disekelilingnya yang seimbang dengan apa yang berlaku dalam pangkalan itu. Masyarakat tetap saja tradisional, miskin dan bergubuk reot.
Realita ini dapat kita saksikan jika mendarat di lapangan terbang internasional Clark Diasdado Macapagal, sebuah lapangan terbang yang dekat dengan pangkalan tentara AS di Subbic. Jaraknya dengan Manila sekitar 70 km atau 2 jam perjalan dengan taxi.
Jika dari lapangan terbang ini melanjutkan perjalan ke Manila, kita menyusiri perjalan yang berhampiran dengan Subbic. Lihatlah dikiri kanan jalan, kehidupan masyarakat masih terlihat dalam garis kemiskinan, rumah hunian masyarakat masih banyak ditemukan jauh dari keidealan kesehatan.
Tranportasi kota sembrut
Memang secara properti negara manila tidak begitu terkenal sebagai kota wisata, tidak setenar kota Bangkok, Jakarta, Kualalumpur dan sebagainya. Tidak ada pula promosi-promosi wisata ke kota ini begitu gencar. Dari situ, kita paham bahwa kota Manila memang bukan dipromisikan sebagai kota wisata dan kota shoping, mengingat kondisi perkotaan yang serba fenomenal.
Mabuhay(selamat datang) di kota Manila memberikan kesan yang tidak harmonis dan kontriversial. Kota Manilai bising oleh transportasi yang sembraut, liar dan ugal-ugalan.
Banyak sarana transfortasi dalam kota tapi kurang tertib dan teratur. Antara transportasi kota itu adalah jeepney(angkutan transfortasi khas Philipina, gayanya tradisional), tricycle(kendaraan roda dua yang diformat menjadi becak), taxi mulai dari resmi sampai taxi gelap dan kreta api cepat.
Kreta api cepat, pada pagi hari juga ketika pergi dan pulang kantor penuh sesak. Kereta ini menjadi alat transportasi handalan bagi pekerja. Kerena cepat, tidak macet, nyaman lagi.
Berbeda dengan jeepney, banyak kesalnya jika kita menumpang kendaraan ini. Selain macet menghadang, kondisi dalam jeepney yang kurang nyaman. Pertama, kendaraan ini tidak punya knek, bayar ongkos sistem berantai, tolong menolong sehingga uang bayaran sampai pada sopir. Setiap orang yang baru naik pasti bilang “bayad” berati dia mau bayar, dan sekaligus minta tolong disampaikan uangnya ke sopir. Kondisi yang seperti ini, menyebabkan tidak nyaman dalam jeepney. Kedua, Kononya dalam jeepney sering terjadi copet.
Ketiga sopir jeepney banyak yang “nakal” jika kelihatan orang asing, uang kelebihan ongkos sering tidak dikembalikan, atau dia minta tambah ongkos dari tarif resmi. Biasanya dia menandakan orang asing, melalui jumlah uang yang dibayarkan untuk ongkos, kalau yang membayar bukan dengan uang pas itu berarti orang asing. Uang tidak akan ada kembaliannya, kelebihan ongkos tersebut di diamkan saja. Jika mau memanfaatkan jasa jeepney di kota Manila sediakan uang pas buat “bayad”(bayar) ongkos.
Tarif angkutan lainnya, seperti taxi, dan tricyle lebih “kualat” lagi, sopir minta seenaknya. Tarifnya gila-gila ditawarkan, jangan malu-malu menawar serendah-rendahnya. Masalahnya itu tradisi para sopir-sopir angkutan di kota Manila. Sulit yang menawarkan ongkos yang berpatutan.
Style kota metropolis
Manila merupakan kota metropolis yang sudah dapat ditebak style kehidupan di dalamnya. Selain diwarnai dengan kultur kemiskinan juga berkabolarasi styel hedonisme kota yang full dunawiah. Konsumerisme juga melandanya, mall-mall menjadi sasaran untuk melampiaskan “keduniawiahan” tersebut bagi kebanyakan kalangan. Disamping itu “hedonisme” lainnya seperti di hotel, bar dan café-café yang berkaroke dan dingin-dingin empuk menjamur pula di sini.
Salah satu pusat shoping yang terkenal di Manila adalah Megamall. Di sinilah banyak lautan manusia, dengan beragam aktivitas. Mulai dari cuci mata sampai bersantai-santai sambil ttm(teman tapi meksum), sedangkan shoping boleh jadi belakangan.
Malam hari, kawasan ini semakin ramai. Perempuan-perempuan jelita berpakaian minim berkeliaran. Gaya metropolis dimalam hari semakin lengkap bermetamarfosis dengan temaramnya kerlab-kerlib lampu malam kota.
Café-café karoke berserak diaman-mana, ada yang buka malam saja dan ada 24 jam. Kelas kafe ini mulai dari kelas berdasi sampi pada kelas pemulung, ada dalam kota. Suasana cafe bisa disesuaikan dengan tebal tipisnya kocek.
Di café-ckafe ini bebas, tidak bakal ada razia. Kota Manila surganya hiburan masyarakat, silakan pilih tempatnya. Yang penting ada uang, seribu satu kenikmatan kota akan dapat dinikmati.
Manila pengap dengan polusi bau
Di samping itu, kesan kota Manila yang lain adalah semerbak bau yang mengambang terus. Bau “kencing” alias pipis sulit untuk dihindari. Setiap sudut kota aroma yang satu ini selalu menghantui penciuman. Populasi bau di kota Manila sangat menganggu kenyaman.
Toilet-toilet umum jarang dijumpai. Kebersihannya pun tidak terjaga Mungkin faktor kelangkaan dan kebersihannya yang tidak terjaga ini, kencing dimana-mana menjadi alternatif dan kemudian terbudaya bagi masyarakat kota.Persoalan ini belum menjadi perhatian serius oleh dinas kebersihan kota Manila.
Populasi bau ini, menambah presen negative terhadap kota Manila. Sebelum budaya “kencing” sembarangan ini mengandemi dalam masyarakat kota pihak pemerintahan kota semstinya secepatnya untuk mengatasinya, masalahnya jika sudah mentradisi sulit lagi mengubah prilaku masyarakat yang jorok tersebut.
Tradisi merekok yang belum terlarai
Malaysia dan Singapura sudah punya aturan main merekok. Tidak boleh lagi mengisap nikotin di tempat-tempat umu. Kemudian di Jakarta sudah pula dimulai, sebagai langkah awalnya dikeluarkan peraturan daerah DKI no 2 tahun 2005, tentang pelarangan merokok di tempat-tempat umum. Di kota Manila belum ada aturan-aturan soal ini, kebebasan merokok masih menjadi milik siapa saja dan dimana saja.
Asap rokok berseleweran di mana-mana, yang merokok bukan saja kaum laki-laki, perempuan dari berbagai umur pun seenaknya mengisap rokok dikeramaian. Merokok sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat kota mentropolis ini.
Memandang kondisi sosio ekonomi masyarakat kota Manila yang pas-pasan, semestinya mereka sadar terhadap uang yang dibakarnya, masih banyak keperluan yang harus dipenuhinya. Tapi sayang, logika-logika itu terkalahkan oleh candu rokok yang telah melilit.
Kempanye-kempanye anti rokok juga tidak begitu marak. Simbol-simbol dilarang merokok jarang dijumpai. Pemerintah pun belum nampak mempunyai perhatian yang signifikan tentang ini, mungkin masih ingin menikmati pajak dari produksi rokok tersebut.
Rizal Park yang belum ada nyali tourism
Salah satu objek wisata dalam kota Manila adalah objek wisata Rizal Park, sebuah objek wisata lapangan luas. Lebih nikmati mengunjungi tempat ini pada sore hari. Kalau siang cukup panas dengan terik matahari.
Rizal Park, belum banyak disentuh oleh “nyali” konsep tourism. Di sini kita hanya menemui gerai-gerai kaki lima menjual minuman kaleng dan makanan ringan. Tidak ada sovenir-sovenir dijual oleh pedagang di sini.
Di samping itu, penjual jasa potret photo selalu mengintai pengunjungnya untuk dapat membeli jasanya. Pemotret ini gigih dan selalu merayu sampai jasanya terjual. Dia akan selalu mengikuti pengunjungi.
Objek wisata ini pada siang hari, banyak dijadikan sebagai tempat singgah masyarakat kota. Tempat istirahat masyarakat dari keletihan aktivitas kota. Di bawah-bawah pohon taman yang rindang ada yang tertidur, jangan heran menjumpai manusia bergelimpangan di sini. Di samping itu ada pula aktivitas wong cilik memainkan kartu remi, boleh jadi mereka bertaruh.
Tidak jauh dari tempat ini, ditemui pula sebuah perpustakaan nasional Philipina. Di hadapan gedung ini ramai gerombolan manusia pencari kerja. Sejumlah iklan lowongan pekerjaan diosong oleh agent-agent pencari kerja, kalau berminat tinggal mendaftar padanya. Dari potret itu dapat pula ditangkap, bahwa kota Manila menyimpan banyak pencari kerja. Tentu pengangguran cukup signifikan pula jumlahnya dan sekaligus menjadi polemik bagi pemerintahan.
Santa Cruss dan perkampungan Muslim
Masyarakat negara Asean yang satu ini lebih dominan beragama Kristen. Oleh sebab itu, kultur dan simbol-simbol agama ini sangat kuat melekat dalam tradisi masyarakatnya. Atribut-atribut agama ini sangat banyak dijumpai di toko-toko dan di gerai-gerai kaki lima.
Tidak itu saja, di tengah-tengah kota Manila berdiri gereja yang cukup besar dan selalu melayani doa untuk pemeluknya. Kawasan ini dinamakan dengan Santa Cruss. Di sekitar gereja ramai pedagang kaki lima mengasong dagangan berupa atribut-atribut keperluan berdoa di gereja.
Tidak jauh pula dari kawasan Santa Cruss, dengan berjalan kaki sekitar 15 minit akan dijumpai perkempungan Muslim, kawasan ini di Quaipo. Di sini atribut-atribut muslim dijual, pakaian muslim sampai pada sovenir Islam ada di kawasan ini. Bagi pelancong Islam, tentu di kawasan ini merupakan tempat yang aman untuk makan minum di restoran. Orang Islam di Manila tidak boleh makan minum di restoran sembarangan, kerana hidangan babi selalu tersedia. Pemilik restoran tidak akan pernah memberi tahukan, bahwa menunya tidak boleh disantap oleh umat Islam.
Di perkampungan muslim ini berdiri pula sebuah masjid namanya Golden Mousque. Masjid ini dilengkapi oleh sebuah perpustakaan dan terbuka untuk umum. Dari masjid inilah menggema azan setiap waktu shalat dating. Perkampungan ini bagi orang Manila disebutnya dengan Moslem Area.
INDON, NO! NO!
Oleh: Silfia Hanani
“Dari Indon ke?” begitu sapa seorang petugas imigrasi Malaysia sambil membalik-balik halaman paspor seorang asal Indonesia ketika melalui pemerikasaan di lapangan terbang antar bangsa negara jiran ini. Kerena tidak tau maksud kalimat itu si pemegang paspor bertanya ”what ?”.
” Bapak dari Indon ?” begitu petugas imigrasi menjawab.
” Tidak, saya dari Indonesia”. Jawab orang Indonesia yang pertama kali mengunjungi negara yang banyak disamun oleh pekerja kita ini.
Sambil menekan stempel di paspor, petugas migrasi itu mengajukan pertanyaan satu lagi ”kad mana di Indon?”. Pemilik paspor bingung lagi, kemudian dia kembali berbalik betanya kepada petugas imigrasi yang sok komunikatif tersebut. ”Maksudnya ?”.
”Di mana di Indonesia?”
”Di Jakarta” Jawab pemegang paspor Indonesia ini dengan enteng.
Sampai di luar bandara petugas jasa transportasi bertanya dengan ramah pula ”Éncik yang dari Indon, nak kemana ke?”. Pertanyaan ini tidak begitu dihiraukan dan mencoba mencuekinnya. Tetapi penjual jasa tetap menggasak”Encik nak kemana, apa ada yang ambil?”. Maksudnya hendak kemana, apa ada yang menjemput.
Dengan agak sedikit mengerutu, dijawabnya juga ”Saya disini saja, Insya Allah tidak ada yang mengambil, sebentar lagi adik saya juga datang”. Yang dimaksudkan mengambil oleh orang Indonesia ini adalah diculik, sedangkan oleh orang Malaysia menjemput. Terjadi pemaknaan yang berbeda. Walaupun demikian, si penjual jasa dapat memahami maksud dari kalimat tersebut, sehingga ia tidak lagi meruntut pertanyaan. ”Oo... Encik ada yang menjemput?” Ujar si penjual jasa sambil berlalu.
Kemudian seorang ibu muda yang sejak tadi berdiri di sampingnya, menyapa pula dengan logat Malaysia ”Bapak Indon ke?”.
Tidak dijawabnya. Laki-laki itu terus saja mengutak-ngatik telepon bimbit alias hp warna hitam yang tidak lepas dari tangannya itu.
Namun, ibu muda yang berprofesi sebagai TKW ini tidak tinggal diam dengan pertanyaannya yang tidak dijawab itu. Ia coba mengulas pertanyaan petugas imigrasi yang didengarnya ketika pemeriksaan, ”Tadi saya dengar Bapak dari Jakarta, berarti Bapak orang Indon sama dengan saya”.
”Indon?” Tanya Bapak itu dengan nada yang agak keras.
” Ya Indon !” kata TKW yang baru saja balik dari kampung halamannya di Surabaya ini. Si TKW terus menjelaskan, Indon itu Indonesia. ”Jadi Bapak Indon”.
Si TKW yang sok akrab ini, juga menguber pertanyaan pada lelaki yang duduk di sebelahnya, ”Mas! Juga Indon kan?”.
Wah! Dengan ketus lelaki setengah baya ini mejawab ”Indon sudah meninggal, tau!”. TKW yang sambil menunggu dijemput majikan ini jengingir mendengar jawaban tersebut. Yang jelas dia tidak tahu arti dibalik jawaban yang ketus tersebut. Laki-laki yang tidak suka dengan sebutan Indon ini nampaknya tahu maknanya, sehingga dia marah ketika mendengar kata tersebut di ungkapkan. Baginya Indonesia harus disebut Indonesia, bukan Indon.
Sebenarnya kata Indon sudah lama menjelma di Malaysia. Konon pada mulanya digunakan untuk memanggil pekerja kasar Indonesia yang mengadu nasib di negara bekas jajahan Inggris ini. Kemudian makna kata ini melebar, sehingga Indonesia dipanggil Indon dan tidak dipanggil Indonesia. Pada hal dalam atlas dunia tidak ada satu kata pun yang ditemukan kata Indon. Etnis China Malaysia pun ketagihan dengan kata Indon ini, simak misalnya kalimat berikut ” You Indon mesti kerjas keras haa...supaya boleh kirim uang kad Indon!” Artinya, kamu orang Indonesia harus bekerja keras supaya dapat mengirim uang ke Indonesia.
Kata Indon ini masih bertahan sampai sekarang. Pekerja-pekerja Indonesia yang tidak mengetahui asal-usul kata ini, terbiasa menyebut dirinya Indon dan sangat jarang terdengar memakai kata Indonesia.
Surat kabar di Malaysia ikut pula memakai kata Indon ini. Lihat misalnya kepala berita surat kabar Indon curi tanah atau pelaku kejahatan pemegang paspor Indon, ada pula Indon curi budak dan pendatang haram dari Indon dan sebagainya. Kata Indon telah menggelandang di negara jiran ini.
Orang Malaysia memang doyan membuat singkatan terhadap sesuatu negara, misalnya kepada orang Bangladesh dipanggilnya Bangla dan Thailand dipanggilnya Thai. Tetapi mengapa Singapura tidak dipanggilnya Singa atau Philippina tidak dipanggil Philip atau negara lainnya. Khusus Jepang hanya dipanggilnya Jepun.
Untuk kasus Indon kata ini terlahir dari sejarah tersendiri dan mengandung pencitraan yang buruk. Agak bertendensi perkulian. Pencitraan kata itu tentu cukup mengganggu rasa nasionalisme kita. Oleh sebab itu kata Indon yang sudah terlongsong (kebabalasan) direkonstruksi oleh orang Malayasia ini, perlu kita konter dengan kampanye yang berani mengatakan ”Indonesia yes! Indon no!.” Indon bukanlah Indonesia. Terimakasih.
PERADABAN
Oleh: Silfia Hanani
Situasi dunia tengah berada dalam pergumulan kontroversial dan bergerak berlawanan dengan harapan yang dicita-citakan. Dunia diwarnai oleh adegan-adekan yang paradok dan tidak memihak kemanusiaan. Projek kemanusiaan dan civil society nampak begitu jelas gagal menyelamatkan bumi dari pertumpahan darah. Akhirnya, hidup di era global penuh dengan cengkraman pembinasaan dan pemusnah manusia.
Tradisi-tradisi lama yang kita caci dan ejek ternyata termanifestasi lagi di era ini, sehingga perang menjadi tradisi yang tidak berkesudahan di bumi manusia ini. Sayang! Kita tidak sanggup menghentikannya dan membiarkan membunuh manusia dengan mesin yang sophisticated (canggih) itu. Inilah sebuah tradisi kemanusiaan yang paradok di suguhkan pada era sejagat.
Oleh sebab itu peradaban global bukanlah peradaban yang sejatinya memelihara kemanusiaan, tetapi peradaban yang mencetus keangkaramurkaan yang ditopang oleh perebutan hodonisme sebagaimana telah dijelaskan oleh Hantington dalam tesis the clash of civilization yang dipublikasi pada tahun 1993 lalu. Peradaban global diwarnai oleh perseteruan kekuasaan dan kekuatan yang mudah melabrak rambu-rambu kemanusiaan. Tidak kalah, Huntington telah membawa kita memahami globalsasi ke dalam arena yang pesimistis. Kehidupan diwarnai dengan perseteruan clash sehingga dunia menjadi laboratorium adu kekuatan antara etnis. Etnis-etnis yang lemah akan terancam nasibnya. Etnis-etnis kuat bangkit dengan berpesta pora mengacak-acak sistem dunia dan lahap memperebutkan bongkahan hedonisme global. Makanya pada era global ini, perang belum usai dan civil society masih berada dalam bayang semu. Kekuasaan dan kepentingan begitu kuat meminggirkan hukum universal.
Oleh sebab itu, Fijrof Capra tidak setuju memberikan satu kesimpulan yang permanen terhadap peradaban. Baginya tidak ada peradaban di dunia ini yang melaju tanpa cacat. Peradaban selalu bergerak dan tidak luput dari proses daur ulang, sehingga peradaban lama termanifestasikan kembali. Tidak hayal tradisi-tradisi perang ala babar yang kita caci maki bangkit lagi dalam era global, sehingga potret peradaban global tidak luput dari peperangan juga. Khaldun berpendapat hampir sama dengan Capra. Menurutnya peradaban bergerak seperti bandul jam yang berulang alik mencari bentuk, tetapi dalam proses pencarian bentuk itu tetap saja berbalik pada tradisi yang telah ditinggalkan berabad-abad lamanya. Makanya di era global ini, kita sedang mengalami adegan pengulangan tradisi-tradisi lama itu, sehingga peradaban manusia modern sekarang ini diwarnai dengan tradisi-tradisi lama yang telah dicacinya sebagai tradisi yang tidak berperadaban.
Oleh sebab itu John Naisbitt, mengatakan era globalisasi adalah era peradaban yang paradok, seperti dikemukakannya dalam buku global paradox yang dipublikasikan pada tahun 1994. Dinamika paradok tersebut hampir muncul dalam setiap lini kehidupan manusia modern sekarang ini. Globalisasi juga dicitrakan sebagai dunia yang tidak pasti, seperti terlihat dari penjelasan Giddens dalam the third way the renewal of social democracy. Menurut Giddens globalisasi adalah juggernaut, yaitu truk besar yang melaju dengan kencang tanpa dikendalikan, sehingga pada era global ini dunia sedang mengolah peradaban di atas roda-roda gila serba tidak menentu, semua kita diminta untuk mencari jalan ke luar agar survive di tengah-tengah ketidakmenentuan itu.
Di sebalik itu, kita juga semakin menyaksikan di era global ini mahalnya harga humanisme. Peradaban global telah digentayangi oleh pluralitas yang penuh kekerasan dan tidak memihak nilai-nilai universal, sehingga humanisme terjungkal balik dalam kehidupan sosial masyarakat dunia. Malahan agama sekalipun tidak banyak hadir dalam menengahi permasalahan manusia, kerana telah dibawa ke dalam ranah kepentingan. Oleh sebab itu, agama terseret dalam peranan-peranan yang paradok. Akhirnya, potret kehidupan sosial global tidak luput dari warna chauvinistik.
Yang terlihat pula dengan kentara di era global ini adalah keeforiaan kaum-kaum yang mempunyai kekuatan dan kemenangan kelas borjouis kapitalis, sehingga sejarah dunia di era global ini telah berakhir di tangan kapitalis, seperti yang disimpulkan Fakuyama dalam The end of history. Tradisi dunia telah direkonstruksi di bawah hegemoni-hegemoni kapitalis. Kini yang tersisa untuk kita adalah mendiskusikan kemenangan kapitalis itu dalam wacana post kolonial dan mencoba merangka konsep ”berfikir global dan bertindan lokal”.
Politik paradok
Udara politik yang kita hirup akhir-kahir ini, memang tidak segar. Kebijakan politik internasional banyak terperangkap dalam lagu-lagu kepentingan. Begitu pula dengan politik lokal yang belum mampu memposisikan eksistensinya sebagai pencerah demokrasi, sehingga politik menjadi keranda pengusung clash yang menciptakan pertumpahan darah.
Politik paradok membuat dunia tidak nyaman dan aman. Ia telah membidani perang-perang yang spektakuler. Oleh sebab itu tidak heran John Muller berpendapat, bahawa perang menjadi salah satu isu globalisasi yang berkelanjutan di belahan dunia ini. Tidak ada kesepakatan untuk mengakhirinya, sehingga sejarah peradaban tidak luput dari peperangan dan pertumpahan darah itu.
Politik paradok tidak pernah berhenti dari kekerasan sebagaimana dijelaskan dalam buku The global agenda issues and perspectives yang dieditori oleh Kegley dan Wittkopf. Fenomena kekerasan itu dengan sangat jelas mewarnai kehidupan masyarakat diberbagai belahan dunia, sehingga civil society mengalami kebuyaran.
Mungkin, politik paradok ini akan menjadi embrio dan sekaligus membidani lahirnya revolusi sosial selanjutnya. Sebagaimana di ketahui sejarah revolusi pada umumnya selalu diawali dari tekanan-tekanan politik. Oleh sebab itu, kita sekarang sedang berada dalam ancangan babak sejarah dunia yang baru.
Bencana alam fenome global paradok?
Fenomena alam yang merata terjadi di belahan dunia ternyata telah diberi kesimpulan sebagai fenomena global. Oleh sebab itu, penduduk planet bumi sekarang ini sedang berhadapan dengan ancaman bencana alam dan tenyata bumi bukanlah bumi yang damai dan bersahabat.
Di Indonesia, mungkin masih segar dalam ingatan kita tragedi tsunami akhir tahun 2004 di Aceh. Kemudian diikuti oleh gempa bumi di Nias 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,2 SR di susul gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Tragedi alam tersebut telah meluluh lantahkan sebahagian Indonesia dan merenggut nyawa manusia yang tidak sedikit. Tidak berhenti di situ, dipenghujung tahun 2007 gempa bumi memporak porandakan pula Bengkulu dan Padang, kemudian akhir tahun 2007 dan mengawal tahun 2008, bencana banjir terjadi hampir merata diberbagai kawasan di Indonesia, sehingga bumi nusantra tidak putus dirundung bencana. Inilah potret persabahatan yang pradok antara manusia dan bumi di nusantara ini.
Kita perlu mempertanyakan, mengapa dinamika persahabatan bumi yang paradok itu terjadi. Pada hal bumi yang telah dihuni oleh banyak intelektual dan ilmuan ini, semestinya mewujudkan keharmonisan tetapi kenyataanya terbalik. Bencana alam menjadi fenomena global yang dipetik manusia di era sekarang ini dan bukan kedamaian yang dapat menjamin kehidupan manusia.
PERJALANAN MELAKA
Oleh Silfia Hanani
Melaka merupakan salah satu kota bersejarah di semenanjung Malaysia. Sepuluh abad yang lalu menjadi pusat perdagangan internasional. Dalam peta serajah duni, Melaka mempunyai arti dalam membangun ekonomi global. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari eksistensi Selat Melaka yang sudah terkenal sebagai laluan transportasi yang strategis. Malahan sampai sekarang, Selat Melaka masih saja sebagai salah satu pusat perairan yang tersibuk di dunia. Menurut laporan Gubernur Malaka (Ketua Menteri Malaka) Dt Seri Mohd Ali Rustam, setiap hari lebih dari 150 buah kapal besar yang lalulalang di selat Melaka. Kondisi selat Melaka yang demikian sudah barang tentu menjadi aset ekonomi bagi pemerintah Negeri (provinsi) Melaka.
Sumber ekononomi lainnya bagi pemerintah negeri Melaka adalah sektor parawisata. Sampai saat sekarang ini, pemerintah Negeri Melaka sudah mengembangkan sektor parawisata dalam dua belas paket parawisata, mulai dari parawisata sejarah sampai pada parawisata pendidikan. Sektor parawisata ini merupakan salah satu sektor ekonomi handalan bagi Negeri Melaka, mengingat negeri yang pernah diperebutkan oleh penjajah Protugis, Belanda dan Inggris ini tidak memiliki kekayaan hasil tambang, seperti minyak bumi dan galian hasil bumi lainnya. Oleh sebab itu tidak mengherankan, perkembangan parawisata di Melaka berlangsung dengan begitu cepat. Pemerintah negeri Melaka sangat serius mengembangkan sektor yang satu ini. Sekarang ini, pemerintah negeri Melaka juga melakukan penggalian tapak sejarah Melaka, sebagai salah satu usaha untuk membangunkan Melaka sebagai kota tujuan wisata yang bernuansa sejarah dan pendidikan.
Menjelang tahun 2010 ini, pemerintah Melaka berupaya keras untuk mencapai rancangan wawasan 2010nya, sehingga proses pembangunan di genjot dengan cepat, sehingga pembangunan insfrastruktur di negeri ”Hang Tuah” berjalan seiring dengan kecapatan waktu. Lihat saja misalnya, kemegahan pembangunan Melaka Sentral, pembangunan Melaka International Trade Center (MITC) sebuah pusat perdagangan internasional, KCA Digital Mall sebagai pusat perdagangan elektronil, Dataran Pahlawan Mega Mall, sebagai pusata perbelanjaan yang sangat indah, dan sebagainya. Infrastruktur negeri Melaka bergerak dengan cepat untuk mencapai wawasan 210 yang tinggal sekitar 3 tahun lagi.
Di samping mempercepat pembangunan fisik (infrastruktur), pemerintah Negeri Melaka juga melakukan pengembangan sumber daya manusia dan termasuk meng-ICT(Information Communication Technology)-kan semua lapisan penduduk. Pada tahun 2007 ini pemerintah Negeri Melaka telah menjalankan projek peng-ICT-an dengan memperkenalka dan melatih ibu rumah tangga dan para pensunan untuk dapat mengakses dan mengoperasikan internet. Menurut laporan kepala dinas informasi dan komunikasi pemerintah negeri Melaka, sampai Juli 2007 ini telah dilatih sebanyak 40 ribu orang lebih ibu rumah tangga dan pensiunan untuk mengenal internet. Implikasi dari pelatihan ini, telah terealisasi setiap rumah minimal mempunyai satu unit komputer yang dapat mengakses internet baik memakai jaringan telepon kabel maupun dengan WIFI (jaringan tanpa kabel).
Di samping itu, diberbagai tempat umum pemerintah Negeri Melaku telah melakukan kemudahan untuk mengakses internet, sehingga tidak mengherankan di mall, terminal dan tempat-tempat rekreasi di Melaka bisa mengakses internet tanpa kabel. Siapa saja bebas mengakses internet tanpa bayaran. Pemerintah negeri Melaka, sangat konsen dengan pengembangan ICT tersebut. Usaha dan upaya peg-ICT-an ini, merupakan satu langkah yang signifikan untuk membangun rakyat Melaka yang tidak cilek ITC, sehingga lepas tahun 210 rakyat Melaka menjadi rakyat yang sadar ITC dan berbagai urusan dijalankan dengan kemudahan ITC ini, seperti pembayaran rekening air, listrik, dan sebagainya rakyat Melaka tidak perlu antri ke bank atau konter-konter pembayaran.
Di negeri Melaka juga telah ditubuhkan (didirikan) pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis ITC, yang disebut dengan Inkubator K-Ekonomi. Sebuah pusat pengembangan ekonomi yang semuanya diolah melalui dunia maya atau cyber. Sarana ini sangat jelas tujuannya, untuk menglobalkan sektor ekonomi rakyat Melaka, sehingga sekecil apapun usaha ekonomi rakyat Melaka dipromosikan melalui dunia maya.
Selain berkonsentrasi dalam membangun Melaka yang tidak cilek ITC tersebut, pihak pemerintah Melaka juga telah menggenjot sektor pendidikan ini dengan cepat, dengan berbagai cara. Mulai dari pengembangan sekolah yang berkualitas sampai membangun perguruan tinggi berkelas internasional. Kemudian untuk membangun rakyat Melaka yang berpengetahuan, pihak pemerintah Melaka juga telah mendirikan rumah buku, seperti rumah buku dalam hutan taman botani Ayer Keroh. Rumah buku Melaka ini merupakan rumah buku ke tiga di Asia Tenggara dan ke 55 di Asia. Rumah buku, semacam perpustakaan yang bisa diakses oleh setiap penggunjung yang datang berekreasi.
CATATAN PERJALANAN KE NEGERI GAJAH PUTIH
Oleh:Silfia Hanani
Tahiland merupakan salah satu negara di kawsan Asia Tenggara yang nasibnya di alaf global sekarang ini tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sama-sama menghadapi multi krisis, krisis politik, ekonomi, sosial dan Budaya, sehingga potret sosial ekonomi masyarakat Thailand hampir sama juga dengan masyarakat Indonesia. Dalam tataran pemerintahan, sama-sama menghadapi isu korupsi, nepotisme dan kolusi. Isu ini pula yang menjatuhkan Thaksin Shinawatra dalam pemerintahan Thailand. Pasca kejatuhan Thaksin Thailand digoncang oleh krisis politik sampai berlakunya darurat meliter.
Krisis yang melanda Thailand tersebut, juga diikuti dengan perang antar etnis yang tidak kunjung reda. Konflik masih bernafas dan masih menjatuhkn nyawa manusia. Kawasan Thailand bagian Selatan masih belum aman, dan masih bergejolak.
Dengan keadaan yang demikian itu, tugas Perdana Menteri Surayut Chulanont yang terberat sekarang ini adalah menstabilkan kondisi politik, pemerintahan dan ekonomi Thailand, sehingga pemerintahan yang berkuasa sekarang ini mampu membawa transformasi masyarakat Thailand yang berjumlah 64.865.253 jiwa ini.
Walupun negara Gajah Putih tersebut mengalami berbagai gejolak, namun negara yang sedang dipimpin oleh Raja Bhumibol Adulyadej ini, tidak pernah susut dari pelancong, sehingga sektor pelancongan ini menjadi sektor terbesar penyumbang perekonomian Thailand disamping sektor pertanian.
Besarnya sumbangan sektor parawisata dalam perekonomian Thailand ini tidak terleas dari pada kebijakan pemerintah Thailand dan sekaligus hidupnya tradisi-tradisi masyarakat di Thailan, disamping adanya faktor ”kebebasan” yang sudah sangat terkenal.
Dari segi tradisi masyarakat Thailand yang dominan beragama Budha ini mempunyai banyak tradisi. Pada bulan April ini masyarakat negara gajah putih ini menggelar tradisi pesta penyambutan tahun baru Thailand. Pesta Happy new year Thailand tersebut merupakan salah satu agenda kunjungan wisata ke Thailand.
Happy new year masyarakat Thailand yang dijuluki dengan sangkron ini jatuh pada setiap tanggal tanggal 13 April. Tanggal 13 April 2007 ini, masyarakat Thailand memasuki tahun baru 2550, sebuah tahun yang jauh lebih dahulu daripada Masehi dan Hijriyah. Jika dibandingkan dengan tahun Masehi, maka tahun baru Thailand dahulu 543 tahun dari tahun Masehi dan mendahului 1122 tahun dari tahun Hijriyah.
Dengan demikian, Thailand sebagai salah satu masyarakat di Asia Tenggara telah menciptakan sebuah dimensi perhitungan waktu yang lebih dahulu daripada bangsa-bangsa lain di dunia. Hal ini tentu tidak dapat dipungkuri bahwa di kawasan ini ada bukti sejarah peradaban masa lalu. Bukti sejarah ini, merentang sampai sekarang dan abadi dalam peradaban masa kini. Setidaknya, kejayaan lokal masa lalu telah melahirkan satu sains yang beradagium kearifan lokal, sehingga masyarakat Thailand mempunyai perhitungan perguliran masa tersendiri, yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Proses penanggalan yang abadi dalam masyarakat Thailand ini, tidak dapat dilepaskan daripada peranan agama lokal dalam mendesaian dinamika kehidupan masyarakat. Agama lokal yang kental dalam masyarakat, pada kenyataannya telah merekontruksi sebuah tradisi dan ritualisasi, kemudian starting daripada ritual itu selalu dijadikan pijakan untuk proses selanjutnya.
Starting tahun baru Thailand barangkali dimulai dari sebuah proses ritual agama lokal, kemudian dijadikan pijakan penghitungan waktu dalam kelender lama Siam (Thailand sekarang). Sama halnya dalam proses penanggaalan tahun baru Hijriyah dalam agama Islam, ritualisasi perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah dijadikan starting atau awal dalam penanggalan tahun baru Hijriah.
Jika dielaborasi dari perspektif kata songkran sebagai nama tahun baru Thailand maka semakin jelas, bahawa penanggalan dalam kelender lama Siam (Thailand) dilatar belakangi oleh adanya persitiwa sejarah yang terjadi. Yaitu persitiwa sejarah pensucian diri manusia pada 2550 tahun yang lalu. Dari proses pensucian itulah lahir perkataan songkran sebagai sebutan untuk tahun baru masyarakat Thailand. Songkran mempunyai arti yang penyucian diri manusia, atau perpindahan dari yang tidak suci kepada yang suci, dari yang tidak baik menuju kebaikan dan seterusnya.
Oleh sebab itu tidak mengherankan, setiap kedatangan tahun baru bagi masyarakat Thailand berlangsung ritual akabar pensucian diri yang ditandai dengan ”perang air”. Air menjadi simbol, kesucian, kedamaian, ketentraman dan ketenangan, sebagaimana air itu sendiri mengalir dalam lembah yang sunyi. Makanya makna tahun baru bagi masyarakat Thailand adalah memasuki babak kesucian, meninggalakan babak kebobrokan, seabagaimana pengertian yang melekat pada perkataan sangkron, yaitu penghijrahan diri menuju pada duania yang lebih.
Perang Air Akbar
Perayaan songkran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan perang air. Setiap tahun baru datang, aktivitas perang air diseiapkan dengan begitu terencana oleh pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Tahiland memfasilitasi tempat-tempat untuk dijadikan arena perang air. Sebelem perang air dimulai dilakukan terlebih dahulu kegitan ritualisasi keagamaan, dengan memberikan penghormatan terhadap patung Budha. Patung Budha disiram dengan air kembang, oleh setiap orang dan memanjatkan doa dihadapan patung tersebut.
Usai itu, pesta pora perang air dengan guyur-guyuran baru dimulai satu hari penuh, masyarakat tumpah ruah dijalan saling basah membasahi. Senjata air yang mirip dengan senjata air mainan anak-anak dipegang oleh masing-masing orang, baik kecil, muda, tua, laki-laki atau perempuan. Dengan senjata air itulah rakyat berperang salaing ”tembak menembak” dimana air sebagai pelurunya. Siapa saja yang nampak di sekitar mereka ”ditembak” sampai basah kuyup, tidak ketinggalan penumpang tutuk(sejenis angkot) ikut diguyuri sampai basah.
Potret kota-kota di Thailand sepanjang hari tanggal 13 April tersebut berubah menjadi kota basah, karena semua orang berkostum basah. Masuk ke mall dengan pakaian yang basah pun tidak ada yang melarang, tidak ada kejanggalan dan keanehan berpakaian yang basah kemana-mana pada hari itu.
Selain pakaian yang basah, muka setiap orang juga diolesi oleh siapa saja dengan tepung powder yang dijual sepanjang jalan. Polisi-pilisi yang sedang dinas mengamankan jalannya pesta perang air itu pun ikut dibedaki, sehingga semua orang pada hari itu juga bermuka putih.
Tidak ada kemarahan pada hari itu, jika dibasahi dan dibedaki. Yang ada adalah kegembiraan bersama, untuk membangun tahun baru yang penuh harapan dengan kedamian, kesucian dan ketentaraman sebagaimana yang disimbolkan dalam perang air tersebut.
Sebuah peperangan yang tidak menyakitkan, tidak menaruh dendam kesumat, tidak membunuh, tidak merusah dan mengakramurkai, tetapi sebuah peperangan yang damai penuh dengan kesejukan dan ketentraman sebagaimanya sejuknya air mengalir di tubuh manusia.
Ajang Mencari Jodoh
Budaya perang air dalam rangka memperingati kedatangan tahun baru tersebut, juga sebagai ajang untuk mencari jodoh atau kekasih dikalangan remaja. Dalam pesta pora air itu mereka saling bertemu dan taksir menaksir, sehingga songkran layak pula disebut sebagai pertemuan ”akbar” bagi kalangan remaja.
Pesta songkran bagi masyarakat Thailand, memang sebagai pesta yang mendatangkan nikmat, karena pada pesta tersebut mereka melepaskan ”kekotoran” lahir dan bathin yang disimbolkan dengan air. Maka tidak hayal, pesta tersebut ditunggu-tunggu oleh remaja Thailand untuk mendapatkan seorang pendamping hidup yang ”suci”.
